Catatan Perjalanan Somalia


IMG-20170403-WA0012

Sebagian besar pengungsi akibat kekeringan adalah perempuan, anak-anak, dan lansia. Saya bertanya, kemana para laki-laki dewasa. Mereka menjawab, ada di desa untuk menjaga harta yang tersisa, sebagian lagi di kota menenteng senjata.

Ini adalah kali pertama saya datang ke Somalia. Ibarat makan cabe, kita baru tahu bagaimana rasa pedas itu saat kita menggigitnya, kita pun baru benar-benar tahu bagaimana rasanya di Somalia itu ketika kita berada di sini, di Somalia.

Begitu kita tiba di bandara Mogadishu, kita tidak bisa begitu saja melenggang keluar tanpa ada yang menjemput. Kita bisa mengajukan visa on arrival, namun itu pun harus dilampiri dengan dokumen yang dikirimkan mitra lokal ke pihak imigrasi yang berada di bandara.

Saya dengar dari teman sesama WNI yang kebetulan ketemu di Somalia dan sudah berulang-kali masuk ke Somalia, pernah ada wartawan salah-satu stasiun TV swasta nasional Indonesia yang tertahan hampir satu minggu di kawasan bandara karena tidak ada menjemput. Pernah juga ada salah-seorang aktivis NGO kemanusiaan Indonesia yang terpaksa kembali ke tanah air karena tidak bisa keluar dari lingkungan bandara.

Selain harus dijemput oleh petugas dari lembaga lokal, kita juga tidak bisa kemana-mana tanpa penjagaan aparat keamanan bersenjata. Setidaknya ada lima check-point militer yang harus kita lalui sebelum akhirnya keluar dari kawasan bandara. Kita bisa melalui check-point itu jika kita didampingi aparat bersenjata. Bahkan, untuk perjalanan dari kantor Zamzam Foundation ke Instanbul Hotel yang jaraknya ga lebih dari 50 meter, kita harus menggunakan kendaraan dan dikawal aparat bersenjata.

20170403_163647

Suasana di jalan-jalan raya seputar Mogadishu

20170403_151817

Pegang senjata

20170403_16193420170403_16223720170403_162622

Demikian juga saat kita hendak melakukan penyaluran bantuan di daerah Khadza, yang jaraknya kurang lebih 50 km dari kota Mogadishu, perjalanan dari hotel sampai ke kamp sudah pasti dikawal oleh aparat bersenjata. Kita berjalan dengan menggunakan dua mobil. Mobil pertama yang menjadi pendahulu diisi oleh tentara, mobil kedua diisi oleh kita, perwakilan zamzam foundation, dan satu personel dengan senjata laras panjang.

Mobil yang pertama bertugas membuka jalan dan kadang untuk melakukan itu, tentara-tentara di mobil pertama harus keluar dan mengarahkan moncong senjatanya ke pengemudi lain yang dianggap menghalangi jalan. Suasana yang saya pikir hanya terjadi di film-film action kayak blood diamond dan lain-lain, ternyata sebagian saya saksikan sendiri di sini.

Siang tadi (5/4), sebuah bom meledak di sekitar kota Mogadishu dan salah-seorang kerabat dari staff zamzam foundation yang membantu pelaksanaan misi kita dilaporkan meninggal dunia akibat ledakan itu. Rencana bersantai di pantai pun batal. Tidak hanya itu, proses kepulangan tim pun menjadi lebih ribet dari yang diperkirakan sebelumnya. Singkatnya, keamanan masih menjadi isu yang serius di sini.

*

Somalia sebenarnya sebuah negara yang kaya. Selain mengandung berbagai kekayaan mineral, posisinya yang strategis di gerbang laut merah yang menghubungkan ke terusan Suez dan perairan Eropa adalah potensi ekonomi yang luar biasa. Jika tidak dilanda peperangan, hampir mustahil negara ini terjerembab dalam kubangan kemiskinan, konflik, dan kelaparan yang berkepanjangan seperti yang kita lihat sekarang.

IMG-20170404-WA0022

Bangkai ternak yang mati karena kekurangan air, sebagian lagi karena diserang heyna. Sebagian warga mengaku, serangan heyna atas ternak mereka semakin meningkat seiring dengan kekeringan yang semakin panjang.

IMG-20170404-WA0026IMG-20170404-WA0027

Namun negeri ini sudah terlalu lama dicabik-cabik oleh konflik bersenjata yang tidak berujung kemudian dihantam oleh kekeringan dan krisis kelaparan yang kronis. Pemerintahnya tidak bisa tegak berdiri, selalu dihantui oleh konflik etnis yang tidak jarang berujung pada pergantian kekuasaan yang diiringi pertumpahan darah. Di mana-mana kita bisa melihat bekas-bekas goresan luka sejarah yang sebagian sudah bernanah dan harus diamputasi.

Lokasi pendistribusian bantuan kita berada di kawasan yang bernama Khadza. Di sana, sepanjang mata memandang adalah jajaran gubuk-gubuk yang dibangun dari ranting-ranting pohon yang dirangkai. Kain bekas dan terpal dijadikan penutup. Tidak ada fasilitas air bersih dan sanitasi. Kaleng bekas cat yang dipenuhi dengan pasir dan arang dijadikan kompor untuk memasak makanan.

Sebagian besar yang ada di kamp-kamp itu adalah lansia, perempuan, dan anak-anak. Hampir seluruhnya berasal dari desa-desa yang berada di sekitar Mogadishu yang sudah lumpuh akibat kekeringan. Mereka bercerita, tanaman pertanian dan hewan-hewan ternaknya sudah pada mati. Tidak ada air dan tidak ada makanan. Mereka terpaksa menyemut ke kota-kota demi bertahan hidup.

Di mana laki-laki muda dewasa? Sebagian masih di desa-desa untuk menjaga aset-aset yang tersisa, sebagian lagi ada di kota sambil menenteng senjata. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana bangsa ini bisa merangkai masa depannya? Kita tidak boleh pesimis. Namun memang, sudah pasti dibutuhkan upaya yang tidak sebentar untuk membuka lapisan-lapisan persoalan yang membebani dan menghambat para penerusnya.

20170406_100124

Pada saat hendak meninggalkan Mogadishu, setidaknya ada tiga kali pemeriksaan calon penumpang dengan menggunakan anjing pelacak. Ini adalah gambar anjing pelacak yang memeriksa barang bawaan penumpang sesaat sebelum masuk pesawat. 

*

Meski hanya beberapa hari saja saya di Somalia, namun pengalaman ini membuat saya semakin bersyukur bahwa kita hidup di Indonesia. Meskipun bangsa kita juga banyak masalah, namun apa yang kita alami di Indonesia tidak sebanding dengan beban yang saudara-saudara kita alami di Somalia. Saya tidak yakin ada dari kita yang pernah berharap untuk mengalami apa yang dialami saudara-saudara kita di Somalia.

Dan, diantara bentuk-bentuk ungkapan syukur yang terbaik, adalah dengan senantiasa bersedia mengulurkan tangan kita, membentang kebaikan, dan memelihara asa dan harapan saudara-saudara kita yang masih dilanda kesusahan.

Demikian. Wassalam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s