Orangtua


Pagi ini, terbangun pagi-pagi sekali, persis saat adzan. Tenggorokan kering, baju basah keringat. Selesai minum air putih di dapur, aku ga bisa langsung tidur. Tumben, pikirku. Padahal, tadi malam hampir jam dua baru bisa tidur. Kalau di rumah, orangtuaku pasti senang melihatku bangun subuh-subuh.

Pagi ini, aku ingat diskusi kemaren dengan teman.  Dia cerita tentang mertuanya dan masalahnya sendiri dengan orangtuanya. Dia merasa terpojok karena dihadapkan pada masalah yang tidak bisa diperdebatkan. Dia merasa terkunci, karena cara yang mungkin bisa digunakan untuk menyelesaikan masalah-masalah itu bukan lagi dengan dialog.

“Dunia kita dengan dunia mereka memang berbeda, jadinya pikiran kita dengan mereka akan berbeda. Gua bisa ngadepin siapapun dan berdebat tentang apapun. Tapi kalau soal ini, terus-terang satu-satunya yang kepikiran sama gua cuma satu; mengerti! Mengerti kalau perbedaan itu ada!” katanya.

Satu-persatu masalah dia sampaikan, baik masalahnya dengan orangtuanya dan masalah-masalah mertuanya. Dengan detail cerita yang dia sampaikan, terus-terang, aku jadi ikut-ikutan terkunci. Aku pun merasa tidak tahu harus bicara apa untuk menanggapi ceritanya. Aku semakin tahu kesulitan dia dan bersimpati.

Hampir semua dari kita punya masalah dengan keluarga, khususnya orangtua. Masalahnya kurang-lebih berkisar pada “ketidakmengertian” orangtua terhadap pilihan-pilihan hidup yang kita ambil. Kurasa, hal itu bukan karena mereka tidak setuju dengan logika dibalik pilihan-pilihan itu.

Barangkali hanya orangtua yang berasal dari “klas yang berkuasa” yang akan dengan sadar menentang pilihan-pilihan hidup yang ditempuh orang-orang seperti kita. Namun sedikit sekali orangtua kami yang berasal dari klas seperti itu. Umumnya, orangtua kami adalah orang-orang yang oleh keadaaannya bisa melihat secara langsung keadaan sosial yang terjadi sehingga satu-satunya pilihan yang harus ditempuh adalah berjuang, mengubah keadaan.

Tapi ya, yang namanya orangtua pasti tidak bisa melihat anak-anaknya hidup susah, menghabiskan waktu untuk mengurusi orang lain dan hampir tidak memperhatikan kebutuhan sendiri. Meski begitu, tidak sedikit dari mereka yang sesungguhnya bangga dengan pilihan yang diambil anaknya.

Menurutku, pikiran umum dari orangtua kami adalah terbelah antara keinginan untuk menjamin kebahagiaan anak-anaknya dengan keadaan yang tidak memungkinkan mereka mewujudkan hal itu serta keadaan yang secara langsung atau tidak menggiring anak-anaknya untuk menempuh jalan yang tidak bisa mereka tentang.

Setidaknya, itu yang aku perhatikan dari orangtuaku. Setiap kali pulang ke rumah, aku memang masih kerap dibanjiri pertanyaan-pertanyaan tentang pilihan-pilihan, tindakan-tindakan dalam hidup. Aku hanya bisa bicara keras untuk hal-hal yang sifatnya prinsip. Selebihnya, biasa-biasa saja.

Semakin bertambah usiaku, kulihat semakin sedikit pertanyaan-pertanyaan tentang itu. Belakangan, kami hanya berbeda pendapat tentang pilihan pasangan hidup dan untuk itu, yang kulakukan hanya tersenyum. Kurasa, mereka pun semakin tahu kalau aku memang tetap sebagai anaknya, namun bukan lagi anak-anak.

Aku, seperti halnya temanku, tidak memilih pikiran-pikiran orangtua sebagai “something to be defeated”. Pikiran-pikiran orangtua bagi kami adalah something to be understands. Dibalik kesederhanaan, barangkali “kekolotan”, pikiran-pikiran orangtua terdapat cinta yang tidak terbantah.

Aku mencintai kedua orangtuaku dan berusaha memahami semua pikiran dan mengerti keinginan-keinginan mereka. Aku tahu, dengan cara itu, akan terjalin dialog bathin antara kami, untuk bisa saling mengerti bahwa cara inilah yang pada akhirnya akan kami tempuh untuk mempertahankan cinta diantara kami.***

Kelapadua, 12 Februari 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s