Pluralisme Pasca Mobarak


Mobarak menerapkan kebijakan yang represif guna mencegah agama dijadikan alat untuk berpolitik.

Pada saat Misa menyambut tahun baru 2011, sebuah bom mobil meledak di dekat Gereja al-Qiddissi, dekat Alexandria, Mesir. Saat itu, 21 orang tewas seketika. Presiden Mobarak mengutuk penyerangan tersebut. “This sinful act is part of a series of effort to drive a wedge between Copts and Moslem,” tegas Mobarak.

Bom mobil meledak dekat Gereka Al Qiddissin di Alexandria, Mesir pada saat Misa tahun baru 2011

Mobarak sepertinya sadar jika pembunuhan keji ini dibiarkan akan membawa dampak yang buruk bagi stabilitas politik. Terlebih, Mesir juga merupakan negara berulangkali dilanda ketegangan politik antar pengikut agama. Dalam pandangannya, pemboman gereja al-Qiddissi adalah pertanda bahwa Mesir menjadi target serangan teroris yang sebenarnya tidak membeda-bedakan sasarannya, baik Muslim maupun Kristen.

Dalam urusan menjaga kerukunan antar umat beragama dan kebebasan berkeyakinan, Mobarak memang bukan tanpa cela. Uskup Agung Arweis dari Alexandria menyatakan peristiwa ini disebabkan karena kurangnya perhatian pemerintah dalam melindungi pelaksanaan ibadah bagi minoritas Kristen di Mesir.

Terlebih, sama halnya dengan di Indonesia, minoritas Kristen yang hanya berjumlah 10 persen dari 85 juta penduduk di negara tersebut kerap bentrok dengan aparat kepolisian akibat berbagai hal. Mulai dari sulitnya mendapatkan pekerjaan hingga masalah-masalah akibat adanya berbagai hambatan untuk menjalankan ibadah, misalnya hambatan dalam pendirian tempat ibadah.

“Jasa” Mobarak

Meskipun Hosni Mobarak adalah seorang muslim yang memimpin sebuah negara yang menjadi salah-satu kiblat pendidikan Islam terkemuka di dunia, namun haluan politiknya cenderung sekuler. Mobarak adalah seorang nasionalis, jelas Mohamad Guntur Romli dalam diskusi di infid, Jumat (4/2) lalu.

Al Azhar dilihat dari udara

Demi menjaga pandangan politiknya, Mobarak memberikan subsidi yang cukup besar kepada Universitas Al Azhar. Subsidi tersebut ditujukan untuk mengembangkan pendidikan Islam di Al Azhar dalam garis yang moderat, toleran, dan afirmatif terhadap perubahan jaman. Oleh karena subsidi itulah, setelah melewati seleksi masuk yang cukup ketat, para mahasiswa Al Azhar menikmati banyak privilese.

“Tidak seperti di Indonesia, yang mana mahasiswa harus bayar uang kuliah, di Al Azhar para mahasiswanya dibayari oleh kampus selama belajar di Al Azhar,” jelas Zuhairi Misrawi yang juga menjadi pembicara dalam diskusi tersebut.

Berpegang pada konstitusi Mesir yang melarang agama dijadikan alat politik, Mobarak mengeluarkan kebijakan yang cukup kontroversial, dengan menjadikan Ikhwanul Muslimin (IM) sebagai organisasi terlarang. Selain itu, pemerintahan Mobarak juga menerapkan kontrol yang cukup ketat terhadap para ulama.

Tidak seperti di Indonesia, di mana para ulama memiliki kebebasan untuk memberikan ceramah dan khotbah. Ulama-ulama di Mesir diwajibkan untuk memberitahukan setiap materi ceramah dan khotbah yang hendak mereka berikan kepada jemaahnya.

Menurut Zuhairi Misrawi, di mesjid di mana ElBaradei melaksanakan Shalat Jumat, Khatibnya memberikan ceramah yang berupaya mencegah membesarnya gelombang kemarahan massa. “Saat itu, khatib yang rencananya akan memberikan ceramah di mesjidnya ElBaradei, diganti pada last minutes, menjelang dia naik ke mimbar,” jelas Zuhairi Misrawi.

Mirip Soeharto

Mendengar penjelasan Mohamad Guntur Romli dan Zuhairi Misrawi tentang dinamika politik di Mesir, saya jadi kembali ingat terhadap Orde Baru pimpinan Soeharto. Pada saat itu, Soeharto juga menerapkan kebijakan yang relatif sama terhadap institusi-institusi keagamaan yang ada di Indonesia.

Soeharto menerapkan kebijakan yang cukup ketat dalam mengkooptasi lembaga keagamaan seperti Majelis Ulama Indonesia guna mencegah keluarnya fatwa yang bertentangan dengan kepentingan politiknya. Soeharto menerapkan kebijakan azas tunggal yang secara eksplisit menentang adanya azas atau ideologi lain selain Pancasila terhadap semua organisasi politik yang di Indonesia.

Akan tetapi, sikap keras seperti yang dilakukan Soeharto, tokh tidak bisa bertahan lama. Sikap ini hancur seiring dengan tumbangnya kekuasaan Soeharto. Eksploitasi agama untuk kepentingan politik justru terus terjadi. Bahkan, setelah jatuhnya Soeharto, kekerasan dan konflik atasnama agama-agama justru marak sampai melahirkan berbagai tragedy seperti yang terjadi di Ambon dan Poso.

Sampai saat ini, kekerasan atas nama agama terus terjadi dan kian mengancam keharmonisan hubungan sosial di dalam rumah bangsa yang bernama Indonesia. Masyarakat, khususnya mayoritas umat Muslim, seolah tersandera oleh adanya segelintir kalangan yang menggunakan Islam sebagai justifikasi untuk melakukan tindakan kekerasan.

Seperti halnya yang terjadi di Indonesia saat ini, para pelaku kekerasan yang mengatasnamakan agama secara jeli memanfaatkan kelemahan-kelemahan pemerintah akibat rendahnya akuntabilitas pemerintah di berbagai bidang kehidupan sosial, ekonomi, politik, bahkan moral.

Bagaimana dengan Mesir?

Besar kemungkinan, apa yang terjadi di Indonesia akan juga terjadi di Mesir di era pasca Mobarak. Saya tidak yakin jika pemerintahan di Mesir akan bisa menjawab masalah-masalah sosial ekonomi yang sebenarnya menjadi sumber keresahan massa saat ini.

Dengan prediksi pemerintahan akan berupa koalisi pelangi, seperti pemerintahan SBY saat ini, rejim yang nanti akan berkuasa di Mesir, besar kemungkinan akan dipaksa mengakomodir berbagai pandangan dan kepentingan, termasuk pandangan dan kepentingan yang sebenarnya melanggar ketentuan hukum dan konstitusi yang berlaku di Mesir.

Universitas Al Azhar yang selama puluhan tahun berada di bawah pengaruh Mobarak, kemungkinan besar akan bernasib seperti MUI di Indonesia. Keduanya akan tetap ada, namun mungkin sudah “tidak berguna”. Menyimak sikap MUI terhadap Ahmadiyah misalnya, MUI justru condong untuk memberikan pembenaran pada tindakan-tindakan kekerasan segelintir orang terhadap jemaah Ahmadiyah.

Saya menduga, dalam waktu dekat, Al Azhar akan dipaksa “membersihkan” namanya dari pengaruh Mobarak yang sudah pasti akan tumbang. Komunikasi dengan oposisi dan lawan-lawan Mobarak sudah pasti harus dilakukan para petinggi Al Azhar untuk mencegah kebangkrutan. Upaya ke arah itu sudah dirintis dengan adanya keikutsertaan petinggi Al Azhar dalam barisan masa anti-Mobarak.

Pada putaran komunikasi berikutnya, bisa jadi Al Azhar dipaksa mengganti kurikulum dan system pengajaran untuk mengakomodir pandangan-pandangan dan metode pengajaran lain yang saat ini berkembang di Mesir. Tentu saja kita berharap, semoga Al Azhar tidak bernasib sama seperti MUI yang justru menjadi wadah yang memberikan legitimasi atas beragam praktik kekerasan yang mengatasnamakan agama.***.

 

Yolande Knell Middle East specialist


Sectarian tensions have been increasing recently across Egypt, with violent incidents every couple of weeks.

The Naga Hamady shooting that killed six Christians almost a year ago sounded alarm bells.

Divisions have widened in recent decades between Egypt’s Sunni Muslim majority and the Coptic Christian minority, who have become more religious.

Schools, political stagnation and the media are all blamed for increasing polarisation.

The security services are widely criticised. Often police delay their response to small sectarian disputes, meaning they escalate.

When crimes take place, there are indiscriminate arrests of equal numbers of Christians and Muslims, followed by reconciliation meetings. In 99% of cases perpetrators go unpunished.

Officials often deny sectarian problems exist and simply respond to clashes with calls for national unity.

Even if foreign links are proven, the scale of this latest attack will make it much harder to ignore.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s