Jangan Samakan Sepakbola Dengan Politik!


ept_sports_demambola-811322005-1277447120

Roberto Calderoli menuding pesepakbola imigran menjadi biang tersingkirnya Italia dari ajang Piala Dunia 2010. “Mereka dibayar jutaan, tapi punya kaki yang terbuat dari jelly dan napas pendek. Kekalahan ini membawa siksaan bagi tim nasional, dan mengakibatkan hasil yang tidak pantas sekaligus tak bisa diprediksi,” tutur Calderoli.

 roberto_calderoli_25016t1

“Eliminasi prematur timnas Italia di Piala Dunia adalah hasil dari ‘kebijakan gila’ seperti yang terlihat di sepak bola Italia. Serie A, Coppa Italia, dan Liga Champions, tak ada satu pun yang dimenangkan oleh orang Italia, termasuk pelatihnya,” lanjutnya lagi.

Tudingan Roberto Calderoli, politisi sayap kanan yang memang dikenal anti-imigrant, itu tentunya tidak relevan dengan konteks yang tengah dia perbincangkan. Tudingan ini muncul dari cara berpikir yang sesat dalam melihat perkembangan sepakbola saat ini. Sikap ini mirip dengan sikap untuk mencari kambinghitam, seperti sikap menyalahkan “jambulani” atau “vuvuzela” yang belakangan kerap muncul menyikapi kekalahan sebuah tim.

Terdapat dalil yang sangat berbeda antara politik dengan sepakbola dalam menafsirkan kemenangan. Kemenangan dalam sepakbola, tidak bisa diatur melalui lobby atau manipulasi, sebagaimana yang biasa terjadi di dunia politik. Pemilihan seorang pemain dalam skuad tim nasional maupun klub tidak bisa didasarkan atas kedekatan pada pelatih, sebagaimana terjadi dalam penunjukkan menteri atau pejabat di pemerintahan.

Berbeda dengan politik, yang mana kemenangan bisa diatur melalui lobby atau manipulasi, kemenangan suatu tim dalam sepakbola tidak bisa ditentukan oleh tindakan-tindakan seperti itu. Ketika dalil-dalil politik digunakan dalam sepakbola, seperti halnya skandal calciopoli yang sempat merebak jelang Piala Dunia 2006 di Jerman dan juga merebak kembali belakangan di Italia, yang terjadi hanyalah celaan dan makian yang sangat memalukan.

Saya merasa patut memuji sikap Marcello Lippi yang menerima dan menyatakan bertanggungjawab atas tersingkirnya Italia dari babak penyisihan Piala Dunia 2010. “Saya bertanggung jawab penuh (atas kegagalan ini). karena bila tim masuk dalam ajang penting seperti (Piala Dunia) dengan teror di kaki, kepala, dan hati, mereka sulit mengekspresikan diri sendiri dan itu berarti bahwa pelatih tak menyiapkan skuad dengan pantas,” kata Lippi, yang membawa Italia menjuarai Piala Dunia 2006 Jerman.

Bukan hanya menang, tapi juga indah

Sepakbola saat ini sudah tidak lagi sekadar olah-raga yang dimainkan di hampir seluruh penjuru dunia, melainkan telah berkembang menjadi industri. Sebagai suatu cabang olahraga, Sepakbola adalah cabang yang menjunjung tinggi asas sportivitas. Karenanya, dari setiap pertandingan di semua ajang, bendera fairplay menjadi bendera yang paling dulu masuk ke tengah lapangan.

Sebagai industri, sepakbola telah hadir sebagai salah-satu industri tontonan yang paling banyak digemari oleh masyarakat di seluruh dunia. Lihat saja, ajang-ajang sepakbola mulai dari pertandingan antar-kampung sampai pada pertandingan berskala dunia, pasti dipadati penonton. Tiap kali pertandingan, stadion bisa menjadi tempat pesta ribuan fans dengan berbagai ekspresi.

Cabang olahraga ini juga relatif paling komplet, tidak hanya fisik tapi kreativitas dan skill. Kombinasi antara kemampuan fisik, kreativitas, dan skill itulah yang menjadikan sepakbola sebagai tontonan yang paling banyak digemari masyarakat.

Oleh karenanya, jika merujuk pada ajang Liga Champion Eropa 2010 ini misalnya, publik lebih menyukai pertandingan Barcelona kontra Arsenal, yang mana kedua tim saling menyerang dan produktif dalam mencetak gol, dibandingkan dengan laga Barcelona dengan Intermilan, yang mana Inter memainkan taktik “negative football” saat laga tanda di markas Barca.

Atau, dalam ajang Piala Dunia 2010 ini, publik lebih menyukai pertandingan antara Argentina kontra Korea Selatan yang meskipun berakhir dengan kekalahan, namun kedua tim memainkan kualitas permainan yang luar biasa ketimbang laga penuh bintang antara Brazil kontra Portugal.

Sepakbola juga telah begitu lekat dalam psikososial masyarakat, sehingga kemenangan maupun kekalahan sebuah tim, bisa melahirkan berbagai ekspresi massal, mulai dari pesta pora di jalanan hingga kerusuhan sosial. Menurut saya, sepakbola menjadi salah-satu cabang yang paling dicintai karena permainannya relative mudah dimengerti dan fleksibel–relatif mudah dan murah–untuk dimainkan.

Sepakbola telah menjadi salah-satu kebutuhan sosial yang perlu dikelola secara baik. Jika tidak, bisa jadi bencana. Di Bangladesh misalnya, kerusuhan terjadi di Dakka pada saat-saat pembukaan Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan, hanya karena terjadi pemadaman listrik pada saat pertandingan pembuka Piala Dunia yang mempertemukan Afrika Selatan dengan Meksiko.

Tidak hanya itu, sepakbola menjadi bahasa universal yang mempersatukan seluruh bangsa di dunia. Dengan begitu, tidak heran, dibanding dengan cabang-cabang olah-raga lain, sepakbola mencatat sebagai cabang olahraga dengan jumlah penggemar paling besar.

Ketika sepakbola telah berkembang menjadi industri, profesionalitas menjadi aspek yang paling didahulukan. Persaingan tidak hanya berlaku diantara negara dan klub, melainkan juga sampai pada tingkat pemain.

Persaingan tersebut menemukan ujian konkretnya saat sebuah tim berlaga di sebuah pertandingan. Kualitas skill, strategi permainan, semangat tim, dan keterlibatan emosi massa dalam sebuah pertandingan menjadi faktor-faktor penentu utama kemenangan atau kekalahan sebuah tim.

Kekalahan dan kemenangan sebuah tim ditentukan dari kemampuannya meracik semua potensi kemenangan yang dimiliki. Tersingkirnya Italia yang menyusul Perancis adalah karena keduanya gagal meracik potensi-potensi tersebut untuk dikonversi menjadi kemenangan.

Terakhir, diantara beberapa tim-tim unggulan, Italia senasib dengan Perancis yang harus angkat koper lebih dulu dari Afrika Selatan. Apa mau dikata, itulah sepakbola!

Tulisan ini juga dimuat di Kompasiana

1 thought on “Jangan Samakan Sepakbola Dengan Politik!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s