Beberapa Catatan tentang Masalah Agraria (1)



Mulai hari ini, Kompas memuat rangkaian tulisan seputar konflik agraria. Pada edisi kali ini, Kompas mengambil judul “Janji Pembaruan Agraria Tidak Pernah ditunaikan”. Saya memberikan apresiasi atas usaha Kompas dalam menarik benang kusut persoalan agraria di Indonesia. Sebagaimana kita tahu, masalah agraria di Indonesia adalah titik pangkal dari berbagai persoalan yang membelit Indonesia, mulai dari kemiskinan, pelanggaran HAM, hingga korupsi.

Mengapa terjadi konflik agraria? Dari berbagai literatur mengenai masalah-masalah agraria di Indonesia, kita akan dengan mudah menemukan fakta tentang adanya distribusi penguasaan sumber-sumber agraria yang tidak adil. Segelintir pengusaha pemegang Hak Pengelolaan Hutan, Hak Guna Usaha, Ijin Pertambangan, dan lain-lain, menguasai jutaan hektar lahan. Sementara jutaan petani miskin, masyarakat adat, dan masyarakat pinggir hutan yang hidupnya bergantung pada tanah dan sumber-sumber agraria lainnya, justru rata-rata menguasai tanah kurang dari satu hektar. Situasi ini yang disebut dengan ketimpangan penguasaan atas tanah atau biasa diringkas dengan sebutan “ketimpangan agraria”.

Apa hubungan “ketimpangan agraria” dengan “konflik agraria”? Saya sebenarnya merasa kurang pas dengan istilah “konflik agraria”. Istilah ini cenderung mengasumsikan bahwa pihak-pihak yang terlibat dalam “konflik agraria” memiliki basis legal yang sama. Sebagaimana kita tahu, yang dimaksud dengan konflik atau sengketa agraria adalah adanya “pertumbukkan klaim atas tanah” atau adanya berbagai–dua atau lebih–klaim terhadap satu obyek hukum yang bernama tanah atau sumber-sumber agraria.

Kita kerap menggunakan istilah “Konflik agraria” untuk menjelaskan fenomena ketika segelintir orang (yang sebenarnya menguasai jutaan hektar lahan) merebut secuil tanah yang dimiliki jutaan petani miskin, masyarakat adat, atau masyarakat miskin pedesaan lainnya. Dengan kondisi itu, inti dari konflik agraria adalah adanya perampasan terhadap manfaat yang dihasilkan jutaan petani miskin, masyarakat adat, dan masyarakat miskin pedesaan dari secuil tanah yang dimiliki atau digarap. Kenapa kita tidak to the point, dari pada kita menggunakan “konflik agraria” yang terkesan netral (dan kurang sensitif terhadap dimensi keadilan masyarakat), lebih baik kita gunakan istilah yang lebih lugas: “perampasan tanah”.

Masalah agraria hendaknya tidak disimak semata-mata urusan tanah atau (lebih sempit lagi) masalah kepemilikan atas tanah. Masalah agraria adalah masalah tentang bagaimana distribusi manfaat sosial ekonomi atas sumber daya agraria secara adil. Karenanya, mungkin sedikit berbeda dengan beberapa teman yang memberikan pengertian konflik agraria sebagai adanya , saya lebih condong melihat konflik agraria sebagai adanya pola distribusi manfaat yang tidak adil atas sumber-sumber daya agraria.

Perampasan tanah dapat berbentuk serangan bulldozer yang merobohkan rumah dan tanaman petani atau melalui amar putusan pengadilan negeri atas kasus yang disebut-sebut sebagai “sengketa tanah”. Namun, dibalik bentuk-bentuk yang berbeda, perampasan hak yang umumnya bersifat yuridis terdapat perampasan terhadap manfaat yang dihasilkan dari tanah yang digarap dan didiami yang selama ini menjadi payung pelindung ekonomi dan sosial dari petani-petani miskin, masyarakat adat, atau masyarakat miskin pedesaan lainnya.

Poin yang hendak saya tekankan di sini, penyelesaian akar permasalahan agraria tidak cukup dengan hanya pendekatan legal formal melalui redistribusi sertifikat hak atas tanah. Penyelesaian masalah akibat perampasan tanah tidak cukup dengan sekadar “tanah ganti tanah”. Sebab, di atas tanah yang selama ini didiami, ditinggali, atau digarap dan dijadikan ladang pertanian, terkandung nilai sosial yang menghidupi orang-orang yang berdiam di atasnya.

Karenanya, benar jika dikatakan masalah agraria tidak semata-mata masalah tanah, namun obyek utama land reform–sebagai penyelesaian optimum atas masalah-masalah agraria adalah tanah?

1 thought on “Beberapa Catatan tentang Masalah Agraria (1)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s