Perempuan-perempuan Perkasa Pramudya Ananta Toer


Tulisan ini dibuat oleh Hanni Sofia dan dimuat di Antaranews.com pada Sabtu, 10 Maret 2007 20:54. Penulis tertarik menyajikannya kembali pada Hari Kartini tahun ini. Selamat membaca.
Perempuan-perempuan itu lahir dari sebuah perjalanan panjang yang menyisakan perih di suatu tempat bernama terali besi dan tempat pembuangan.
Keperihan dan perjalanan panjang mereka itulah yang kemudian membuat penulis “bengal” Pramudya Ananta Toer jatuh cinta pada mereka.
Pria yang pernah mendekam sebagai tahanan di Pulau Buru itu menjadikan perempuan-perempuan itu sebagai sudut pandang dalam imajinasi dan dijelmakan menjadi tokoh dalam roman-romannya.
Pram pun kemudian membingkai para perempuan yang menjadi perkasa (meminjam istilah Hartojo Andangjaya dalam Perempuan-perempuan Perkasa) akibat ketertindasan dan menjadikannya sebuah potret abadi agar terus dapat dimaknai para penerusnya.
Para perempuan perkasa itu muncul sebagai Nyi Ontosoroh dalam Bumi Manusia, Midah dalam Midah Si Manis Bergigi Emas, atau si produk feodal Ken Dedes dan produk masyarakat Ken Umang, dalam Arok Dedes.
Tidak hanya mereka, masih ada sederet nama yang luput yang menjadikan roman-roman Pram amat berwarna dan beranekarupa terutama dalam hal sisi feminitas yang muncul di dalamnya.
Karakter dan tokoh perempuan dalam roman Pramudya Ananta Toer hampir selalu menyuarakan kaum yang tertindas oleh praktek kolonialisme dan feodalisme.
“Karya-karya itu berisi tentang upaya Pram untuk membela orang-orang yang tertindas dan menyuarakan penderitaan mereka,” kata aktivis buruh dan perempuan, Dita Indah Sari.
Esensi atau bangun karya dari buku-buku Pramudya adalah praktek kolonialisme dan feodalisme yang menjadi biang ketertindasan dalam bidang politik, ekonomi, dan budaya.
Tema pemasungan kebebasan dan perlawanan atas ketertindasan menjadi dominan karena memang tidak jauh dari kehidupan Pram yang lahir di Blora, 6 Februari 1925.
Pram kenyang dengan berbagai pengalaman berupa perampasan hak dan kebebasan. Ia banyak menghabiskan hidupnya di balik terali penjara, baik pada zaman revolusi kemerdekaan, zaman pemerintahan Soekarno, maupun era pemerintahan Soeharto.
Karakter kuat seorang perempuan dalam karangan fiksinya didasarkan pada ibunya, (yang di mata Pram adalah) seorang pribadi yang tak ternilai, api yang menyala begitu terang tanpa meninggalkan abu sedikitpun.
Ketika Pramoedya melihat kembali ke masa lalu, ia melihat revolusi Indonesia diwujudkan dalam bentuk tubuh perempuan, yaitu ibunya.
Meskipun karakter ibunya kuat, fisik ibunya menjadi lemah karena TBC dan meninggal pada umur 34 tahun, waktu itu Pramoedya masih berumur 17 tahun.
Pramudya hampir selalu menempatkan tokoh perempuan dengan indepensi berpikir dan bukan hanya sekadar pemanis atau sosok yang membuat cerita tampak lebih bergairah saja.
“Misalnya dalam tokoh Dewi Sartika atau Kartini yang bisa mengungkapkan pikiran-pikirannya yang revolusioner dan tidak sejalan dengan masyarakat pada zaman itu,” kata Dita.
Dalam novel Bumi Manusia, Pramudya memunculkan tokoh Nyi Ontosoroh yang selalu bergulat dan melawan kolonialisme.
Meskipun tokoh-tokoh perempuan dalam buku-buku karya Pram jarang ada yang menang atau rata-rata kalah tetapi buku-buku tersebut menampilkan proses perlawanan yang luar biasa.
“Proses perlawanan yang ditampilkan itulah yang menginspirasi,” katanya.
Perempuan Feminin
Tokoh-tokoh perempuan dalam sejumlah buku karya Pramudya Ananta Toer beraneka ragam dan intinya memiliki sisi feminitas yang tinggi yang menggambarkan kedekatan penulis dengan sang ibu.
“Pramudya menggunakan sisi feminitas dengan cara-cara yang berbeda dari satu tema ke tema yang lain,” kata novelis Eka Kurniawan.
Itulah yang merupakan kecenderungan dan penggambaran bahwa Pramudya merupakan sosok yang lebih dekat dengan ibunya daripada ayahnya.
Oleh karena itu, Pram sering menggunakan sudut pandang dari sisi feminin atau kerap menggunakan perempuan sebagai sudut pandang untuk menyampaikan pesannya.
“Interaksi yang kuat dengan sang ibu itulah yang rupanya membuat Pram mampu mengeluarkan beragam karakter perempuan dalam novelnya dengan sisi feminitas yang kental,” kata penulis novel Cantik Itu Luka tersebut.
Tokoh-tokoh perempuan yang hidup dalam roman Pramudya tidak sekadar muncul dengan nama-nama khas perempuan tetapi sanggup menceritakan sesuatu.
Dalam buku Pram yang berjudul Midah Si Manis Bergigi Emas, diceritakan perjalanan hidup Midah yang ingin menjadi penyanyi sekaligus pergulatan yang menyertainya.
“Di situ disebutkan bahwa hidup Midah sebagai penyanyi berawal tetapi sebagai perempuan berakhir. Ini contoh bahwa tokoh tersebut tidak semata-mata karakter tetapi sudut pandang,” kata Eka.
Di sejumlah buku Pram yang maskulin, misalnya Perburuan (tiga tokohnya laki-laki), maskulinitas justru akhirnya diruntuhkan oleh Pram.
“Ini bukti keberpihakan dan kuatnya Pram mengenal sisi feminitas yang boleh jadi berawal dari kedekatannya dengan sang ibu,” kata Eka.
Feminisme untuk Pemula
Tidak ada satupun istilah feminisme tertulis dalam sejumlah roman Pram yang mengambil sudut pandang perempuan.
Namun, buku-buku tersebut dapat menjadi referensi yang baik bagi seseorang yang tengah gandrung mempelajari paham feminisme atau feminisme untuk pemula.
Artis dan presenter ternama, Rieke Diah Pitaloka, merasakan hal serupa. Ia pertama kali berkenalan dan mengetahui feminisme termasuk kesetaraan gender adalah dari buku-bukukarya Pramudya Ananta Toer yang dibacanya.
“Perkenalan saya dengan feminisme adalah dari karya-karya Pram yang sebagian besar menceritakan tentang relasi gender dengan kekuasaan,” kata pemeran tokoh Oneng dalam sinetron komedi Bajaj Bajuri itu.
Inti karya-karya Pramudya yang menyangkut perempuan diakui atau tidak selalu memperjuangkan kesetaraan gender.
Salah satu buku Pram yang sangat menginspirasi Rieke, yaitu berjudul Mereka yang Dilumpuhkan.
“Di dalamnya ada dialog seperti ini: `Tidak usah khawatir perempuan dan lelaki itu sama saja, menginjak di bumi yang sama, yang berbeda hanyalah jenis kelaminnya saja`. Begitu kira-kira,” kata Rieke dengan memperdengarkan suara tawa khas Oneng.
Karya-karya Pram memang hampir selalu menggambarkan proses perlawanan perempuan tertindas yang ternyata bisa mengeluarkan energi dan semangat luar biasa.
Karya-karya Pram yang bersifat “mimesis” itu selalu menyuguhkan permasalahan yang nyata terjadi dan ada dalam kehidupan sehari-hari masyarakat agar semua pihak bisa mencarikan solusinya bersama-sama.
Pram dalam menyajikannya tidak menggurui pembaca tetapi membiarkan pembacanya memilih tokoh mana yang disukai.
“Yang saya suka, meskipun rata-rata tokoh perempuan dalam buku-buku Pram itu `kalah` tapi Pram bisa membuat mereka kalah dengan terhormat artinya mereka telah melawan,” kata Rieke bersemangat.
Itulah Pram berikut perempuan-perempuan perkasa yang dilahirkannya.(*)

1 thought on “Perempuan-perempuan Perkasa Pramudya Ananta Toer”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s