Trafficking dalam “Taken”


Malam ini, salah-satu stasiun TV swasta menayangkan film “Taken”. Film ini bercerita tentang sebuah misi yang hampir “mustahil” yang dilakukan seorang ayah untuk membebaskan anaknya yang menjadi korban “trafficking”. Saya sudah pernah menuliskan ulasannya dalam blog. Kini, ulasan itu saya tampilkan kembali dalam blog ini.

Bagi seorang Brian Mills, Kimmy adalah segalanya. Dia adalah anak satu-satunya, buah perkawinannya dengan istrinya, Lenore. Untuk menjamin keselamatannya, Brian melakukan segala yang dia mampu, hingga mampu melakukan sesuatu yang hampir mustahil bisa dia lakukan.

Brian paham jika Kimmy ingin sekali menjadi penyanyi. Karenanya, sewaktu Kimmy merayakan ulang-tahunnya yang ke-17, dia menghadiahi anak perempuannya itu seperangkat audio agar Kimmy bisa menjadi melatih kemampuannya. Kado itu dia bungkus dan diantarkannya sendiri ke Kimmy.

Dia begitu senang melihat Kimmy yang gembira menerima kado darinya. Tidak lupa dia mengambil foto anaknya yang sedang memegang kado pemberiannya. Foto itulah yang kemudian dia simpan dalam sebuah album yang secara khusus hanya memuat gambar-gambar Kimmy sejak ulangtahunnya yang ke-5.

Suasana itu hanya sekejap akibat Stuart—ayah tirinya Kimmy—datang membawa kuda sebagai kado ulang-tahun dan membuyarkan perhatian Kimmy terhadap kado yang dibawa ayahnya. Brian tidak berkecil-hati. Dia tetap tersenyum dan ikut senang melihat anaknya begitu girang menunggang kuda pemberian ayah tirinya.

Brian Mills adalah pensiunan CIA yang memiliki pengalaman operasi di hampir seluruh dunia. Akibat pekerjaannya itu, dia harus merelakan pernikahannya dan terpaksa membiarkan Kimmy hidup bersama mantan istrinya yang kemudian diperistri oleh Stuart, seorang pengusaha kaya.

Selepas pension dari CIA, Brian diajak bekerja sebagai tenaga keamanan swasta. Order pertama yang dia terima adalah membantu pengamanan bagi penyanyi diva ternama. Kepada sang penyanyi, Brian sempat menyampaikan keinginan anaknya untuk meniti karir sebagai penyanyi. Brian sempat kecut ketika sang diva dengan angkuh menjawab, “find another job” , sambil melenggang. Pada saat pertunjukkan tengah berlangsung, Kimmy menelepon Brian untuk mengajaknya makan siang bersama. Brian begitu senang dan langsung menyanggupi.

Brian semakin berbunga ketika pada akhir pertunjukkan sang diva memberikan kesempatan kepada Brian untuk membawa anaknya datang ke tempatnya untuk berlatih menyanyi. Hal itu diberikan sebagai imbalan atas jasa Brian yang berhasil mengamankan sang diva dari sebuah insiden yang mungkin saja merenggut jiwanya. Dengan kartu-nama sang diva yang sudah dipegangnya, Brian berharap bisa memberikan kejutan untuk anak yang akan ditemui keesokan harinya.

Sampai pada saat yang dijanjikan, Kim ternyata datang bersama ibunya. Dalam pertemuan itu, Kim menyampaikan keinginannya untuk berlibur ke Paris. Dia mengatakan, temannya, Amanda mengajaknya tinggal di apartemen sepupunya di Paris. Brian gusar dan tidak nyaman. Menurutnya, Kim masih 17 tahun dan butuh ijin ayahnya untuk pergi ke Eropa.

Tak sanggup melihat anaknya kecewa, Brian pun meluluskan permintaan Kim untuk memberinya ijin pergi ke Paris. Dia mengajukan syarat-syarat kepada Kim untuk selalu berhati-hati dan selalu menghubunginya setiap saat. Kim begitu girang, mengiyakan semua permintaan ayahnya, dan langsung menghubungi temannya, Amanda.

Singkat cerita, Kim dan Amanda sudah berada di Paris. Pada saat menunggu taksi, mereka berkenalan dengan seseorang yang mengaku bernama Peter yang mengajak mereka berbagi taksi. Bertiga dengan seorang lelaki yang baru dikenal, mereka pergi ke apartemen sepupu Amanda dan cerita tentang penculikan dan trafficking itu bermula sejak saat itu.

Pada fragmen berikutnya diceritakan bagaimana Brian membongkar jaringan penculik anaknya. Mulai dari jaringan mafia Albania hingga Saudagar Arab. Fragmen-fragmen itu penuh dengan adegan kekerasan. Salah-satu adegan yang diperlihatkan adalah ketika Brian melakukan penyiksaan kepada tokoh Marko, pimpinan Mafia Albania yang terlibat dalam penculikkan.

Brian juga terlihat begitu bengis saat menghabisi Patrice Saint-Claire, pengusaha kaya yang terlibat dalam penjualan perempuan-perempuan muda dalam skala dunia, pada saat pengusaha itu sudah dalam keadaan yang tidak berdaya. Brian pun dengan dingin menembakan peluru ke kepala Shekh Arab yang meyandera anaknya tanpa sedikitpun membuka kesempatan bagi Shekh itu untuk mengajukan tawaran negosiasi. Bagi saya secara pribadi, barangkali itulah sikap yang paling tepat terhadap mereka yang sudah terlibat dalam kejahatan kemanusiaan paling keji saat ini.

Film ini mengambil setting cerita tentang trafficking atau perdagangan manusia, salah-satu bentuk kejahatan kemanusiaan yang paling biadab saat ini. Departemen Luar Negeri Amerika Serikat memperkirakan sekitar 600-820 ribu laki-laki perempuan dan anak-anak diperdagangkan setiap tahun. Diperkirakan 70 persen diantaranya adalah perempuan dan anak-anak perempuan. Mayoritas korban trafficking dijebloskan ke dalam eksploitasi industri seks komersial. Tingginya jumlah korban trafficking setiap tahun menunjukkan adanya kecenderungan terjadinya bentuk-bentuk perbudakan paling brutal pada abad ini.

Perdagangan manusia adalah industri kriminal yang tercatat mengalami pertumbuhan tertinggi dibanding industri lainnya. Diperkirakan, keuntungan yang diraih pelaku industri perdagangan manusia mencapai USD 5-9 milyar dollar pertahun. European Council menyatakan bahwa perdagangan manusia telah memasuki proporsi epidemis pada selama satu dekade terakhir dengan pangsa pasar tahunan yang mencapai USD42,5 miliar.

Dengan jumlah kapital sebesar itu, tentu saja, para pelaku industri trafficking mampu membekali dirinya dengan sistem pertahanan yang paling canggih. Karenanya, pertarungan untuk melawan kejahatan trafficking pun merupakan pertarungan yang paling sulit. Di-release-nya berbagai aturan yang ditujukan mencegah terjadinya kejahatan ini–seperti Protocol Palermo dan ketentuan-ketentuan internasional maupun nasional lainnya–sepertinya kurang cukup.

Terlebih ketika industri ini bertemu dengan krisis kronis dalam tubuh kapitalisme-monopoli, yang mana tak jarang para korban trafficking, justru tanpa sadar mendekati pelaku-pelaku kejahatan trafficking yang tidak jarang berkedok sebagai pencari bakat atau sponsor untuk bekerja di luar negeri. Karenanya, secara logika memang rada sulit menerima alur cerita yang dijabarkan dalam film ini.

Namun, the good things dari film ini adalah adanya harapan untuk membalik segala yang tidak mungkin menjadi sangat mungkin, jika dikerjakan dengan sungguh-sungguh, profesional, di mana setiap orang mengerahkan segala yang dia mampu untuk mencegah dan bahkan melawan industri kejahatan paling biadab ini.

Jika seorang Brian Mills saja mampu membongkar kejahatan ini hingga pada akarnya, apalagi jika seluruh pemimpin dunia bergerak mengerahkan segala sumberdayanya untuk menghilangkan industri trafficking dalam skala dunia. Sehingga, perbudakan paling keji ini bisa dihapuskan hingga ke akarnya.###

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s