Mesir Pasca Mobarak (2)


Gerakan Anti-Mobarak: Analisis Aktor dan Faktor

Selama kurang lebih 30 tahun kekuasaannya, gerakan protes terhadap kepemimpinan Hosni Mobarak sebenarnya telah berulangkali terjadi. Gelombang protes sebelumnya terjadi pada 6 April 2008. Gerakan tersebut merupakan seruan pemogokan pada 6 April 2008 yang disampaikan melalui sebuah group di facebook yang ditujukan untuk mendukung gerakan buruh di El-Mahalla el-Kubra, salah-satu kawasan industri di Mesir.  Gerakan ini berakhir dengan penangkapan para inisiator grup facebook tersebut, diantaranya Ahmed Maher dan Ahmed Salah.

Banyak pengamat terkejut pada gejolak yang terjadi di Mesir. Umumnya terheran-heran pada keberanian kaum muda dan kalangan pekerja, laki-laki maupun perempuannya, yang berani turun ke jalan menghadapi rejim yang didukung penuh oleh kekuatan intelijen, kepolisian, dan militer yang ditopang oleh berbagai persenjataan canggih bantuan dari Amerika Serikat. Terlebih, kekuatan oposisi di Mesir—dalam konteks kepartaian—sebenarnya tergolong sangat kecil dan jauh berada dibawah dominasi Partai Nasional Demokrat yang selama ini dibawah kepemimpinan Hosni Mobarak.

Siapakah aktor-aktor politik yang bermain di belakang gejolak politik di Mesir? Apa kepentingannya? Dan, seperti apa pengaruhnya?

Banyak spekulasi berkembang seputar latar belakang dan kekuatan yang bermain di belakang gejolak protes massa melawan Presiden Hosni Mobarak. Sebagian besar mata pengamat diarahkan untuk melihat pengaruh kekuatan-kekuatan oposisi Mesir, khususnya Ikhwanul Muslimin dan Mohamed ElBaradei sebagai pihak yang memimpin terjadinya gerilya jalanan di kota-kota Mesir menuntut turunnya Presiden Hosni Mobarak.

Namun, oposisi di Mesir sebenarnya jumlahnya relatif kecil dan terfragmentasi dibandingkan dengan kekuaran dan dominasi partai Nasional Demokrat (NDP) pimpinan Hosni Mobarak. Hanya Ikhwanul Muslimin yang memiliki dukungan paling besar, itu pun hanya 8 persen dibandingkan kekuatan NDP yang hampir 81 persen suara dalam pemilu 2005.  Dengan kata lain, kalaupun ada elemen-elemen pengaruh kelompok oposisi, namun jumlahnya relatif kecil dan tidak terlalu signifikan.

Sebagian yang lain mengarahkan pengamatannya pada kelompok pemuda radikal, penggagas gerakan 6 April yang selama ini aktif melakukan kerjasama dengan kelompok-kelompok gerakan buruh serta meraih popularitas politik melalui “gerakan facebook”. Terlebih, salah-satu inisiator gerakan 25 Januari 2011 adalah Azmaa Mahfouz, seorang aktivis pejuang emansipasi perempuan, adalah salah-satu pemrakarsa Gerakan 6 April 2008.

Jika disimak dari kronologi gerakan yang mulai meledak tanggal 25 Januari 2011, pengaruh kekuatan pemuda radikal dan gerakan buruh di Mesir memang terasa cukup kuat. Terinspirasi oleh kebangkitan rakyat di Tunisia yang berhasil menendang Zine Abidine ben Ali, para pemuda menetapkan tanggal 25 Januari 2011—bertepatan dengan hari kepolisian nasional Mesir—sebagai momentum aksi untuk mengecam brutalitas polisi, UU negara dalam keadaan darurat, tidak adanya kebebasan dalam pemilu, inflasi pangan, dan upah minimum yang sangat rendah.

Dengan meluasnya gerakan ke hampir seluruh kota di Mesir menunjukkan gerakan ini memiliki kekuatan yang patut diperhitungkan. Perluasan ini tidak mungkin terjadi secara spontan tanpa adanya upaya-upaya penggalangan dan konsolidasi di kalangan aktivis-aktivis muda Mesir sebelumnya. Akan tetapi, besarnya kekuatan politik kaum muda Mesir tidak disertai dengan munculnya figur yang tampil secara nasional. Kelemahan-kelemahan inilah yang dengan cepat dimanfaatkan oleh kekuatan-kekuatan oposisi yang mengambil-alih komunikasi politik dengan rejim Mobarak.

Spekulasi lain adalah gejolak tersebut sebenarnya merupakan akibat dari ketidakpuasan kalangan dekat Hosni Mobarak yang kecewa atas rencananya yang hendak mewariskan tongkat kepemimpinan Mesir kepada anaknya, Gamal Mobarak. Gamal Mobarak dipandang bukan figur yang tepat untuk menggantikan ayahnya memimpin sebuah negeri yang berada di tengah kawasan yang terus bergejolak seperti Mesir.

Dugaan ini bisa saja terjadi namun sepertinya tidak signifikan dalam memobilisasi massa rakyat untuk melawan Mobarak. Gamal Mobarak bukanlah figur yang kuat dalam kancah politik Mesir. Dia hanyalah seorang banker yang sepertinya akan kesulitan mengonsolidasikan jenderal-jenderal senior yang selama ini bekerja bersama ayahnya, Hosni Mobarak.

Kelompok lain yang diduga terlibat dalam gejolak politik di Mesir adalah kekuatan militer. Sejak 28 Januari 2011, militer Mesir menyatakan berada dalam pihak yang netral dalam pergolakan politik menentang Mobarak. Sikap ini disinyalir akibat adanya tekanan dari Amerika Serikat kepada militer Mesir untuk tidak menggunakan fasilitas yang berasal dari bantuan milter AS untuk menentang gelombang aksi massa menentang Mobarak.

Dugaan yang lain menduga adanya keterlibatan Amerika Serikat dalam upaya penggulingan Hosni Mobarak. Salah-satu analisis terkait dengan dugaan ini disampaikan Michel Chossudovksy, pengamat masalah politik internasional dari Global Research. Menurut Chossudovsky, tidak ada slogan anti Amerika di dalam setiap tuntutan massa yang menghendaki mundurnya Mobarak.  Analisis tentang keterlibatan Amerika Serikat juga diperkuat oleh bocoran kawat diplomatik AS melalui situs wikileaks yang menyatakan bahwa selama ini Amerika tidak hanya membantu militer Mesir yang berada dibawah Mobarak, melainkan juga menggelontorkan hibah jutaan dollar AS melalui USAID untuk membantu berkembangnya kelompok pro-demokrasi di Mesir.

Dugaan keterlibatan AS semakin kuat pasca keluarnya pernyataan Barrack Obama yang secara implisit meminta Mobarak untuk segera meletakkan jabatan. Obama menyatakan bahwa pihaknya mendengar aspirasi rakyat Mesir dan menyatakan membuka ruang bagi rakyat Mesir untuk menentukan masa depan politiknya pasca Mobarak. Pernyataan Obama dinilai cukup mengejutkan mengingat selama 30 tahun pemerintahannya, Mobarak tergolong sebagai adalah sekutu AS paling loyal di Timur Tengah.

Di luar spekulasi-spekulasi tersebut, tidak ada gerakan yang lahir hanya karena satu faktor yang menjadi penyebab. Gerakan sosial, khususnya dengan tingkat keikutsertaan massa yang sangat besar seperti yang terjadi di Mesir saat ini adalah kombinasi dari berbagai faktor yang saling terkait. Diantara penyebab tumbuhnya gerakan di Mesir, terdapat faktor-faktor ekonomi, yang disebut-sebut akibat inflasi harga pangan dan energi, terdapat pula faktor-faktor politik seperti kekerasan dan pembatasan kebebasan demokratis akibat penerapan UU darurat sejak 1961. Selain itu, terdapat pula faktor kebebasan beragama yang disinyalir turut memojokkan posisi Mobarak.

Sebagaimana dituturkan oleh Zuhairi Misrawi dalam diskusi di Infid, Jumat (4/2) lalu, pemerintahan Mobarak melakukan kontrol yang sangat ketat terhadap institusi keagamaan. “Pasca demonstrasi besar di Mesir tanggal 27 Januari 2011, para khatib jumat yang berceramah pada mesjid-mesjid di Kairo justru menyerukan agar masyarakat tenang dan meredam kemarahan, bertolak belakang dengan seruan di jalanan yang menyatakan the day of anger,” ujar Zuhairi.

Masalah kekerasan terhadap kebebasan beragama juga dirasakan oleh penganut Kristen Koptik di Mesir. Sebagaimana terjadi pada pergantian tahun 2011 lalu, bom mobil meledak dekat Gereja Kristen Koptik di Alexandria pada saat ribuan umat Kristen Koptik melakukan ibadah misa. Sekitar 23 orang tewas akibat ledakan tersebut. Pemerintah Mobarak memang segera melakukan langkah hukum dengan menangkapi orang-orang yang diduga terlibat. Namun penangkapan tersebut tidak bisa meredam kemarahan para Jemaat Gereja Koptik yang selama bertahun-tahun mengalami berbagai bentuk diskriminasi.

 

Bersambung ke bagian ketiga klik disini

Tulisan Sebelumnya, klik disini

3 thoughts on “Mesir Pasca Mobarak (2)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s