Refleksi Pribadi dari Diskusi dengan Ignacio


Dalam sebuah diskusi dengan kami, Ignacio Leon Garcia, Direktur UN-OCHA Indonesia sempat bercerita tentang kisah. dua temannya yang membuka dua rekening untuk menggalang donasi bagi dua krisis yang berbeda.

Satu temannya membuka rekening untuk menggalang dukungan bagi penyelesaian krisis Suriah. Sementara, satu temannya lagi membuka rekening untuk menggalang donasi bagi masyarakat terdampak kekeringan panjang di Sahel, Afrika.

Anda tahu hasilnya? Butuh waktu satu bulan, sejak rekening itu dibuka, bagi kawannya yang menggalang donasi untuk merespon kekeringan di Sahel untuk mendapatkan jumlah donasi yang setara dengan donasi yang diterima untuk merespon krisis Suriah dalam waktu satu hari. Ignacio berusaha untuk berpikir positif. Dia mengemukakan pentingnya. peran media massa untuk membangun kesadaran publik untuk berdonasi merespon suatu krisis.

Menurutnya, sedikitnya donasi yang diterima untuk Sahel, barangkali disebabkan oleh kurangnya ekspose dari media massa atas dampak kekeringan yang melanda kawasan Afrika tersebut. Namun dia tidak memungkiri jika sebenarnya ada faktor lain yang lebih determinan ketimbang peliputan media. Faktor tersebut adalah ekspektasi dari donatur. Ekspektasi ini bisa bermacam-macam, bisa positif, bisa juga “negatif”.

Maksud saya, dalam kasus Suriah dan Sahel, ekspektasi positifnya adalah mungkin donatur mengharap adanya penyelesaian segera atas krisis akibat perang saudara di Suriah. Sementara ekspektasi negatifnya adalah bisa jadi sebagian donatur memandang bahwa donasinya untuk Suriah adalah semacam investasi yang mana return yang diharapkan adalah semacam post-crisis (economic) opportunity.

Irak, Afganistan, dan terakhir Libya adalah contoh bagaimana perusahaan-perusahaan multinasional dari Amerika Serikat dan negara-negara sekutunya berani berinvestasi mendukung agresi militer yang diselimuti kampanye “demokrasi dan HAM” ala George W. Bush dan NATO. Minyak, gas, dan berbagai sumberdaya mineral yang terkandung di perut bumi Irak, Afganistan, dan Libya itulah daya tarik utamanya.

Jika kita rajin menyimak artikel-artikel dalam situs http://www.corpwatch.org kita bisa tahu bagaimana cara perusahaan-perusahaan multinasional mengeruk keuntungan ekonomi dengan mengatasnamakan “demokrasi dan HAM”.

Kembali ke kisah yang disampaikan Ignacio, saya jadi khawatir. Jangan-jangan sulitnya penggalangan donasi untuk merespon krisis di Sahel disebabkan karena kecilnya kesempatan ekonomi pasca krisis yang bisa didapat dari wilayah tersebut.

Ini yang bagi saya sangat menggelisahkan, ketika sebuah misi kemanusiaan, justru dibebani oleh masalah-masalah yang sesungguhnya di luar prinsip-prinsip kerja kemanusiaan itu sendiri sebagaimana tertuang dalam Piagam Federasi Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional.***

* UN-OCHA =United National Office for Coordination of Humanitarian Affairs

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s