Kepala Bappenas: Infrastruktur Menghambat Perdagangan


Perdagangan diakui sebagai salah-satu kunci dalam pembangunan di Indonesia. Sekitar 5% GDP Indonesia disumbang oleh aktivitas perdagangan. Namun infrastruktur menjadi kendala utama dalam menggenjot pertumbuhan perdagangan di Indonesia.

Demikian yang dinyatakan Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Negara/Kepala Bappenas, DR. Armida Alisjahbana dalam forum Joint OECD-WTO Dialogue, Aid for Trade: Showing Results, yang diadakan disela-sela High Level Forum on Aid Effectiveness, di Busan, 29 November 2011.

Dr. Armida mengatakan, saat ini Indonesia aktif menjalin mitra-mitra dagang baru dan terus berupaya melakukan diversifikasi komoditi untuk diperdagangkan secara internasional. Dengan memanfaatkan fasilitas Aid for Trade, Indonesia juga bekerja keras mendorong munculnya pelaku-pelaku ekonomi baru, khususnya dari kalangan industri skala kecil untuk bisa berkiprah dalam aktivitas perdagangan internasional.

Akan tetapi, upaya ini diakui masih belum maksimal, mengingat masih banyaknya kendala dalam hal infrastruktur pendukung aktivitas ekonomi di Indonesia. Masalah ini tidak hanya menghambat laju pertumbuhan ekspor, melainkan juga berdampak pada masalah konektivitas dalam hal perdagangan domestik, mengingat kondisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan.

Untuk itu, pemerintah mengundang negara-negara donor dan sektor swasta untuk turut serta menanamkan modalnya dalam mengembangkan infrastruktur di Indonesia.

Saat ini, Indonesia adalah negara ke-6 penerima bantuan luar negeri dalam skema aid for trade. Berdasarkan data OECD 2009, komitmen global dalam aid for trade mencapai 40 milyar dollar, meningkat 60% dari periode 2002-05. Alokasi terbesar aid for trade ditujukan pada pengembangan infrastruktur ekonomi, pengembangan kapasitas, penyusunan regulasi, dan penyesuaian kebijakan.

Jika menyimak data OECD, bantuan terkait dengan perdagangan yang diterima Indonesia memang cukup besar. Misalnya dalam hal infrastruktur ekonomi dan jasa meningkat dari $171.38 juta pada tahun 2005 menjadi $509.62 juta pada tahun 2009. Sementara bantuan untuk sektor produksi juga mengalami peningkatan dari $148.22 juta pada tahun 2005 menjadi $186.26 juta pada tahun 2009.

Rata-rata tiap tahun, Indonesia menerima bantuan sebesar $500.59 juta untuk infrastruktur dan $252.79 juta dollar untuk sektor produksi.

Selain berbicara tentang perdagangan, dalam forum tersebut, Dr. Armida juga menjelaskan tentang manfaat dan peran serta Indonesia dalam kerjasama Selatan-Selatan. Menurut Armida, Kerjasama Selatan-Selatan adalah salah-satu inovasi penting dalam pembangunan internasional belakangan ini, yang menjembatani pertukaran pengalaman dan pelajaran dalam pembangunan antara negara-negara Selatan yang dilakukan dalam berbagai forum regional seperti ASEAN, APEC, dll.

Selain sharing knowledge dan lesson learn dalam pembangunan, kerjasama selatan-selatan juga didorong untuk bisa menjadi jembatan perdagangan baru guna memasarkan produk-produk Indonesia.

Sayangnya, forum ini tidak membahas mengenai dampak negatif dari perjanjian-perjanjian luar negeri bidang perdagangan terhadap industri di Indonesia, khususnya industri skala kecil. Sebagaimana disimpulkan indef dalam tinjauan tengah tahun perekonomian Indonesia, akibat perdagangan bebas—khususnya dalam skema CAFTA—pertumbuhan industri tertekan pada tingkat 2-3% per tahun, hampir separuh dari pertumbuhan ekonomi rata-rata yang mencapai 5-6% per tahun.

Padahal, kondisi ini bukan tidak mungkin merupakan dampak dari dorongan pembukaan pasar yang merupakan kondisionalitas yang tertuang dalam skema aid for trade. ***

® Syamsul Ardiansyah
Busan, 29 November 2011

Syamsul Ardiansyah
http://syamsuladzic.blogspot.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s