Anak-Anak Jalanan Mimpi Buruk Perkotaan


Kita mungkin sudah tidak lagi bertanya, mengapa begitu banyak anak-anak jalanan di kota-kota besar seperti Jakarta? Mereka adalah bagian dari kenyataan yang harus diterima. Bila demikian, yang mungkin harus kita tanyakan kembali adalah apa yang terjadi dengan diri kita?

Sebagian dari kita barangkali sudah tidak lagi bersimpati dengan mereka, sebagian masih tergolong balita, yang mengerubungi kendaraan-kendaraan yang berhenti di perempatan lampu merah atau berjejalan di dalam bus-bus kota. Mereka bernyanyi seadanya, memainkan alat musik sekenanya, orang bilang mereka mengamen, meski secara prinsip apa yang dilakukan tidak lebih dari sekadar mengemis.

Apalagi, atas jasa sebagian pekerja media yang penasaran dengan gejala itu, kita sempat mendengar kabar tentang adanya sindikat yang sengaja menjebloskan anak-anak itu ke jalanan. Memasarkan belas kasihan, memperdagangkan keluguan, dan mengomersialkan penderitaan, berharap mampu menumbuhkan keibaan, untuk sesuatu yang sudah terdengar sangat klise; kebutuhan ekonomi.

Jangan sungkan untuk mengakui, bila saat ini, sebagian dari kita sudah tidak lagi mau menyisihkan uang meski hanya koin seratus, dua ratus, atau limaratus rupiah ke tangan-tangan mungil mereka. Semakin banyak jumlah anak-anak seperti itu ditemukan di jalanan, semakin sungkan kita merogoh saku dan memindahkan remah-remah rejeki yang kita punya untuk mereka, anak-anak yang tidak berdaya.

Hanya sebagian dari kita yang masih mampu merawat rasa simpati dan tetap memiliki keinginan untuk menderma, yang mungkin masih bisa “menolong” mereka, meski tidak mungkin bisa melepaskan mereka dari jeratan yang saat ini mengekangnya. Bukan tidak mungkin, jumlah orang-orang seperti itu (tanpa harus berasal dari kalangan berkecukupan) sudah jauh berkurang.

Terus terang, tanpa saya sadari, saya sendiri pun bukan lagi orang yang masuk dalam golongan kaum yang memiliki rasa simpati dan masih berkehendak untuk menderma. Kadang masalahnya bukan karena tidak ada uang koin di saku, tapi melulu karena malas. Meski begitu, terus terang saya tidak sanggup bertatapan mata dengan anak-anak itu.

Sebagian dari kita mungkin masih memiliki rasa iba dan simpati seperti itu, namun karena tidak punya banyak pilihan, uang recehan di kantong sakunya lebih sering disimpan untuk bekal keluarga, meski tidak cukup (dan karena tidak cukup itulah) uang-uang itu digunakan untuk menjaga agar anak-anaknya tidak terjerembab dalam kubangan ketidakberuntungan seperti mereka yang teronggok di jalanan.

Bila kita singkat penjelasan di atas, barangkali bagi kita, kemiskinan bukan lagi masalah yang perlu dipertanyakan. Kemiskinan adalah bagian dari kenyataan yang mau tidak mau tidak bisa dihindarkan. Barangkali, kita pun tidak lagi bertanya, mengapa anak-anak itu harus menjadi orang-orang yang menelan pil yang paling pahit dari kemiskinan. Kesimpulannya, kita tidak lagi peduli dengan apa yang terjadi di sekitar lingkungan kita sendiri.

Tidak ada yang membantah bila kemiskinan telah menjadi puting beliung yang memorak-porandakan bangunan masa depan mereka. Tidak ada pula yang membantah bila asap knalpot yang keluar dari kendaraan-kendaraan yang mereka kerubungi, ternyata tidak hanya telah mampu mengoyak lapisan-lapisan ozon di permukaan bumi, namun juga turut merobek-robek tenunan cita-cita yang sempat mengendap dalam hati dan pikiran mereka.

Keberadaan anak-anak itu adalah mimpi buruk yang tidak pernah berani didongengkan para orang tua atau diceritakan para penulis cerita anak.

Kini, mereka telah tumbuh melalui sebuah persenyawaan antara kemiskinan dengan ketidakpedulian. Mereka telah menjadi zombie pada usia yang sangat dini. Tidak salah bila kelak setelah mereka tumbuh besar, akan menjadi drakula-drakula yang menghisap darah kemapanan kota.

Melalui gitar-gitar kecil, botol-botol bekas minuman yang diisi pasir, dan suara-suara sumbang tak jelas arah yang keluar dari mulut-mulut mereka, wabah itu telah disuntikkan melalui telinga, mata, dan semua indera perasa dari masyarakat kita. Akibatnya, masyarakat pun terjangkiti wabah yang mereka bawa sejak lahir.

Anak-anak itu menjadi imunisasi sosial yang membuat masyarakat tidak lagi sensitif terhadap penyakit yang (lagi-lagi dan lagi-lagi) disebut dengan “kemiskinan”. Bahkan jauh lebih parah, menciptakan masyarakat yang justru mereproduksi ketidakberuntungan bagi sebagian kita yang masih tergolong anak-anak.

Ketidakberuntungan bagi apa yang selama ini kita sebut sebagai pemegang mandat masa depan kita.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s