Air dan Bencana Sehari-hari


496a0850-b09f-46b4-b68c-3a4dce63ff26_169
Horor sampah yang menyumbat Sungai Cikapundung, salah-satu penyebab banjir di Kabupaten Bandung. (Sumber Foto: detik.com)

Tema hari air sedunia yang jatuh pada tanggal 22 Maret tahun ini adalah “air dan pekerjaan”. Menurut PBB, tidak kurang 1,5 milyar atau dari setengah dari jumlah pekerja di dunia bekerja di sektor-sektor yang terkait dengan air. Jutaan orang yang bekerja di sektor terkait air. Mereka tidak hanya kerap tidak perlindungan atas hak-hak dasarnya melainkan juga tidak memiliki jaminan keamanan kerja akibat buruknya tata-kelola air di berbagai negara di dunia.

Bagaimana dengan Indonesia? Di antara berbagai sektor ekonomi di Indonesia, tentu saja sektor pertanian menjadi yang paling bergantung terhadap ketersediaan air. Air adalah sumber daya pokok yang menunjang berlangsungnya kegiatan pertanian. Di seluruh dunia, sekitar 68% konsumsi air, untuk menunjang kegiatan pertanian.

Tenaga kerja di sektor pertanian di Indonesia sesungguhnya selalu mengalami penyusutan, dari 39 juta pada tahun 2011 menjadi 37 juta pada tahun 2013. Dalam tahunnya, jumlah tenaga kerja sektor pertanian mengalami fluktuasi antara 38-40 juta pada musim hujan menjadi 35-36 juta pada musim kemarau. Artinya, rata-rata terdapat dua juta tenaga kerja sektor pertanian yang sangat rentan tergusur dari sektor pekerjaannya. Siklus hidrologi menjadi penentu keamanan kerja setidaknya bagi dua juta warga yang berprofesi sebagai petani.

Dalam konteks pertanian pangan, dari 8,112 juta hektar lahan sawah di Indonesia, masih terdapat 3,292 juta hektar lahan pertanian sawah tadah hujan yang sudah pasti sepenuhnya bergantung pada siklus hidrologi alamiah. Data ini juga berarti bahwa tidak kurang 40% cadangan lahan untuk produksi pangan nasional bergantung pada dinamika musim.

Bencana Sehari-hari

Dinamika di sektor pertanian—baik terkait dengan fluktuasi jumlah tenaga kerja pertanian maupun produktivitas pertanian pangan—dan hubungannya dengan keberlangsungan ketersediaan air adalah salah-satu aktualisasi dari fenomena yang disebut dengan “bencana sehari-hari”. Yang dimaksud dengan bencana sehari-hari adalah bencana-bencana skala kecil yang selalu berulang.

Menurut Global Network for Disaster Reduction (GNDR) tahun dalam laporannya 2015, 90% bencana yang dialami oleh respondennya dari seluruh dunia adalah bencana yang dikategorikan sebagai bencana sehari-hari (everyday disaster). Bencana-bencana itu sering tidak diakui, tidak tercatat, dan tidak mendapatkan dukungan baik di tingkat nasional dan global. Oleh karenanya, bencana sehari-hari kerap disebut sebagai “forgotten disasters” (bencana-bencana yang dilupakan).

Temuan ini diperkuat oleh UNISDR yang menyatakan bahwa 99% dari catatan bencana memiliki kaitan dengan dengan risiko yang ekstensif. Bencana-bencana ini sesungguhnya menjadi penyebab dari 13% dari kematian dan 42% dari total kerugian ekonomi di semua bencana yang sempat dicatat.

Temuan pada tingkat global sesungguhnya selaras dengan catatan tentang kejadian-kejadian bencana yang terjadi di tanah air. Menurut BNPB, dalam rentang 10 tahun terakhir, sekitar 80% kejadian bencana di Indonesia adalah bencana hidrometereorologi dan klimatologi—seperti banjir, longsor, cuaca ekstrem, kekeringan, gelombang pasang, dll.

Bencana-bencana tersebut umumnya adalah kejadian dengan bencana skala-kecil yang berlangsung secara perlahan (small-scale and slow onset disaster) dan sudah pasti tergolong sebagai bencana sehari-hari. Sepintas, kejadian-kejadian bencana sehari-hari kerap disebutkan sebagai implikasi dari perubahan iklim. Namun, risiko-risiko iklim sesungguhnya hanya menjadi pemicu, karena faktor-faktor risiko mendasarnya justru disebabkan oleh kegagalan pembangunan, manajemen tata-lingkungan yang keliru, masalah-masalah ekonomi, social, bahkan kebijakan politik.

Singkatnya, kejadian-kejadian bencana tersebut sesungguhnya dapat dicegah atau setidaknya dikurangi risikonya dengan strategi kebijakan yang lebih sensitif terhadap risiko perubahan iklim dengan strategi implementasi yang terarah. Meningkatnya jumlah kejadian bencana hidrometeorologi adalah akibat dari tidak adanya langkah-langkah pencegahan risiko yang memadai.

Contoh paling aktual dari dari bencana sehari-hari adalah banjir akibat luapan sungai Citarum di Bandung Selatan, Jawa Barat. Namun, banjir sebenarnya bukanlah satu-satunya risiko yang muncul akibat buruknya tata-kelola daerah aliran sungai Citarum.

Citarum adalah sungai terpanjang di Jawa Barat yang mengairi 12 kabupaten/kota dan menjadi pemasok kebutuhan air bagi 28 juta jiwa di Bandung, Purwakarta, Karawang, Bekasi, dan DKI Jakarta. Dengan panjang sekitar 269 km mengaliri areal irigasi untuk pertanian seluas 420 ribu hektar. Hamparan industri yang membentang sepanjang Citarum disebut-sebut sebagai penyumbang pendapatan negara. Selain mengalami sedimentasi yang parah, Citarum juga menderita akibat pencemaran. Terdapat lebih dari 500 pabrik di sepanjang sungai dan hanya 20% yang memiliki instalasi pengolahan limbah. Kondisi Citarum saat ini merupakan potret parahnya pengelolaan air permukaan di Indonesia.

Tidak Sepadan

Kemiskinan dan kesenjangan ekonomi melahirkan risiko yang tidak sepadan. Dalam khazanah praktisi kemanusiaan dikenal istilah “the poor hit the most” (yang miskin terpukul paling parah). Dalil ini juga berlaku bagi masyarakat yang terpapar oleh bencana sehari-hari yang diakibatkan salah-kelola sumberdaya air baik untuk kehidupan maupun penghidupan.

Mahkamah Konstitusi telah membatalkan UU no. 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air yang berarti babak komersialisasi dan privatisasi pengelolaan sumber daya air sudah harus berakhir. Namun komersialisasi hanyalah salah-satu dari sekian banyak masalah yeng menumpuk di seputar tata-kelola sumberdaya air. Tugas berikutnya adalah mengembalikan fungsi sosial dan fungsi lingkungan air untuk kehidupan dan penghidupan masyarakat Indonesia.

Setidaknya terdapat tiga prioritas yang harus dilakukan oleh pemerintah dalam rangka memperbaiki tata-kelola sumber daya air di Indonesia. Pertama, pemerintah perlu menyusun konsep kebijakan manajemen risiko dalam pengelolaan sumber daya air di Indonesia. Hal ini guna mengantisipasi risiko-risiko yang muncul akibat perubahan iklim seperti fenomena ekstrem akibat el-nino atau la-nina, baik yang bersifat “recurrent” (yang selalu berulang) maupun yang bersifat “unprecedented” (risiko melebihi perkiraan).

Dalam hal ini, perlu disusun sebuah rencana kontijensi yang menggabungkan berbagai disiiplin ilmu pengetahuan guna meminimalisasi, mengawasi, dan mengendalikan berbagai kemungkinan risiko yang muncul sebagai akibat dari adanya berbagai masalah dalam tata-kelola sumberdaya air pada saat ini.

Kedua, perlu ada upaya yang sistematis untuk mengembalikan ekosistem air dan lingkungan yang dipadu dengan strategi pembangunan yang lebih sensitif terhadap risiko. Pemerintah dituntut untuk mengendalikan dan mengurangi eksploitasi air tanah dan mengupayakan perbaikan kualitas air permukaan sebagai sumber air baku masyarakat, baik untuk konsumsi maupun untuk menunjang aktivitas ekonomi, khususnya di sektor pertanian.

Ketiga, guna menjamin tercapainya tujuan pertama dan kedua di atas, perlu ada upaya pelibatan seluruh komponen masyarakat melalui berbagai program pemberdayaan. Masyarakat tidak hanya ditempatkan sebagai konsumen, melainkan para-pihak yang sesungguhnya juga dapat berkontribusi pada proses perbaikan tata-kelola sumber daya air.

Kita sadar, banyak sekali pekerjaan rumah yang harus dilakukan guna mengatasi berbagai persoalan air. Peringatan hari air sedunia tahun ini kembali mengingatkan arti penting air, baik kuantitas maupun kualitas, sebagai instrumen kehidupan yang esensial. Selamat hari air sedunia.

Jakarta, 19 Maret 2016

Syamsul Ardiansyah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s