Mengapa Menggugat Kartini?


Saya sampaikan keheranan saya setelah membaca tulisan Kartini “Diciptakan” Belanda. Kepada penulisnya, saya kemukakan sebuah keprihatinan. Saya mempertanyakan kenapa keterbatasan-keterbatasan Kartini dieksploitasi? Kenapa kelebihan-kelebihannya dicurigai?
Mungkin saya keliru, namun perlu saya sampaikan jika saya justru melihat adanya “kecemburuan” terhadap penokohan Kartini sebagai tokoh emansipasi perempuan Indonesia. Kecemburuan itu semakin terlihat jelas ketika secara implisit penulis membandingkan Kartini dengan tokoh-tokoh perempuan lain, seperti Rohana Kudus, Dewi Sartika, Tjut Nyak Dien, dan lain-lain.
Jika demikian, kasihan sekali Kartini. Tragedi dalam hidupnya yang singkat, harus diperpanjang dengan sengkarut praduga dan kontroversi atas segala yang pernah dia tulis dan yang semasa hidupnya dia jalani. Saya kira, Kartini tidak pernah membayangkan jika dirinya kelak akan diangkat sebagai tokoh nasional, yang mana hari kelahirannya dijadikan momentum bangkitnya emansipasi perempuan.
Jika Kartini hidup pada saat ini, mungkin dia akan dengan ikhlas melepaskan predikat yang selama ini disandangnya kepada tokoh-tokoh lain yang dikatakan jauh “lebih hebat” dibanding beliau. Dia juga mungkin akan meminta agar tanggal kelahirannya tidak perlu diperingati secara nasional.
Jujur saja, saya sendiri pengagum Kartini. Meski demikian, sejarah menurut saya adalah ruang yang sangat luas untuk memanggungkan tokoh-tokoh perempuan lain seperti Tjut Nyak Dien (1848-1908) dari Aceh, Dewi Sartika (1884-1947) dari Bandung, Roehana Koeddoes (1884-1972) dari Padang, Emmy Saelan (yang gugur dalam pemogokan “Stella Marris” sebagai protes terhadap penangkapan Dr. Sam Ratulangi), Sasmiya Sasmojo, Siti Sundari, dan sederet nama tokoh-tokoh perempuan lain yang patut diteladani.
Saya membayangkan, kelak mungkin kita bisa punya hari Tjut Nyak Dien, Hari Roehana Koeddoes, Hari Dewi Sartika, Hari Emmy Saelan, dan seterusnya, sehingga kita punya rujukan yang lebih kaya untuk menghargai peranan perempuan dalam perjuangan kebangsaan Indonesia.
Sebagai penutup, saya tergerak untuk berkata, tulislah sejarah secara kritis dan dewasa.***
Yogyakarta, 25 April 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s