Bola Panas Privatisasi Kesehatan di Malaysia


Pemerintah Federal Malaysia berencana melakukan privatisasi terhadap pelayanan kesehatan. Hal ini ditujukan untuk mengalihkan RM34 milyar (sekitar US$11.2 milyar) anggaran kesehatan ke pundak setiap warga Malaysia. Tak pelak, isu tersebut menuai kritik dan menjadi isu panas menjelang pemilu Malaysia.

Proposal privatisasi yang kini diperbincangkan di Malaysia itu disebut 1Care. Berdasarkan proposal tersebut, seluruh pekerja dan pengusaha untuk membayar 10% dari pendapatan bulanannya sebagai Dana Asuransi 1Care untuk biaya pelayanan kesehatan. Dengan skema ini, setiap warga negara Malaysia harus membayar sekitar RM44.24 milyar untuk pelayanan kesehatan.

Rencana yang sebelumnya disimpan rapat oleh Pemerintah berkuasa itu bocor setelah dalam sebuah seminar bersama Malaysian Pharmaceutical Society, Deputi Direktur Kementerian Kesehatan Malaysia Dr Nordin Saleh mengemukakan bahwa proposal 1Care telah masuk tahap final dan akan segera diajukan ke parlemen untuk dibahas. Dikatakan pula, 1Care dibahas berdasarkan Rencana ke-10 Malaysia dan mengacu pada model National Health Service yang didanai publik di Inggris.

Situs berita oposisi, freemalaysiatoday.com menuduh skema ini adalah privatisasi pelayanan kesehatan public sekaligus nasionalisasi fasilitas pelayanan kesehatan swasta yang hanya akan menguntungkan kroni-kroni Barisan Nasional (BN).

Menurut Dr. Ng Swee Choon, Deputi Presiden Asosiasi Praktisi Medis Swasta, sebuah kelompok yang menolak 1Care, “Malaysia sebenarnya telah memiliki system pelayanan kesehatan yang cukup baik, yang mana hampir 90% dari warga negara Malaysia tinggal dalam radius 5 km dari klinik atau rumah sakit yang dikelola pemerintah.

Dr. Ng Swee Choon juga mengatakan bahwa meskipun anggaran kesehatan Malaysia baru mencapai 4.7% dari GDP—masih dibawah rekomendasi WHO sebesar 8-9 %—namun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dalam laporan tahunan 2007 mengakui bahwa Malaysia memiliki system pelayanan kesehatan yang efektif dan efisien dan karenanya dipandang “excellent”.

“Mengapa harus memperbaiki sesuatu yang sebenarnya telah berjalan baik,” ujar Dr. Ng Swee Choon.

Dokter T. Jayabalan, salah-seorang aktivis kesehatan setempat mengatakan, “yang justru lebih penting adalah menaikkan anggaran kesehatan sesuai dengan yang direkomendasikan WHO, ketimbang mengganti systemnya”.

Menanggapi kritik yang dilancarkan kubu oposisi, Menteri Kesehatan Malaysia Liow Tiong Lai tentu saja berkelit dan mengatakan bahwa kubu oposisi tengah menyebarkan informasi yang sesat.

“Saya sendiri akan menolak jika skema tersebut mengharuskan kita menyerahkan 10% dari pendapatan bulanan kita untuk kesehatan,” ujar Menteri Liow.

Menurut Menteri Liow, “setiap individu berhak mendapatkan pelayanan kesehatan yang setara…kelak tidak ada lagi pembedaan antara pelayanan kesehatan swasta atau pemerintah. Dengan skema 1Care, kontribusi publik tiap bulan akan member manfaat berupa ketersediaan pelayanan kesehatan yang lebih baik.

Namun, kubu oposisi berkata lain. Dr. Michael Jeyakumar, pengacara dari Parti Sosialist Malaysia mengatakan, “soal uang, pemerintah Federal tidak bisa dipercaya!”.

Sementara itu, Charles Santiago, anggota legislative dari kubu oposisi mengatakan, argumentasi pemerintah tidak bisa diterima. “Privatisasi pelayanan kesehatan melalui skema jaminan sosial kesehatan hanya akan menambah beban rakyat, khususnya rakyat miskin.

Kini, perdebatan tentang 1Care masih bergulir di Malaysia. Pemerintah dan oposisi masih beradu argument tentang hal ini. Jika oposisi kalah, maka tidak lama lagi warga Malaysia akan senasib dengan kita di Indonesia; yang harus membayar mahal ongkos kesehatan.

Uniknya, berbeda dengan di Indonesia, di Malaysia kalangan dokter dan pekerja kesehatan turut tampil dalam perdebatan mengenai privatisasi pelayanan kesehatan yang sesungguhnya di negara mana pun selalu saja panas.

Di Indonesia, rakyat miskin yang menjadi korban kebijakan yang memahalkan biaya kesehatan, kelihatannya terpaksa “bertarung” sendiri. Dokter dan pekerja kesehatan lain, meski pun tidak semuanya diam, namun kelihatannya hanya mendukung jauh di belakang. Semoga ada dokter-dokter baik yang terinspirasi oleh pengalaman rekan-rekan sejawatnya, dokter-dokter Malaysia yang bersuara menentang kebijakan kesehatan yang merugikan rakyat. Amien!

Sumber: ipsnews.net dan freemalaysiatoday.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s