Bantu Petani di Bandung Selatan


IMG-20171121-WA0010

Kebanjiran selfie di Bandung Selatan.

“Akibat lahan sawahnya terendam banjir lebih dari satu pekan yang lalu, para petani di Bojongsoang memanen padinya lebih awal. Meskipun usia tanamannya masih muda dan bulir padi yang belum sempurna. Hal itu dilakukan agar para petani tidak menanggung rugi lebih banyak”.

Petikan berita tersebut tertulis dalam salah-satu laporan di laman pikiranrakyat.com pada 13 November 2017. Dalam laporan tersebut ditulis, para petani mengaku tidak memiliki pilihan lain dan memilih memanen lebih awal daripada harus menanggung kerugian lebih besar akibat banjir.

Dampak bencana-bencana yang rutin seperti banjir di Bandung Selatan terhadap sektor matapencaharian memang kerap luput dari perhatian. Fokus penanganan biasanya tertuju pada masyarakat terdampak langsung yang mungkin sebagian sudah mengungsi. Responnya pun hampir sama, menyediakan hunian darurat, mendirikan dapur umum, dan seterusnya.

Sementara itu, saking rutinnya, masyarakat mungkin sudah semakin terbiasa hidup berdampingan dengan banjir. Mereka tidak lagi panik. Bahkan, di Bojongsoang, ada sebagian warga yang sudah berbulan-bulan tinggal di pengungsian. Banjir pun sudah bukan lagi kejadian alam yang luar biasa. Ada atau tidaknya bantuan dari pihak luar, tidak memberikan dampak yang signifikan. Live goes on!

Kalau membaca laporan yang tertulis di pikiranrakyat.com, kita dituntut untuk menukik lebih tajam pada sektor matapencaharian. Sebelumnya, kita cenderung menempatkan penanganan masalah matapencaharian pada fase pemulihan. Namun, perspektif itu hanya cocok untuk penanganan masalah kedaruratan akibat rapid-onset-disaster.

Namun, untuk slow-onset-disaster, seperti kasus banjir yang rutin di Bandung Selatan, penanganan sector matapencaharian justru yang harus didahulukan, mengingat gangguan utama akibat bencana ini justru dialami oleh sector matapencaharian. Jadi, tuntutan bagi pelaku respon adalah bagaimana bisa menyajikan sebuah strategi respon bencana yang mampu mengisi gap pada sektor matapencaharian pada situasi darurat?

Kita bisa membantu para petani itu mulai dari meningkatkan keterampilan individualnya dalam menghadapi bahaya banjir hingga meningkatkan kemampuan usahanya secara berkelompok dengan mengajarkan teknik manajemen risiko yang sederhana.

Kita juga bisa membantu dengan membangun semacam asuransi pertanian atau arisan bibit dan sarana produksi pertanian hingga melakukan advokasi kepada pemerintah dan stakeholder lainnya—seperti perbankan dan sektor lainnya—untuk menciptakan lingkungan yang memungkinkan mereka bangkit dan berdaya dari kesusahan.

Membantu petani-petani di Bojongsoang, di Dayeuhkolot, dan daerah sekitarnya di Bandung Selatan yang saat ini terendam banjir, sesungguhnya bukan hanya membantu mereka secara individual. Membantu petani di sana berarti membantu masyarakat di Bandung Selatan untuk mengamankan lumbung pangannya.

Kini saatnya, teropong kemanusiaan kita, kita arahkan untuk melihat lebih tajam suatu sudut persoalan yang barangkali belum banyak kita perhatikan; sudut matapencaharian.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s