Mesir Pasca Mobarak (3)


Transisi Pasca Mobarak

Presiden Hosni Mobarak sudah membubarkan kabinet, mengangkat Omar Suleiman sebagai wakil presiden dan Ahmad Shafik sebagai Perdana Menteri. Omar Suleiman ditugaskan untuk melakukan dialog dengan seluruh elemen oposisi, termasuk Ikhwanul Muslimin untuk membahas penyelesaian gejolak politik yang terjadi di negara tersebut. 

Sementara PM Ahmad Shafik ditunjuk untuk membenahi pemerintahan, mengerem inflasi pangan, dan sebisa mungkin memenuhi tuntutan massa yang menghendaki perbaikan sosial ekonomi dan politik. Presiden Hosni Mobarak pun telah mengumumkan rencana pemilihan umum yang akan digelar pada bulan September 2011 yang akan datang dengan janji tidak akan mencalonkan diri sebagai presiden untuk periode berikutnya.

Perubahan pemerintahan di Mesir tidak menyurutkan gelombang aksi protes yang semakin membesar. By design atau tidak gelombang aksi besar menentang Mobarak memunculkan reaksi dari kalangan yang menyatakan diri pendukung Mobarak. Sebagian dari kalangan ini disebut-sebut berasal dari kepolisian dan keluarganya yang memang terdesak menjadi pihak dari kalangan massa yang paling tersudut akibat gerakan 25 Januari 2011.

Pada awalnya, kelompok ini berhimpun di halaman depan Museum Nasional Kairo, namun kemudian bergerak menuju Tahrir Square yang menjadi pusat gerakan menentang Mobarak. Kekerasan pun terjadi dan meluas ke berbagai penjuru kota. Pertentangan berdarah yang merenggut ratusan nyawa ini memancing reaksi dari berbagai kalangan yang menuntut agar pihak-pihak yang bertentangan di Mesir untuk segera melakukan dialog.

Akan tetapi, kemungkinan dialog yang dimaksud belum bisa diselenggarakan karena khususnya kalangan oposisi masih belum yakin pada kesungguhan pemerintah memenuhi tuntutan massa. Pihak Ikhwanul Muslimin misalnya, mereka menyatakan baru akan terlibat dalam dialog jika Hosni Mobarak sudah mengundurkan diri dari jabatan presiden.

Sadar jika dominasinya semakin pudar, Hosni Mobarak menyatakan mengundurkan diri dari kepemimpinan partai Nasional Demokrat. Hal ini diikuti dengan perubahan struktur dalam partai tersebut dengan tidak lagi menempatkan Gamal Mobarak sebagai sekretaris jenderal partai. Dengan demikian, kemungkinan pencalonan Gamal Mobarak sebagai presiden pun sangat kecil.

Hosni Mobarak belum mau mengundurkan diri karena dalam tradisi politik Timur Tengah, hanya ada dua kemungkinan bagi mantan pemimpin yang terguling, yakni melarikan diri—sebagaimana yang dilakukan Ben Ali—atau dihukum mati. Hosni Mobarak baru ingin melepaskan kepemimpinannya jika ada jaminan bahwa dirinya masih boleh berada di Mesir dan tidak dikenai hukuman.

Pada dinamika terkini, muncul desakan agar Hosni Mobarak segera melimpahkan kekuasaannya kepada Omar Suleiman untuk membuka jalan bagi masuknya Ikhwanul Muslimin ke dalam proses dialog. Selain itu, Muhamed ElBaradei juga sudah menyatakan bahwa Mobarak harus turun secara terhormat. Sementara pihak Ikhwanul Muslimin juga sudah menyatakan bersedia untuk terlibat dalam proses dialog.

Peranan Ikhwanul Muslimin?

Sejauh ini belum ada kejelasan tentang ke mana arah pergolakan politik yang terjadi di Mesir. Banyak kalangan menduga bahwa situasi ini memberikan keuntungan pada kelompok Ikhwanul Muslimin untuk mengambil tampuk kekuasaan politik di Mesir. Mengingat, meski menjadi partai terlarang dan secara konstitusi Mesir tidak memberikan ruang pada berdirinya partai politik berbasis agama, namun Ikhwanul Muslimin tergolong sebagai kelompok oposisi yang paling solid, secara politik maupun organisasi.

Sejauh ini, Ikhwanul Muslimin menyatakan pihaknya mendukung proses penggulingan Mobarak dan mendukung tampilnya Mohamad ElBaradei untuk mengambil-alih kekuasaan pasca Mobarak. Ikhwanul Muslimin di Mesir juga menyatakan menolak usulan Ayatullah Ali Khamenei yang meminta mereka mengubah gejolak politik di Mesir menjadi revolusi Islam. Namun banyak kalangan menduga sikap tersebut ditujukan semata-mata untuk menepis kekhawatiran barat terhadap niat politik Ikhwanul Muslimin.

Terlebih, Mobarak juga menggunakan isu tentang Ikhwanul Muslimin untuk mempertahankan dukungan barat dan Israel terhadap kekuasaannya. Dengan pengalaman politik yang cukup panjang, amatlah logis jika Ikhwanul Muslimin tidak menghendaki perkembangan politik saat ini menjadi prematur terhadap kepentingannya. Sikap Ikhwanul Muslimin yang mendukung ElBaradei diduga lebih merupakan upaya untuk mengaburkan pandangan barat terhadap sikap politik mereka yang sebenarnya.

Mengamini ajakan Iran untuk menjadikan gejolak politik di Mesir sebagai revolusi Islam sama dengan “bunuh diri”, mengucilkan keberadaan Ikhwanul Muslimin di tengah massa Mesir yang sudah terbiasa pragmatis, bahkan bukan tidak mungkin menjauhkan mereka dari sekutu-sekutu oposisinya. Sudah pasti Ikhwanul Muslimin memiliki kepentingan untuk mengambil keuntungan politik dari perkembangan Mesir saat ini, namun mereka menginginkan peralihan kekuasaan yang legitimate dengan memenangkan pemilu.

Sementara ini, di tengah konsentrasi rejim Mobarak yang tertuju pada gelombang aksi besar menuntut pengunduran dirinya, Ikhwanul Muslimin cukup mendapatkan keuntungan dari situasi. Selain mendapatkan ekspose yang cukup besar dari media massa—yang memungkinkan mereka mensosialisasikan tindakan-tindakan dan arahan-arahan politiknya—Ikhwanul Muslimin juga diuntungkan dengan jebolnya beberapa penjara yang selama ini menahan banyak pimpinan penting Ikhwanul Muslimin akibat aksi pemboman yang diduga dilakukan Hamas dari Gaza dan Hezbollah dari Lebanon.

Peluang Ikhwanul Muslimin semakin besar ketika gerakan lain yang sesungguhnya memiliki pengaruh cukup besar di Mesir saat ini, yakni gerakan pemuda dan buruh, lebih merupakan gerakan sosial yang menuntut reformasi ekonomi namun tidak (belum) memiliki orientasi terhadap kekuasaan politik. Fenomena ini mirip dengan situasi di Indonesia 1998, yang mana gerakan pemuda dan mahasiswa yang turun ke jalan lebih banyak bersikap menjaga jarak dari upaya perebutan kekuasaan secara langsung dan cenderung bertahan sebagai “gerakan moral”.

Secara keagamaan, satu-satunya kekuatan yang bisa mengerem pengaruh ajaran Ikhwanul Muslimin adalah Universitas Al-Azhar. Berdasarkan pengamatan Zuhairi Misrawi dan Mohammad Guntur Romli, pengaruh Ikhwanul Muslimin di kampus Al Azhar sangatlah kecil, tidak sebanding dengan pengaruh di kampus-kampus lain yang “sekuler”. Akan tetapi, selama ini Al Azhar berada dibawah kooptasi Mobarak dan dimanjakan oleh subsidi yang sangat besar yang diberikan oleh Mobarak.

Melalui Al Azhar, Mobarak berkepentingan untuk menanamkan ajaran Islam yang moderat, toleran, dan logis. Prinsip ini berbeda dengan garis aqidah Ikhwanul Muslimin yang fundamental, anti-toleransi dan pluralisme, dan mengedepankan doktrin kepatuhan yang fatalis terhadap umatnya. Dengan posisi Mobarak yang kian tersudut dan sudah hampir terjungkal, besar kemungkinan Al Azhar akan turut terkena dampaknya.

Akankah Ikhwanul Muslimin bisa mengambil-alih kekuasaan politik di Mesir? Memang belum tentu Ikhwanul Muslimin bisa memenangkan Pemilu di Mesir. Terlebih, di luar aktor-aktor politik dari kalangan oposisi, terdapat sebuah gerakan yang sebenarnya menjadi tulang-punggung utama gerakan penjatuhan Mobarak, yakni kalangan pemuda, aktivis serikat buruh, dan para pejuang hak asasi manusia, yang besar kemungkinan berbeda paham dengan garis politik Ikhwanul Muslimin.

Namun seperti halnya yang terjadi di Indonesia pasca jatuhnya Soeharto, diperlukan sebuah konsensus yang luas diantara berbagai pihak yang ad adi Mesir untuk membangun pemerintahan baru pasca jatuhnya Mobarak. Keikutsertaan Ikhwanul Muslimin sebagai sebuah kekuatan politik, baik di Parlemen maupun di pemerintahan, adalah konsekuensi demokrasi yang tidak bisa dihindarkan. Pada saat ini, hal itu memang belum memungkinkan, mengingat konstitusi Mesir tidak membuka ruang bagi partai yang berbasis agama. Tapi di masa yang akan datang, belum tentu pembatasan itu bisa dipertahankan.

 

Bersambung ke bagian empat klik disini

Tulisan sebelumnya bagian satu, bagian dua

2 thoughts on “Mesir Pasca Mobarak (3)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s