Investasi Bencana dan Bencana Investasi (2)


“Lapindo” Effect

Lumpur Lapindo adalah salah-satu contoh buruk sebuah skenario investasi yang tidak memperhatikan aspek-aspek kajian risiko. Horor Lumpur Lapindo masih tetap bertahan hingga saat ini, saat mayoritas penduduk terdampak tidak mendapatkan kompensasi yang memadai hanya karena dinyatakan berada di luar peta dampak.Horor ini diperparah oleh konspirasi elit yang berhasil mengalihkan pertanggungjawaban atas dampak risiko kegiatan usaha swasta dari swasta ke publik melalui negara setelah masuknya anggaran penanggulangan dampak lumpur lapindo dalam APBN.

Cerita horor Lumpur Lapindo ternyata menjadi inspirasi bagi lembaga-lembaga usaha untuk menyusun scenario peralihan pertanggungjawaban risiko dari privat ke ranah publik. Saat ini, sudah ada beberapa perusahaan yang membuka kajian risiko dan dampak usaha investasinya ke publik melalui pemerintah. Argumentasinya, skenario antisipasi dampak buruk usaha investasi yang disusun oleh perusahaan hanya berlaku di dalam kawasan perusahaan tersebut.

Jika kejadian buruk yang terjadi di suatu kawasan perusahaan menyebar hingga kawasan di luar wilayah operasi perusahaan tersebut, maka bukan lagi tanggungjawab perusahaan, melainkan tanggungjawab pemerintah. Skenario “lempar tanggungjawab” model Lumpur Lapindo inilah yang suka-tidak suka ternyata lebih disukai oleh perusahaan-perusahaan, baik swasta maupun BUMN. Masalahnya, publik tidak bisa begitu saja suudzon terhadap inisiatif-inisiatif usaha investasi yang membuka informasi tentang kajian risiko usahanya ke publik.

Namun bagaimana skema itu disusun dengan kaidah-kaidah yang menutup peluang adanya copy-paste skenario “lempar-tanggungjawab” ala Lapindo Brantas? Sebagai catatan, Lapindo bukan satu-satunya perusahaan yang sukses melemparkan tanggungjawab penanganan risiko ke pemerintah. Dalam konteks lain, ada pula skenario bailout bank century yang dinyatakan  sebagai upaya mencegah efek domino dan dampak sistemik terhadap perekonomian nasional.

Jika kita google dengan kata kunci “bailout” kita akan ketemu 6,2 juta laman website yang mengulas mengenai fenomena ini, dengan beberapa diantaranya mengulas praktik-praktik culas korporasi yang menambal kerugian-kerugian usahanya dengan merampok anggaran public. Salah-satu kajian tentang bailout yang menarik adalah buku yang ditulis Neil Barofsky “Bailout: An Inside Account of How Washington Abandoned Main Street While Rescuing Wall Street”. Artinya, sama dengan fenomena investasi portofolio, bailout juga merupakan skenario global yang entah mengapa justru dikunyah begitu saja oleh pengambil kebijakan di negeri ini.

Bukan tidak mungkin, di masa yang akan datang akan lebih sering muncul fenomena bailout atas bencana akibat investasi (bukan hanya dalam bentuk kegagalan teknologi)!

Bersambung lagi ya

1 thought on “Investasi Bencana dan Bencana Investasi (2)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s