Sometimes people just need to be heard…


Kisah ke-1: Mbak Sri dan Eva

Siang-siang tempo hari, Mbak Sri–orang yang biasa membantu mencucikan bajuku–datang bicara ke aku. Dia cerita tentang anak perempuannya yang sekarang tinggal di Padan Sidempuan, Sumatera Utara.
“Si Eva minta pulang, katanya sekarang udah ga betah di sono…,” ujarnya.
“Lha, kenapa?” tanyaku.
“Dia bilang sekarang udah ngga bebas, wong beli pisang goreng aja jadi bahan omongan mertuanya,” jelasnya. “Si Rahma saja sekarang sudah jarang minum susu…”
“Kenapa sih?” aku masih penasaran.
“Iya, sampe-sampe mertuanya bilang; jajan mulu, ga tau apa suami susah payah cari duit?” Katanya.
“Emang ada apa? Kemarin khan ceritanya baik-baik, kok sekarang jadi gini?” tanyaku lagi.
“Iya, sekarang kan harga karet turun tuh…, biasanya dapetnya cukup sekarang jadinya kurang…., mertuanya marah-marah mulu, si Ripin diem aja lagi,” jelasnya.

Aku mulai menangkap maksudnya mbak Sri. Keluarga anaknya lagi kesulitan ekonomi gara-gara harga karet yang anjlok. “Terus sekarang mau ngapain?”

“Dia minta pulang, tapi kurang duit. Aku bilang, nanti dibilangin dulu sama Mas Syamsul…,” kata Mbak Sri. “Kalo si Ripin (menantunya) nggak ngijinin, kamu pulang sendiri saja. Bawa si Rahma sekalian….! Makanya, aku mau minta tolong untuk itu sekalian…”

Aku rada terperanjat. “Wah…, kalo begitu malah ngga bener mbak. Mbak Sri mestinya ga bilang seperti itu. Bagaimana pun Eva adalah istrinya Ripin dan Ripin adalah suaminya Eva. Mestinya, mbak Sri minta Eva untuk bicara sama suaminya tentang keadaannya sekarang. Jangan dipendam, bila perlu ga harus disampaikan ke mbak Sri meskipun mbak Sri itu ibunya Eva. Supaya Eva sama Ripin bisa belajar jadi keluarga yang baik…”

Mbak Sri jadi diam.

“Aku mau bantu ongkosi Eva, tapi harus seijin suaminya. Bila perlu, sama suaminya sekalian. Cari kerja lagi di Jakarta karena karet lagi turun dimana-mana. Itu bukan salah Ripin atau keluarganya…,” jelasku.

Kurasa dia memikirkan apa yang aku katakan.

Kisah ke-2: Teman dan Pacarnya

Ada teman yang hendak menikah tahun ini. Dia sudah sampaikan keinginan itu ke orang-tua dari calon istrinya. Dia berjanji, bulan September ini dia dan keluarganya akan datang ke rumah istrinya untuk melamar. Mengapa september? simple, ijin tinggalnya di Hong Kong akan habis pada bulan september. Sambil menunggu perpanjangan visa, dia mau pulang ke tanah air dan sekalian melakukan lamaran.

Celakanya, september itu bulan puasa. Semua kebutuhan naik, termasuk ongkos pesawat. Sementara dia tidak punya waktu lain selain september. karena di oktober sampe desember, dia harus balik ke Hong Kong sebelum tumpukkan pekerjaan semakin menggunung.

Dia berusaha komunikasikan masalah itu ke calon istrinya, tapi tidak mudah. Kabar tentang rencana lamaran itu sudah menyebar ke keluarga besar dan ketika tahu bahwa sang teman tidak bisa datang, ortu sang calon istri pun berang karena merasa dibohongi.

Masalah tambah pelik ketika lebaran datang. Semua keluarga dari segala penjuru negeri datang berkumpul dan mendapati kabar yang mereka dengar tidak terjadi. Ibarat para pialang yang menggoreng saham, masalah yang sebenarnya bisa diatasi, berkembang menjadi tidak terkendali. Orang-orang tidak lagi mengomentari masalah dengan basis data, tapi mengomentari analisis yang dikembangkan dengan analisis baru dan diperbarui lagi, diperbarui lagi, sampe tidak jelas.

Ketika semua orang berang, calon istri sang teman menjadi bimbang.

Barangkali dia bermaksud mengusir melepaskan persoalan. Sepucuk surat elektronik dikirimkan ke aku dan beberapa teman yang lain. “Intinya, dia bingung dan tidak tahu harus melakukan apa karena setiap kali komunikasi tidak pernah nyambung…” Dia minta aku dan teman-teman memberikan perhatian pada masalah itu.

“………………potensi subyektif tersebut semakin meningkat yang terkadang  saling meyalahkan satusama lain karena beberapa saran yang disampaikan _______ tidak sesuai dengan apa yang aku tawarkan. pertengkaran ini sebenarnya sering terjadi ketika kita  berhadapan dengan orang tuaku dan ini cukup menganggu kenyamanan aku dalam menjaga relasi…..”

Aku bilang, tidak ada yang bisa kami perbuat karena permintaan itu tidak dalam kapasitas kami. Lagipula, hal seperti ini tidak mesti terjadi bila masalah ini dilokalisir. Sampaikan saja apa yang terjadi dan jangan pedulikan orang lain sebelum mendengar penjelasan dari orang yang semestinya paling kita percayai.

Aku tidak berusaha untuk kejam, aku hanya hendak mendudukkan penyelesaian masalah pada porsinya.

* * *

Teman, sebenarnya masih ada satu kisah lagi. Tapi berhubung karena subyeknya sama aku jadi malas menuliskannya.

Aku melihat dua masalah itu ada kesamaan, meski tentu saja ada juga yang membedakannya. Untuk soal yang pertama, mungkin karena si Eva nikah dalam usia masih muda (18 tahun) jadinya dia tidak memiliki kesempatan untuk mempelajari kisah-kisah orang lain yang sudah berumah-tangga. Satu-satunya kisah yang mungkin dia lihat adalah kisah ibunya sendiri.

Sampai sekarang, mbak Sri sudah tiga kali menikah dengan pernikahan pertama pada usia 13 tahun. Dari ketiga pernikahan itu, mbak Sri mendapatkan masalah yang sama, ditinggal selingkuh pada saat dia tengah mengandung. Salah-satunya yang melakukan itu adalah bapaknya Eva. Pada pernikahan yang ketiga, si Eva sudah mulai mengerti dan melihat. Beberapa kali dia melihat suami ibunya melakukan kekerasan dalam rumah tangga, baik kepada ibunya maupun kepada dirinya.

Komentarnya mbak Sri untuk masalah Eva jelas dilatari oleh pengalaman pribadinya. Setahuku, mbak Sri memang paling tidak tahan mendengar perempuan yang sudah menjadi istri seseorang mengeluh suatu persoalan seperti yang Eva lakukan. Yang dia pikirkan sebagai solusi cuma satu; “udah tinggalin aja suamimu…!”

Aku paham maksudnya mbak Sri, tapi menurutku itu keliru. Sekecil apapun komentar kita, pasti berpengaruh pada orang yang kita komentari. Apalagi bila komentar itu datang dari ibu sendiri.

Pada kisah yang kedua, aku berada dalam posisi seperti mbak Sri; dimintai komentar oleh salah satu dari sepasang kekasih tengah berselisih. Jujur saja, aku agak bosan dengan permintaan macam itu. Waktu di Bandung dulu, berkali-kali aku dimintai komentar, saran, dll oleh orang-orang yang berpacaran atau berumah-tangga. Dulu, aku masih mau mendengarkan sebab katanya, “sometimes people just need to be heard….”

Tapi apa yang terjadi justru tidak seperti itu. Saran-saranku tidak bermanfaat karena memang tidak pernah dijalankan sebab apa? Katanya, lebih nyaman ngomong samaku daripada sama pasangannya…” Saat mendengar hal itu, aku sudah membaca tanda-tanda bahaya. Aku harus segera menyingkir. Sejak itu, tidak ada permintaan curhat orang itu yang aku terima. Aku menghindar dan bersikukuh pada pendirian, sebaiknya masalahnya diselesaikan dengan orang yang bersangkutan dan tidak dibicarakan dengan orang lain.

Dan benar saja, saran-saranku menjadi sama sekali tidak membantunya. Masalahnya semakin besar dan aku terjebak di dalamnya.

Karenanya, sampai sebenarnya aku tidak dendam. Aku hanya menyesal karena sudah membuka diri untuk menjadi keranjang sampah dari masalah-masalah yang dialami orang lain.#

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s