Investasi Bencana dan Bencana Investasi (1)


Baru saja saya mengikuti diskusi terfokus membahas masukan untuk penyusunan kerangka aksi pengurangan risiko bencana paska 2015. Tema diskusi yang barusan saya ikuti adalah mengurangi keterpaparan dan risiko-risiko mendasar.

Ada tujuh poin pertanyaan umum yang masing-masing poin memiliki sub-poin yang terfokus pada isu-isu yang lebih spesifik. Kelompok yang saya ikuti membahas rintangan-rintangan yang dihadapi dalam memasukan kajian risiko dalam rencana investasi, baik yang dilakukan public melalui negara maupun oleh swasta, serta bagaimana cara mengatasi rintangan-rintangan tersebut.

Kami berhasil mengidentifikasi beberapa rintangan yang dihadapi dalam memasukkan kajian risiko dalam rencana-rencana investasi publik dan swasta. Pertama, tidak adanya regulasi mengenai ketentuan yang mengharuskan setiap rencana kegiatan investasi untuk memasukkan kajian risiko. Adapun ketentuan-ketentuan yang ada, misalnya kebijakan analisis dampak lingkungan, justru peka terhadap risiko dan tidak diterapkan secara konsekuen.

Seharusnya, setiap rencana kegiatan investasi, baik dilakukan oleh pemerintah maupun swasta, seharusnya disusun dengan mengedepankan prinsip-prinsip Free Prior Informed Consent (FPIC). Yakni prinsip untuk melalui proses konsultasi publik yang bebas, transparan, dan dilakukan sebelum sebuah rencana investasi dilaksanakan, serta membuka kesempatan bagi masyarakat untuk menyepakati atau tidak menyepakati pelaksanaan sebuah rencana investasi.

Proses konsultasi publik yang terjadi saat ini cenderung dilakukan sebatas formalitas bahkan manipulative. Prinsip-prinsip FPIC, khususnya prinsip harus adanya “consent” atau prinsip yang mensyaratkan adanya persetujuan atau penolakan public atas sebuah rencana investasi, sama sekali tidak dilakukan. Konsultasi publik yang dilakukan tidak memberikan kesempatan pada masyarakat untuk menyatakan penolakan atas sebuah rencana investasi. Opsi yang diberikan kepada masyarakat hanya satu, yakni harus “menyetujui” sebuah rencana investasi.

Investasi atas Risiko atau Risiko atas Investasi?

Mengapa demikian? Orientasi kebijakan investasi di Indonesia cenderung pada upaya memperlebar peluang investasi atas nama menciptakan iklim usaha yang kondusif. Ini disebabkan oleh adanya perubahan skema investasi global, dari skema foreign direct investment (FDI), yang berjangka panjang, ke arah portofolio investment, melalui perdagangan saham dan valuta, yang bersifat jangka pendek.

Perubahan skema investasi global seperti ini membawa dampak yang cukup luas. Misalnya, dalam konteks kajian risiko, jika dalam konteks FDI kajian risiko yang dilakukan, minimalnya memasukkan kajian AMDAL yang memasukkan variabel lingkungan, dalam konteks portofolio investment, kajian risikonya terbatas pada risiko investasi yang tentu saja lebih ditujukan untuk melindungi asset dan profit dari sebuah usaha.

Pemerintah sudah pasti menyadari implikasi dan ancaman-ancaman yang ada dibalik perubahan skema investasi di atas. Salah-satu implikasinya adalah daya serap tenaga kerja yang jauh berbeda, antara FDI yang padat-karya dengan PI yang lebih efisien dalam hal ketenagakerjaan. Hal ini terlihat dari besarnya investasi yang masuk ternyata tidak memberikan korelasi positif terhadap penyediaan lapangan kerja. Implikasi yang lain adalah potensi terjadinya “capital flight”, fluktuasi nilai mata uang, dan dampaknya terhadap perekonomian nasional yang sangat terbuka dalam skema investasi portofolio.

Dalam konteks Indonesia, meski pertumbuhan ekonomi mencapai 5-6% per-tahun, tapi pekerja Indonesia yang menjadi pekerja migran sektor domestik justru semakin tinggi. Struktur volume investasi yang didominasi portofolio membuat pemerintah tidak nyaman dan akan habis-habisan menjaga citra yang sebenarnya “semu” mengenai stabilitas ekonomi nasional. Dalam rangka menyeimbangkan struktur investasi portofolio dengan investasi langsung inilah pemerintah melakukan deregulasi kebijakan yang intinya memangkas aturan-aturan main investasi.

Saking banyaknya aturan investasi yang dipangkas, sampai-sampai kebijakan investasi di Indonesia hampir tanpa aturan. Lihat saja investasi di sektor-sektor strategis, seperti pertambangan, hutan, mineral, air, dan lain-lain, bisa berkembang cenderung “anarkis” akibat tidak adanya aturan main yang jelas, transparan, dan ditegakkan secara konsekuen. Konsekuensinya, investasi justru mempertinggi kerentanan dan melipatgandakan ancaman bagi masyarakat.

Di samping adanya “diskon besar-besaran” dalam hal aturan main investasi, kecenderungan investasi langsung yang berorientasi pasar luar negeri, menyebabkan perusahaan-perusahaan yang berinvestasi bisa dikatakan tidak memiliki concern untuk menyusun strategi corporate sustainability pada unit usahanya masing-masing. Misalnya, hampir 90% bahan baku industri didatangkan dari luar negeri dan sebagian besar produk industry manufaktur berorientasi ekspor.

Pabrik-pabrik yang berdiri di Indonesia hanya berfungsi sebagai unit pengolahan bahan baku menjadi bahan jadi “assembling” saja. Demikian pula dengan perusahaan-perusahaan yang bergerak di sector hulu, seperti pertambangan, kehutanan, dan perkebunan. Hampir semuanya berorientasi ekspor (bahan baku) tanpa adanya upaya peningkatan nilai tambah. Sawit misalnya, paling tinggi hanya sampai pada produksi Crude Palm Oil (CPO), demikian pula dengan pertambangan emas yang dilakukan Freeport di Papua.

Industri yang bergantung pada ekspor dan impor tidak membutuhkan kajian risiko investasi yang njlimet atas usahanya karena memang tidak berorientasi pada penguatan pasar domestik. Jangankan kajian risiko yang sementara ini dipandang sebagai bentuk investasi yang “percuma”, isu-isu tentang peningkatan kesejahteraan pekerja dalam hal pengupahan misalnya, justru dipandang sebagai hambatan investasi. Padahal, jika dikaji secara serius, peningkatan upah sesungguhnya akan memberikan korelasi positif terhadap penguatan pasar dalam negeri yang tentu saja berarti membesar peluang pasar untuk menyerap produk-produk industry.

Kata kunci dari persoalan ini adalah lembaga usaha lebih concern pada risiko investasi dan bukan investasi untuk menganulir risiko.

 

Bersambung

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s