Satu Sisi Deportasi


Saat ini saya tengah menulis tentang dampak perkebunan agrofuel (kelapa sawit, jatropha, dll) skala besar terhadap kedaulatan pangan di Asia. Salah-satu aspek yang sempat saya ulas adalah masalah perkebunan kelapa sawit yang mempekerjakan buruh migran di Indonesia. Materi ini memang tidak secara khusus mengulas tentang buruh migran, namun ada beberapa aspek yang saya kira menarik untuk didiskusikan.
 
Seperti diketahui, banyak buruh-buruh migran yang bekerja di perkebunan kelapa sawit yang dimiliki kapitalis-monopoli di sektor perkebunan. Tidak sedikit pula, buruh-buruh migran, khususnya yang tidak berdokumen, yang bekerja di perkebunan kelapa sawit skala kecil (atau tidak monopoli) atau semodel petani plasma kelapa sawit di Indonesia yang sangat bergantung pada buruh-buruh migran yang mau diupah sangat rendah. Bukan tidak mungkin, salah-satu akar dari razia ini adalah pertarungan antara para pemilik kebun skala besar-monopoli dengan pemilik kebun skala kecil untuk memperebutkan kekuasaan ekonomi, khususnya perebutan pasar dan tanah perkebunan agrofuel skala besar yang saat ini tengah menjadi primadona.
 
Razia terhadap buruh-buruh migran tidak berdokumen sama artinya dengan membunuh peluang berkembangnya usaha kelapa sawit skala kecil-menengah dan sekaligus membuka peluang bagi ekspansi perusahaan-perusahaan kelapa sawit skala besar-monopoli. Dengan begitu, penghancuran perkebunan skala kecil akan membuka peluang untuk terjadinya akumulasi dan monopoli tanah, sehingga keuntungan dari perdagangan agrofuel akan semakin terpusat ke tangan klas yang paling berkuasa di Malaysia.
 
Mengapa para pemilik perkebunan kelapa sawit skala besar di Malaysia melakukan hal demikian? Ada beberapa sebab, salah-satunya adalah semakin sempitnya “lahan kosong” yang bisa digunakan untuk ekspansi perkebunan kelapa sawit dan semakin tingginya kritik dari dunia internasional atas dampak perkebunan kelapa sawit terhadap keanekaragaman hayati, khususnya di Pulau Kalimantan (Borneo). Di tengah persaingan dengan Indonesia dalam rangka memperebutkan posisi sebagai pemasok kelapa sawit (bahan biodiesel) terbesar di dunia dan menyempitnya lahan sasaran, maka penghancuran usaha perkebunan skala kecil menjadi pilihan untuk terus melakukan akumulasi superprofit dari perusahaan-perusahaan tersebut.
 
Erman Suparno mengatakan bahwa yang dilakukan oleh Malaysia bukanlah “deportasi” melainkan “pemulangan reguler”. Pernyataan ini bisa benar, namun alasannya bukan karena mereka (pemerintah Malaysia) berubah sikap dan mulai ‘melunak’ terhadap pekerja migran. Harus dicatat, buruh-buruh migran tidak berdokumen sesungguhnya memberikan keuntungan yang luar biasa bagi klas-klas yang berkuasa di Malaysia, khususnya para pemilik perkebunan skala besar, karena bisa mempekerjakan orang dengan tingkat upah yang paling rendah.
 
Artinya, mereka sebenarnya ‘tidak sepenuh hati’ mendeportasi buruh-buruh migran tidak berdokumen asal Indonesia dan negara-negara lain. Artinya pula, pengusiran ini bersifat sementara, sebab mereka akan kembali ‘memanggil’ buruh-buruh migran yang ‘tidak berdokumen’ untuk kembali bekerja kepada mereka dengan tingkat upah yang sangat rendah, bahkan mungkin jauh lebih rendah dibandingkan sebelumnya.
 
Kita tidak bisa menerima tindakan deportasi yang saat ini dikenakan kepada buruh-buruh migran tidak berdokumen dari Indonesia dan dari negara-negara lain di Malaysia. Sebab keberadaan para buruh migran tidak berdokumen di negara tersebut sesungguhnya cermin dari bobroknya politik imigrasi, baik di Indonesia maupun Malaysia. Bahkan, kita menuntut pemutihan, artinya menuntut semua kawan yang saat ini menjadi buruh migran tidak berdokumen untuk diberikan legalisasi hukum.
 
Kepada pemerintah Indonesia, kita minta aparatur-aparatur SBY-JK, khususnya menteri Erman Suparno dan Kepala BNP2TKI supaya lebih serius dan profesional mengurus masalah buruh migran. Tidak asal jeplak! Ngomong sepotong-sepotong! Berbohong dan menyembunyikan ketidakbecusan dia dalam mengurusi masalah-masalah buruh migran. Bila tidak, rakyat akan “mendeportasi” mereka dari kursi kekuasaan yang mereka duduki sekarang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s