Bolehkah Saya Mengeluh? Sure, Why Not!


Suatu hari, seorang junior saya di kantor masuk ke ruangan saya dan bertanya.

“Kang, bolehkah saya complain?” Dia menghormati saya dengan panggilan Kang.

“Boleh, soal apa?” Saya balik bertanya.

Dia cerita panjang. Dia menyatakan keberatan terhadap salah-satu kebijakan yang saya ambil. Menurutnya, kebijakan itu tidak adil. Saya minta dia menjelaskan alasannya dan sesekali mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sekedar menguji keteguhan pendapatnya.

Terakhir, saya katakan padanya bahwa keputusan mungkin tidak tepat atau bahkan salah. Tapi keputusan itu sesungguhnya didasarkan oleh masukan dari banyak pihak. Memang mungkin tidak bisa menyenangkan bagi semuanya. Saya memintanya untuk memberikan kesempatan menguji keputusan itu. Butuh waktu, butuh proses, jika tidak sesuai pasti akan diubah.

Sebagai orang yang diberi amanah untuk memimpin sebuah tim, kejadian-kejadian tadi sering saya alami. Masalahnya pun beragam, mulai dari urusan pekerjaan sampai kadang-kadang masalah percintaan, dari masalah anak atau istri sampai masalah rumput tetangga. Ada yang saya dengarkan secara serius, ada juga yang sambil lalu. Ada yang saya respon dengan bercanda, ada juga yang terpaksa saya marahi.

Mereka pun demikian. Ada yang menerima feedback dengan baik, ada juga yang sakit hati.

Untungnya, jumlah personelnya tidak banyak sehingga secara umum saya bisa tahu masalahnya lebih detail. Dalam beberapa kesempatan, salah-satu atau beberapa diantara mereka sengaja saya undang untuk bercerita, memberikan feedback pada salah-satu atau beberapa keputusan. Dengan begitu, saya merasa bisa menjaga keseimbangan dalam organisasi.

Feedback, complain, grievance alias “curcol”—meskipun kadang bikin panas hati dan telinga—sesungguhnya setara dengan saran, masukan, dan segala hal yang kita sebut sebagai “kontribusi positif”. Feedback, keluhan, curcolan, dan lain sebagainya itu adalah nutrisi yang mungkin memang rasanya pahit.

Di “google” sana, banyak dokumen-dokumen atau kisah-kisah yang menceritakan kenapa kita perlu menampung keluhan. Ada yang namanya complain mechanism, feedback mechanism, whistleblowing system, ombudsman, dan lain-lain. Saya termasuk yang meyakini bahwa ciri utama sebuah lembaga yang punya kehendak untuk maju adalah adanya system penampungan keluhan yang kredibel, terpercaya, dan berwibawa.

Biasanya, mekanisme itu dibuka untuk menampung keluhan dari “penerima manfaat”.Tapi jangan salah, personel, karyawan, atau bawahan adalah juga para-pihak (stakeholder) lembaga, mereka pun berhak mendapatkan ruang untuk menyampaikan keluhan.

Mungkin kali ini, kita belum akan ngomong sejauh itu. Selama niat kita baik dan ada semacam kebutuhan dari diri kita untuk selalu meyakinkan diri dan menguji keyakinan diri agar senantiasa dibimbing untuk menghasilkan keputusan-keputusan yang baik, maka jangan ragu untuk menerima masukan, apapun itu, meski pahit.

Besok-besok, kalau kita punya kehendak untuk berkembang, omongan soal ini harus kita agendakan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s