Multikulturalisme dan Fundamentalisme


Oktober 2010 lalu, Kanselir Jerman, Angela Markel memberikan pidato tentang gagalnya multikulturalisme di Jerman. Pidato ini mengindikasikan akhir eksperimentasi multikulturalisme di Jerman yang tentu saja membawa makna yang sangat khusus bagi Eropa. (Lihat Kompas)

Februari 2011 lalu, pidato yang sama juga disampaikan Perdana Menteri Inggris, David Cameron. Sebagaimana dimuat Kompas, “Inggris memerlukan jatidiri nasional yang lebih kuat untuk mencegah berkembangnya paham ekstrem”, ujar PM David Cameron.

Kedua pidato tersebut menegaskan arus balik globalisasi di negara-negara maju, khususnya Eropa dan Amerika Serikat.

Selain Jerman dan Inggris, gejala berakhirnya multikulturalisme telah tumbuh luas di Perancis dan Amerika Serikat. Wujudnya beraneka ragam, mulai dari adanya kerusuhan-kerusuhan berbasis etnis sampai dengan adanya kebijakan keimigrasian yang lebih ketat dan spesifik.

Migrasi

Multikulturalisme adalah fenomena yang tidak terhindarkan sebagai konsekuensi dari globalisasi. Fenomena ini terjadi sebagai konsekuensi dari derasnya migrasi tenaga kerja dari negara-negara miskin dan berkembang ke pusat-pusat industri dan jasa di Amerika Serikat dan Eropa.

Pada perkembangannya, proses migrasi ini tidak hanya mengisi lowongan kerja pada sektor informal, melainkan sudah merangsek masuk pada jajaran menengah dan atas. Meningkatnya permintaan atas pekerja terdidik yang murah dari di pusat-pusat industri menjadi faktor penarik yang paling penting bagi masuknya pekerja terdidik negara berkembang ke Eropa maupun Amerika Serikat.

Dominasi pekerja informal hingga menengah dari negara-negara berkembang inilah yang menggeser posisi pekerja asli Eropa dan Amerika Serikat. Pengangguran di kalangan pekerja lokal inilah yang kemudian membakar munculnya sentimen anti-pendatang di negara-negara maju.

Di sisi lain, migrasi tenaga kerja terdidik dari negara-negara berkembang ke negara-negara maju, menyebabkan munculnya fenomena “braindrain” (kekeringan tenaga terdidik). Fenomena inilah yang menyuburkan tumbuhnya fundamentalisme di tengah ketidakmampuan negara-negara tersebut untuk keluar dari jeratan kemiskinan.

Dan karenanya, krisis adalah akar dari semua fenomena yang kita sebut di atas.

Syamsul Ardiansyah
http://syamsuladzic.blogspot.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s