Ponsel untuk TKI (Bagian 1)


Saya bisa merasakan mumetnya Presiden SBY saat mendapatkan laporan tentang penyiksaan yang dialami Sumiyati, TKI asal NTB yang bekerja di Saudi Arabia. Dengan cepat beliau memanggil menteri-menteri terkait untuk melakukan rapat terbatas. Hasilnya mengejutkan, untuk mencegah terjadinya penyiksaan, setiap TKI akan dibekali handphone.

Maksudnya untuk memudahkan komunikasi antara TKI dengan pejabat pemerintah di luar negeri, namun justru menjadi bahan olok-olokan. Saya memahami maksud Presiden SBY yang ingin keluar dengan sebuah solusi praktis dan strategis.

Masalahnya, jauh sebelum presiden mengemukakan pentingnya alat komunikasi berupa handphone, sudah banyak TKI yang sudah mencobanya. Tidak jarang jika mereka tengah berada dalam keadaan bahaya, mereka menggunakan telepon selulernya untuk menghubungi kantor perwakilan pemerintah Indonesia di luar negeri.

Tiap kali menghubungi KBRI/KJRI, seringkali dijawab oleh mesin penjawab, disuruh datang dulu ke kantor KBRI, bahkan ada yang dimaki-maki. Pada akhirnya, TKI dituntut untuk berjuang sendiri, sebagian berhasil lari, sebagian lagi mati. Untuk lebih jelasnya, barangkali Presiden SBY perlu menyimak kisah Elly Anita, survivor yang sekarang bekerja di MigrantCARE. Intinya, solusi yang dikemukakan Presiden SBY, terbukti tidak bisa menyelesaikan masalah.

1 thought on “Ponsel untuk TKI (Bagian 1)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s