Stiglitz tentang 9/11 dan Amerika


Stiglitz: The September 11, 2001, terror attacks by Al Qaeda were meant to harm the United States, and they did, but in ways that Osama bin Laden probably never imagined.

Saya baru saja membaca esai Joseph E. Stiglitz berjudul “The Price of 9/11”. Melalui esai itu, Stiglitz mengatakan perang melawan teror, pasca serangan 11 September 2001 tidak hanya memperburuk kondisi ekonomi tetapi juga menambah memperentan masalah keamanan dalam negeri.

Menurut Stiglitz, sejak dilancarkan tahun 2002 sampai kira-kira tiga tahun lalu, perang telah menghabiskan setidaknya antara US$3-5 triliun (silakan hitung sendiri jumlahnya dalam rupiah). Angka itu terus merangkak hingga saat ini.

Kerugian yang diderita AS tidak hanya disitu. Lebih dari 50% veteran perang Irak atau Afghanistan pulang dalam kondisi cacat, dan eligible untuk menerima beberapa level pembayaran atas kecacatan. Lebih dari 600 ribu veteran Irak atau Afghanistan hanya mendapatkan perawatan fasilitas medis.

Diperkirakan, di masa-masa yang akan datang, pemerintah Federal harus membayar biaya perawatan kesehatan dan tunjangan kecacatan sampai US$600-900 milyar (sekali lagi, silakan hitung sendiri jumlahnya dalam rupiah).

Biaya sosial yang harus ditanggung tidak terhitung. Stiglitz menggambarkan, kini rata-rata 18 veteran perang Irak atau Afghanistan melakukan aksi bunuh diri karena depresi. Angka yang tentu saja mengerikan, bukan?

Proses kalkulasi masalah masih belum berhenti sampai disitu. Dalam esai itu Stiglitz mengatakan, meski pun misalnya George W. Bush (Presiden AS saat itu) dimaafkan karena telah membawa AS dan dunia ke dalam medan perang yang tak berdasar, namun tidak ada pemaafan atas caranya membiayai perang.

Stiglitz menyatakan, “this was the first war in history paid for entirely on credit!” Perang AS di Afghanistan dan Irak adalah yang pertama dalam sejarah peperangan AS yang dibiayai oleh pinjaman! Gilak ga?

Perang Afghanistan dan Irak telah memperlemah kondisi makroekonomi Amerika, memperlebar kesenjangan defisit, dan memberat beban utang. Selain itu, perang menyebabkan kian ringkihnya kondisi Timur Tengah yang menyebabkan naiknya harga minyak, sehingga memaksa Amerika dan berbagai negara di dunia untuk membeli minyak demi mengamankan stabilitas energi (dan memotong anggaran untuk pembangunan).

Akan tetapi, Bank Sentral AS berupaya menyembunyikan dampak ekonomi akibat perang dengan merekayasa gelembung kredit murah perumahan. Namun rekayasa ini nyatanya tidak mampu bertahan lama. Gelembung KPR murah AS meledak tahun 2007, disusul kemudian dengan krisis pangan dan energy pada tahun 2008, dan menyebabkan krisis finansial yang kian menyebar dan bertele-tele hingga sekarang.

Terror attacks in September 11, 2001 had indeed meant to harm the United States, and they did, but in ways that Osama probably never imagined.***

Esai Joseph Stiglitz “The Price of 9/11” bisa disimak disini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s