Mobarak (2011) dan Soeharto (1998)


Foto dari situs aljazeera http://english.aljazeera.net/photo_galleries/africa/2011125192646189116.html

Barangkali tidak berlebihan jika gerakan penggulingan Hosni Mobarak di Mesir saat ini mengingatkan kita pada momen-momen menjelang jatuhnya Soeharto tahun 1998 lalu.

Hosni Mobarak, Presiden Mesir saat ini hampir mirip dengan Soeharto. Dengan dukungan penuh dari Amerika Serikat, Mobarak telah memegang kekuasaan di Mesir hampir 30 tahun. Dikabarkan, dia memegang penuh kekuasaan birokrasi dan militer.

Gerakan yang terjadi di Mesir saat ini lahir dari komplikasi krisis ekonomi, korupsi, dan represi politik. Sepintas mirip dengan yang terjadi di Indonesia tahun 1998 lalu, yang dipicu oleh krisis ekonomi yang dikombinasikan dengan brutalitas politik Orde Baru.

Pola gerakannya pun hampir sama. Dimulai dari protes-protes kalangan pelajar dan mahasiswa, kemudian menyebar menjadi gerakan kalangan menengah dan akhirnya menjadi gerakan rakyat. Gerakan ini meluas seiring dengan semakin intensifnya represi militer terhadap elemen-elemen yang terlibat dalam gerakan.

Ketika protes meluas dan menjadi keresahan sosial, Soeharto sempat mengumumkan untuk merombak kabinet dan menjanjikan percepatan pemilu. Demikian pula dengan Hosni Mobarak, selain membubarkan kabinet, dirinya juga mengangkat Omar Suleiman sebagai wakil presiden dan Ahmed Shafiq sebagai perdana menteri. Namun, usaha Soeharto maupun Mobarak tidak ditanggapi massa yang terus memprotes dan menghendaki pengunduran diri sang presiden.

Di Indonesia tahun 1998, terdapat tokoh Amien Rais, Gus Dur, Megawati Soekarno Putri, dan Sri Sultan Hamengkubuwono X yang tampil ke permukaan pasca pertemuan Ciganjur. Sementara di Mesir 2011, terdapat tokoh Mohamad ElBaradei, peraih nobel dan mantan kepala badan nuklir PBB yang tampil sebagai pemimpin oposisi.

Pada saat kekuasaan politik Mobarak semakin memudar, Menlu AS saat ini, Hillary Clinton menyerukan agar Mobarak memenuhi tuntutan rakyat untuk menyelenggarakan reformasi demokratis. Persis seperti yang diserukan oleh Madeleine Albright kepada Soeharto untuk meletakkan jabatan.

Gerakan penggulingan Soeharto memuncak pada tanggal 20 Mei 1998 yang disusul dengan pengunduran diri Soeharto sehari setelahnya. Sedangkan gerakan penggulingan Hosni Mobarak masih berlanjut dengan kemungkinan yang terjadi sama dengan yang akan dialami Soeharto.

Perubahan politik terjadi cukup deras pada masa Soeharto meski suasana demokrasi hanya dinikmati sekejap sebelum akhirnya kekuasaan kembali diambil-alih oleh oligarki para koruptor. Akankah hal yang sama terjadi di Mesir di kemudian hari? Kita masih harus menunggu.

Overall, in the line of international people solidarity, we’re salutes and congratulates to all egyptian people!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s