Kekerasan Anak: Lingkaran yang Harus Diputus!


Anak-anak Indonesia harus diselamatkan dari kekerasan

Seorang pelajar sekolah dasar ditangkap kepolisian akibat menusuk temannya sekolahnya sendiri. Pelaku dikabarkan melakukannya dengan sadar, sementara korban terpaksa mendapatkan perawatan intensif dari rumahsakit untuk bisa diselamatkan. Kita bertanya apa yang sebenarnya terjadi?

Bagi saya, penyebabnya kejadian tersebut bukanlah hal yang sepele. Pelaku terlebih dulu kepergok mencuri handphone milik orangtua korban dan melakukan penusukan setelah korban meminta agar handphonenya dikembalikan.

Polisi mengatakan, pelaku sempat berusaha melarikan diri dan mengelak saat hendak ditangkap. Dia sempat menanyakan apa kesalahannya, meski baju yang dikenakan berlumuran darah korban. Karena masih kanak-kanak, pelaku memang belum atau tidak ditahan. Dia dikembalikan kepada orangtuanya, meski demikian tidak begitu saja melepaskan dirinya dari jeratan hukum.

Saya kira, orangtua mana yang tidak akan sedih mendengar kejadian ini. Orangtua korban maupun pelaku, saya kira, tidak menyangka kejadian seperti ini bisa menimpa anak-anak mereka. Kita selaku masyarakat yang mendengar kejadian ini pun sepertinya sulit menerima kenyataan ini.

Saya kira, meskipun setiap hari melihat berita-berita tentang kekerasan, tidak ada dari kita yang siap mendengar kasus ini. Sulit sekali menerima kenyataan jika tindakan kekerasan yang menjurus pada kriminal dilakukan oleh seorang anak yang masih bersekolah dasar dan menimpa teman sekolahnya sendiri. Barangkali, ingatan kita akan langsung meluncur pada anak-anak, keponakan, atau kerabat kita yang duduk di sekolah dasar.

Apa yang harus kita lakukan untuk mencegah berulangnya kejadian serupa ini? Seperti apa cara yang harus kita tempuh untuk menjamin keamanan dan keselamatan anak-anak kita, agar tidak menjadi korban atau pun pelaku tindakan-tindakan seperti ini?

Sungguh, itu adalah pertanyaan-pertanyaan yang sulit untuk dijawab dalam kondisi seperti sekarang. Secara pribadi, saya tidak memiliki jawaban yang definitif. Kita hanya bisa menebak dan mengira-ngira tentang apa yang menjadi penyebab dan mungkin merumuskan hal-hal penting yang harapannya bisa mencegah terulangnya kejadian tersebut.

Namun, sesulit apapun itu, kita harus menemukan jawabannya agar anak-anak kita bisa tumbuh berkembang sesuai dengan doa dan harapan yang senantiasa kita ucapkan pada saat kelahiran mereka.

Melalui tulisan ini, saya mengajak kita semua membuka segala macam aspek yang mungkin terkait dengan kejadian yang sama sekali tidak kita inginkan ini. Saya ingin mengajak kita semua untuk menebak tentang bagaimana ide tentang kekerasan bisa berkembang di benak seorang anak yang masih berusia belia.

Bagaimana ide-ide kekerasan itu merasuk pada benak anak-anak kita? Bagaimana ide tersebut kemudian berkembang dan membentuk perilaku anak-anak kita sehari-hari? Dan bagaimana ide dan perilaku itu mengarahkan anak pada tindakan-tindakan yang sungguh di luar imaginasi dan keinginan kita selaku orangtua.

Ide tentang kekerasan sebenarnya mudah sekali masuk ke dalam benak anak-anak kita sejak informasi tentang kekerasan itu memang tersaji di mana-mana, baik kekerasan yang sifatnya verbal maupun non-verbal. Kita perlu menyadari bahwa informasi-informasi itu sebenarnya hadir dan mudah sekali diakses anak-anak.

Di televisi misalnya, visualisasi kekerasan tersaji di hampir setiap saat, mulai dari program-program berita hingga film-film anak-anak. Media artikulasi kekerasan pun mudah pula diakses anak-anak, mulai dari mainan senjata sampai game-game console. Tanpa bimbingan dan pengawasan yang intensif dari orangtua dan guru, sasaran ide dan perilaku kekerasan pun dapat dengan mudah dipindahkan anak-anak dari tontonan ke tindakan.

Tanpa kita sadari, anak-anak kita ternyata dikepung oleh material-material yang bisa dengan mudah mengubah wajah-wajah lugu tanpa dosa menjadi “monster-monster anak” yang sebelumnya hanya muncul di film-film horror dewasa. Entah apa yang kelak akan terjadi jika lingkaran informasi kekerasan ini tidak segera diputus.

Media massa diharapkan mau memutus mata-rantai kekerasan dengan tidak memberi ruang pada informasi-informasi yang memberikan legitimasi pada tindakan-tindakan kekerasan. Terlebih, jika dilihat dari dimensi aktor, pelaku kekerasan berasal dari berbagai strata sosial, mulai dari masyarakat lapis bawah hingga elit politik, yang mana sebagian dari kalangan tersebut—karena kadang dengan mudah membangun dan menyebarluaskan alas an-alasan yang melegitimasi tindakan kekerasan.

Namun memutus informasi saja tidak cukup (dan tentu saja tidak akan mudah). Karenanya dibutuhkan cara lain, yakni mengoptimalkan peranan orangtua untuk mengarahkan anak-anaknya. Informasi-informasi tentang kekerasan bukannya harus dihindari. Bagaimana pun, kita tidak bisa menghindarkan anak-anak dari kondisi itu.

Yang harus dilakukan orangtua adalah mempersiapkan anak-anak untuk secara arif menyikapi maraknya fenomena kekerasan. Orangtua dan kita semua selaku orang-orang dewasa dituntut mampu menciptakan situasi agar proses dialektika yang dialami anak—khususnya terkait dengan input-input informasi seputar kekerasan—tidak mengarahkan anak-anak menjadi pelaku-pelaku atau korban-korban dari tindakan kekerasan.

Semakin besar anak-anak kita, membutuhkan perhatian yang juga semakin besar. Lagi-lagi, ini pun bukan perkara yang gampang. Situasi yang dihadapi orangtua tidak jarang membuatnya sulit mengawasi anak dari hari ke hari. Menjadi orangtua yang baik bukan juga harus menjadi orangtua yang control freak terhadap anak-anaknya. Orangtua yang baik adalah orangtua yang selalu memperbaiki pemahamannya tentang anak-anaknya. Orangtua yang baik adalah komponen utama membentuk masyarakat yang baik. Jika kita telah sama-sama jenuh dengan kekerasan dan ingin sekali menghentikannya, mungkin bisa dimulai dengan belajar menjadi orangtua yang baik bagi anak-anak kita.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s