Tribute untuk Widji Thukul


Wahyu Susilo menulis esai “Pemilu dan Puisi-Puisi Widji Thukul”. Esai tersebut dimuat Harian Kompas edisi 15 Februari 2009. Oleh Wahyu Susilo, esai tersebut diposting di Facebooknya dan mendapatkan komentar dari banyak kalangan. Saya termasuk orang yang memberikan komentar terhadap esai tersebut. Meski begitu, saya merasa belum puas dan perkenankan saya menuliskan ulang komentar tersebut dengan beberapa penambahan. Semoga tidak malah membosankan.

Saya sependapat dengan Wahyu, puisi-puisi Widji Thukul bisa dianggap sebagai salah satu historiografi pemilu Orde Baru yang pilu. Melalui puisi-puisinya, Thukul memotret realitas pemilu Orde Baru dari sudut yang jauh lebih pasti. Dia tidak bimbang untuk bersikap, “Milih boleh, tidak memilih boleh, Jangan memaksa, itu hak gue.”

Seperti yang telah saya kemukakan kotak dalam komentar atas esai tersebut, saya terkesan dengan bait “aku tidak akan menyerahkan suaraku”. Bait ini menegaskan bahwa “suara” adalah adalah properti, yang barangkali, bagi orang-orang yang tidak bermilik, suara itulah satu-satunya properti yang tertinggal dan dimiliki. Suara adalah simbol kedaulatan. Pemilu yang juga kerap disebut “pemungutan suara”, kerap disimbolkan sebagai perwujudan kedaulatan.

Suara itu ibarat tetes-tetes keringat para buruh, yang dikuras dalam delapan jam kerja (bahkan lebih), agar nilai yang dikandung dalam tenaga bisa dipindahkan ke dalam barang sehingga barang tersebut laku di pasaran. Suara-suara tersebut ibarat butir-butir gabah, yang digiling menjadi beras, kemudian ditanak, dan disajikan sebagai makanan bagi orang sekeluarga. Satu suara saja tidak berarti, karenanya harus diakumulasi. Untuk itulah pemilu menjadi penuh arti.

Selama Orde Baru, rakyat pemilik suara tidak lebih dari para pelempar bola kasti. Setelah bola suara dilempar, tidak ada yang boleh dia lakukan selain diam dan berdiri. Suara yang melayang akan dipukul kembali hingga melayang ke sana kemari, dan sang pemukul akan berlari dan terus berlari, menghindari diri dari bola kasti. Sementara sang pemukul telah sampai ke tujuan, sang pelempar masih diam berdiri, tidak ada yang bisa dia lakukan kecuali bersiap untuk melemparkan bola kembali.

Menyerahkan suara sama dengan menyerahkan upeti, atas nama bagi-hasil atau sewa tanah, kepada para tuan yang memiliki tanah. Para petani hanya bisa gigit jari, apalagi saat bagiannya tidak cukup untuk makan meski hanya sehari. Menyerahkan suara juga sama dengan menyerahkan hasil kerja kepada majikan-majikan yang suka hati. Para buruh harus pulang, istirahat meski hanya sejenak, tidak lupa besok pagi datang lagi dan kembali bekerja. Berpuas-puaslah dengan gaji yang hanya sebiji. Kalau mau minta lebih, PHK tinggal dipilih.

Dalam masa Orde Baru, pemilu ibarat buldozer yang menggusur tanah dan merusak tanaman yang susah payah ditanam petani-petani yang papa. Pada masa Orde Baru, pemilu juga kerap tampil ibarat selembar surat pengumuman PHK. yang menghanguskan mimpi-mimpi buruh kecil yang berupah murah. Jutaan suara digusur, hingga hanya bersisa tiga angka. Jutaan harapan ditumpas. Yang tersisa hanyalah “Satu dan dua, ataupun tiga” yang “semua sama sama bohongnya”, demikian tutur Thukul. Tidak salah bila Thukul meradang, “Bubarkan saja itu komidi gombal”.

Dalam puisi-puisinya, Thukul tampil sebagai pembela mereka yang menjauhi kotak suara. “Aku tidak akan ikutan masuk ke dalam kotak suara itu,” tegasnya. Gelombang diam itu pun kian membesar meski kerap dihadang dengan pentungan. Meski konon jaman telah berganti, namun gelombang itu kian membesar sepertinya tidak akan terhenti. Mungkin karena dengungnya telah memekakkan telinga para penguasa. Hingga disuruhlah para ulama membuat fatwa; “doakan mereka agar masuk neraka!”.

Namun, tidakkah para penguasa itu sadar, bahwa kami secara sukarela memilih tidak bersuara, karena neraka yang mereka kira, sesungguhnya telah hadir nyata di depan mata.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s