Kekerasan di Mesir, to be continue?


Demonstran dari Kristen dan Muslim menyerukan penghentian kekerasan yang mengatasnamakan agama.

Lebih dari 180 orang terluka dan 12 lainnya dinyatakan tewas menyusul kekerasan antara kaum Muslim penganut paham Salafi dengan jemaat Kristen Koptik di Kairo, menyusul serangan terhadap dua gereja Kristen Koptik Sabtu (7/5) lalu.

Pemerintah bertindak cepat. Kurang lebih 190 orang ditangkap pihak militer karena diduga terlibat dalam aksi kekerasan dan pembakaran terhadap dua gereja Kristen Koptik dan akan dijebloskan dalam pengadilan militer. Selain itu, Menteri Kehakiman Mesir, Abdel Aziz al-Gindi mengancam akan menerapkan tangan besi untuk menindas pada pelaku penyerangan dan kekerasan.

Penyebab

Menurut pemberitaan BBC, kekerasan yang terjadi pada sabtu (7/5) lalu dimulai ketika ratusan umat Muslim Salafi konservatif berkumpul di depan gerbang Gereja Saint Mena, di distrik Imbada, Kairo. Mereka memprotes penahanan terhadap seorang perempuan Kristen bernama Abeer yang berpindah agama menjadi muslim setelah menikah dengan seorang pria muslim.

Melalui stasiun Televisi, Camilia Shehata, perempuan yang juga diklaim telah ditahan akibat berpindah agama, tersebut sebenarnya telah membantah adanya penahanan atas dirinya. Namun pernyataan ini seolah tidak berpengaruh banyak.

Menurut para saksi, konfrontasi terjadi setelah para pemrotes dan penjaga gereja serta warga setempat saling berteriak. Kemudian disusul dengan adanya lemparan bom api dan batu. Terdengar pula suara-suara tembakan dari arah penyerang. Akibatnya, gereja Saint Mena dan satu gereja di dekatnya terbakar. Butuh waktu berjam-jam bagi pemadam kebakaran dan pihak militer untuk mengatasi api dan mengendalikan keadaan.

Menuai Kecaman

Peristiwa seperti ini memang bukan yang pertama kali terjadi di Mesir. Sebelumnya, pada saat pergantian tahun 2011, sebuah bom meledak di depan Gereja Kristen Koptik di Kota Aleksandria. Dilaporkan, 21 orang tewas akibat serangan teror tersebut.

Kekerasan antar umat beragama terus berlangsung setelah mundurnya Mobarak 11 Februari 2011. Sebulan setelah jatuhnya Mobarak, kekerasan antar penganut agama kembali terjadi. Saat itu, pada 11 Maret 2011, ratusan jemaat Kristen Koptik yang tengah berdemonstrasi menentang perusakan gereja diserang sekelompok Muslim Salafi. Dilaporkan 13 orang tewas, semuanya dari pihak jemaat Kristen Koptik.

Kini, konflik yang kian memburuk antar dua kelompok minoritas; Muslim konservatif Penganut Salafi dengan jemaat Kristen Koptik; memaksa Perdana Menteri Essam Sharaf membatalkan rencana kunjungannya ke beberapa negara di kawasan Teluk guna memimpin rapat darurat membahas penanganan krisis.

Para pengamat menilai, kekerasan ini terjadi akibat rendahnya kredibilitas pemerintah di mata rakyat. Kaum muslim salafi yang dikenal konservatif menganggap Mesir saat ini berada dalam kondisi “vacuum of power” yang membuatnya merasa leluasa untuk menegakkan ajaran sesuai paham yang diyakininya.

Sementara itu, kaum Kristen Koptik menganggap pemerintah tidak berwibawa setelah tidak mampu menghentikan rangkaian aksi kekerasan dan teror yang menimpa jemaatnya. Hal inilah yang mendorong Jemaat Kristen untuk melakukan tindakan-tindakan melawan dalam rangka membela diri.

Sulit untuk mengatakan bahwa kekerasan yang terjadi di Mesir adalah konflik mayoritas versus minoritas. Mengingat, mayoritas masyarakat Mesir, termasuk kaum muslim sunni di Mesir, dikenal moderat. Salafi sendiri adalah minoritas yang menyempal dari Ikhwanul Muslimin yang dianggap terlalu moderat. Demikian pula dengan jemaat Kristen Koptik yang jumlahnya sekitar 20 persen dari total populasi Mesir.

Ekspresi mayoritas tercermin dari sikap Al-Ahram, koran terbesar di Mesir, yang justru menuding kekerasan tersebut sebagai aksi dari kelompok-kelompok kecil yang tidak menyukai perubahan politik yang terjadi pasca jatuhnya Mobarak.

“Kita menghadapi kelompok-kelompok anti-revolusi yang meyakini bahwa keberhasilan revolusi telah memperbesar ancaman atas kepentingan dan karenanya terus berupaya untuk mengobarkan konflik”, tulis Al-Ahram.

Syamsul Ardiansyah
http://syamsuladzic.blogspot.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s