Pithechellobium….


Jengkol - Setelah digoreng dan sebelum ditambahi sambal balado. Menarik bukan?

Trending topic di rumah kontrakan kami hari ini adalah “jengkol”. Mau tau bagaimana ceritanya?  Mangga dilajeng….😀

Konon jengkol juga punya nama-nama lain. Misalnya di Jawa Barat, selain menggunakan kata jengkol, orang Sunda juga menyebut jengkol dengan “kicaang”. Di Bali, jengkol dinamai “blandingan”. Orang Melayu menyebut jengkol dengan sebutan “jering” atau “jiring”. Di Banjang, jengkol disebut “jaring”, di Lampung disebut “jaawi”, di Sulawesi disebut “Lubi”.

Bener ngga sebutan-sebutan itu, cuma teman-teman dari daerah-daerah itu yang bisa menjawabnya. Yang pasti, sepertinya kita ga akan pake nama latin jengkol (konon namanya; “Pithechellobium Jiringa Prain” atau “Pithechellobium lobatum benth”) saat mau membeli jengkol di warung.

Hari ini, jengkol adalah topik paling hangat di rumah kami. Kemarin, kami membeli sebungkus jengkol di Carrefour Cawang. Sebagian jengkol itu saya goreng, ditaburi garam dan kecap, kemudian disantap bareng Sup Udang bikinan istri.

Sorenya, dengan modal sisa jengkol yang masih belum diolah, teman-teman kuundang makan-makan di rumah. Rencananya, mau bikin jengkol sambal balado. Menurut pendapat Jeng Retno–pakar jengkol jebolan Hong Kong–jengkolnya kurang dan harus ditambah agar cukup untuk enam orang.

Bener saja, tangan dingin Retno mampu mengubah jengkol jadi makanan yang jadi “trending topic” dalam bancakan kami petan tadi. Ada dua item makanan berbau “jengkol”, yakni “balado jengkol” dan “jengkol goreng biasa” (cuma ditaburi garam dan dicocol sambal).

See! Jengkol wasn't alone😀

Petang ini, jengkol tidak sendiri. Tiga ekor ikan bawal dari kolam Bang Kodir kami potong dan digoreng. Lagi-lagi Retno yang menambahi bumbu jahe dan daun bawang yang bikin bawal goreng itu ga terlalu “plain”. Ditambah belut yang digoreng terus dibalut saus teriyaki.

Semua makanan petang ini adalah makanan yang digoreng. Kami tidak sempat menyiapkan makanan berkuah karena keburu lapar. Tapi tak apa, sup udang pagi tadi cukup untuk jadi penyeimbang menu makan hari ini.

Sup Udang, satu-satunya makanan berkuah siang tadi😀

Dari setumpuk jengkol yang tersaji, setelah kami makan, sisanya tinggal dua biji. Aku udah ga sanggup makan karena kekenyangan. Untungnya–sekali lagi untungnya!–Retno sudah siap sedia menghabiskan sisa jengkol tersebut.

Saking ngenanya tema jengkol hari ini, istri sampai mau menuliskan cerita hari ini di blognya. Saat istri ngutak-atik tulisannya (tentang “jengkol”), dia nanya, “beyb, nama prokemnya jengkol apa?” Kujawab, “apa ya? Jengkol ya jengkol!”

Ah…, mungkin justru anda yang tahu jawabannya?

Do I look hungry? No! I'm happy!😀

Manfaat Jengkol

Selain bermanfaat dalam memperkuat silaturahmi pertemanan, jengkol juga memiliki manfaat lain yang kadang disepelekan. Dari browing internet, saya dapat petikan berikut. Sumbernya dari Fasak.Com

Dibalik bau yang ditimbulkan jengkol, ternyata terkandung manfaat yang berguna bagi kesehatan. Menurut berbagai penelitian menunjukkan bahwa jengkol juga kaya akan karbohidrat, protein, vitamin A, vitamin B, Vitamin C, fosfor, kalsium, alkaloid, minyak atsiri, steroid, glikosida, tanin, dan saponin.

Khusus untuk vitamin C terdapat kandungan 80 mg pada 100 gram biji jengkol, sedangkan angka kecukupan gizi yang dianjurkan per hari adalah 75 mg untuk wanita dewasa dan 90 mg untuk pria dewasa.

Selain itu, Jengkol merupakan sumber protein yang baik, yaitu 23,3 g per 100 g bahan. Kadar proteinnya jauh melebihi tempe yang selama ini dikenal sebagai sumber protein nabati, yaitu hanya 18,3 g per 100 g. Kebutuhan protein setiap individu tentu saja berbeda-beda. Selain untuk membantu pertumbuhan dan pemeliharaan, protein juga berfungsi membangun enzim, hormon, dan imunitas tubuh. Karena itu, protein sering disebut zat pembangun.

Untuk zat besi, Jengkol mengandung 4,7 g per 100 g. Kekurangan zat besi dapat menyebabkan anemia. Gejala-gejala orang yang mengalami anemia defisiensi zat besi adalah kelelahan, lemah, pucat dan kurang bergairah, sakit kepala dan mudah marah, tidak mampu berkonsentrasi, serta rentan terhadap infeksi. Penderita anemia kronis menunjukkan bentuk kuku seperti sendok dan rapuh, pecah-pecah pada sudut mulut, lidah sulit menelan.

Remaja, wanita hamil, ibu menyusui, orang dewasa, dan vegetarian adalah yang paling berisiko untuk mengalami kekurangan zat besi. Di dalam tubuh, besi sebagian terletak dalam sel-sel darah merah sebagai heme, suatu pigmen yang mengandung inti sebuah atom besi.

Jengkol juga sangat baik bagi kesehatan tulang karena tinggi kandungan kalsium, yaitu 140 mg/ 100 g. Peran kalsium pada umumnya dapat dibagi menjadi dua, yaitu membantu pembentukan tulang dan gigi, serta mengatur proses biologis dalam tubuh.

Keperluan kalsium terbesar adalah pada saat masa pertumbuhan, tetapi pada masa dewasa konsumsi yang cukup sangat dianjurkan untuk memelihara kesehatan tulang. Konsumsi kalsium yang dianjurkan pada orang dewasa adalah 800 mg per hari.

Kandungan fosfor pada jengkol (166,7 mg/100 g) juga sangat penting untuk pembentukan tulang dan gigi, serta untuk penyimpanan dan pengeluaran energi. Dengan demikian, sesungguhnya banyak manfaat yang diperoleh dari mengonsumsi jengkol dan ini hanya masukan saja, bukan doktrin yang mengharuskan Anda untuk percaya dan mengikuti agar mengkonsumsi jengkol, tapi hanya sekedar Anda tahu bahwa ada khasiat dibalik sayuran polong berbau ini.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s