Suatu hari di Buncit 10


Dua hari lalu, sore-sore, aku berpapasan dengan dua orang anak perempuan, yang berjalan sambil mengumpat seorang anak lainnya yang sepertinya berjalan di belakangnya di samping perempuan yang lebih tua, mungkin saja ibunya.

Meski mereka tidak menggunakan baju sekolah, tapi dari posturnya, barangkali mereka masih duduk di kelas 6 SD atau paling banter kelas 1 SMP.

“Elo yang jablay!” teriak salah seorang anak.
“Enak aja, elo tuh yang jablay!” balas anak lainnya.
“Elo!”
“Elo!”
“Elo jablay! Perek!”

Saat berpapasan dengan anak yang berjalan di samping perempuan yang lebih tua, samar-samar aku mendengar ucapan sang perempuan itu. “Lha kok anak sekarang bercandanya seperti itu? Candaan itu khan tidak baik, apalagi untuk anak kecil…”

Aku lantas merasakan atmosfer yang mengerikan. Aku ga tau, apakah umpatan itu merupakan candaan atau memang sungguhan. Aku langsung ingat teriakan-teriakan, makian-makian, dan umpatan-umpatan dengan kata yang serupa saat-saat pulang sekolah. Makian itu meluncur tanpa filter dari mulut anak-anak (laki-laki maupun perempuan) dari SD dan SMP yang ada dekat rumahku

Sekiranya itu adalah candaan, masak sih sampe begitu bercandanya? Kalau itu sungguhan, aku jadi ga berani mengira-ngira apa yang sebenarnya mereka ‘lahap’ sehari-hari. Kenapa bisa setega itu sama teman sendiri.

Kukira, mereka hanyalah anak-anak yang belum mengerti arti dan dampak dari perkataan-perkataan seperti itu. Namun justru karena mereka masih kanak-kanak dan belum mengerti itulah, masalah yang sebenarnya.

Barangkali, masukan-masukan yang selama ini mereka terima memang demikianlah ‘buruknya’. Kesadaran yang mereka punya berada dalam bingkai-bingkai yang dibentuk oleh tontonan-tontonan tidak bermutu Indonesia.

Parahnya, dalam kenyataan sehari-hari, kebaikan dan keburukan sudah sangat ‘blur’, tidak se-kontras cerita-cerita fiksi yang hadir dalam sinetron-sinetron televisi. Jujur saja, kita memang semakin sulit mendapatkan panutan. Kini, kebaikan-kebaikan seolah adalah ‘cerita lama’, hidup ugal-ugalan dianggap sebagai ekspresi dari ‘kebebasan’, mencemooh dengan kata-kata sarkas dipandang sebagai perwujudan dari ‘pemberontakkan’ terhadap rejim nilai yang kering makna.

Anak-anak adalah tanggungjawab sosial, tanggungjawab kita semua, dan karena negara ini telah lama abai dengan masalah-masalah anak, maka kita-lah yang dituntut untuk mengambil-alih tanggungjawab itu. Sebisa dan semampu kita, pendidikan anak menjadi hal yang paling harus diutamakan.

Tidak salah bila kita mengajari anak-anak kita tentang pemberontakkan. Tapi harus kita ingat, pemberontakkan apapun tidak akan berhasil bila ditempuh dengan cara yang ugal-ugalan. Tidak pula salah bila kita mengajari anak-anak kita untuk terbiasa bicara secara lugas, namun bukan berarti membiarkan makian-makian itu meluncur seenaknya.***

3 thoughts on “Suatu hari di Buncit 10”

  1. seharusnya di sekolah dasar harus diberlakukan kembali pelajaran budi pekerti karena paling tidak bertindak sebagai rem meski sering blong.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s