Mesir Pasca Mobarak (1)


Saat ini, dunia dikejutkan oleh pergolakan politik yang terjadi di Timur Tengah. Pergolakan kali ini bukan lagi seputar konflik bersenjata yang terjadi di Irak atau Palestina, melainkan pergolakan politik yang terjadi di Tunisia, Mesir, dan Yaman. Dimulai dari pergolakan di Tunisia yang berhasil menyingkirkan Presiden Zine Abidine ben Ali, kemudian bergeser ke Yaman, dan masuk ke Mesir. Selain ketiga negara tersebut, pergolakan yang serupa juga terjadi di Yordania dan Aljazair.

Pergolakan politik tersebut umumnya terjadi di wilayah-wilayah negara yang selama ini pro-Barat namun—meminjam pernyataan Mohammad Guntur Romli—“fakir minyak”. Artinya tidak memiliki kekayaan minyak yang cukup besar dibandingkan dengan Arab Saudi, Qatar, atau Kuwait. Diantara–setidaknya tiga negara–yang saat ini bergejolak, pergolakan politik di Mesir menjadi berita yang paling banyak mendapatkan perhatian dari berbagai kalangan. Mengapa demikian?

Selain masalah kekayaan minyak yang “tidak seberapa”, Mesir memegang peranan strategis dalam hal dinamika politik Timur Tengah. Mesir, baik dari sisi pemerintahan maupun tokoh-tokoh individual, memegang berbagai posisi penting dalam kancah politik kawasan maupun internasional. Sebut saja beberapa tokoh, seperti Amr Mousa yang masih dipercaya sebagai sekretaris Jenderal Liga Arab. Kemudian Mohamed Mustafa AlBaradei yang pernah menjabat IAEA (badan PBB yang menangani masalah penggunaan senjata nuklir), Boutros-Boutros Gali yang pernah memegang jabatan sebagai Sekretaris Jenderal PBB.

Tidak hanya di bidang politik, Mesir juga memegang peranan penting dalam hal pendidikan Islam modern di seluruh dunia. Melalui Universitas Al Azhar, jutaan mahasiswa dari berbagai negara mempelajari Islam dari perspektif yang lebih moderat dan sesuai dengan perkembangan zaman. Sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di dunia, Universitas Al Azhar berperan tidak hanya dalam hal penyebaran Islam semata melainkan dalam rangka menghadirkan wajah Islam yang lebih manusiawi, santun, dialogis, toleran, dan moderat.

Munculnya tokoh-tokoh terkemuka sebagaimana disebut di atas maupun kokohnya eksistensi Universitas Al Azhar selaku universitas Islam paling terkemuka di seluruh dunia tidak terlepas dari peranan kepemimpinan Presiden Hosni Mobarak. Presiden yang berkuasa pasca terbunuhnya Anwar Sadat pada tahun 1981 itu memiliki perhatian yang cukup besar dalam pengembangan sumberdaya manusia Mesir. Untuk itu, setiap tahun jutaan dollar AS digelontorkan untuk menopang kegiatan belajar-mengajar di berbagai universitas terkemuka di mesir.

“Di Mesir, bukan mahasiswa yang wajib membayar biaya kuliah, melainkan dibayari untuk bisa mengikuti perkuliahan,” ujar Mohammad Guntur Romli dan diiyakan oleh Zuhairi Misrawi, keduanya pernah belajar di Al Azhar, Mesir.

Persoalan yang saat ini menjadi pertanyaan mendasar bukan lagi soal apakah Hosni Mobarak akan bisa diturunkan atau tidak? Masalah ini sudah terjawab dari gelombang aksi massa yang kian membesar, meski dilawan dengan kekerasan oleh gerakan pro-mubarak, menunjukkan bahwa era Mobarak sebenarnya sudah “selesai”. Cepat atau lambat, kekuasaan Mobarak akan “game over”. Masalah kita saat ini adalah seperti apa wajah Mesir pasca Mobarak?

 

Bersambung pada bagian kedua

3 thoughts on “Mesir Pasca Mobarak (1)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s