Bincang-Bincang di Mampang


Kemarin malem, kami bincang-bincang ringan pasca rapat. Aku menceritakan sesuatu yang selama ini menjadi keinginan-keinginanku. Aku bilang, saat ini sebenarnya aku ingin fokus pada keinginan dan tanggungjawabku yang belum sempat aku selesaikan. Keinginan itu adalah berumahtangga dan menikahi seorang perempuan yang paling aku sayangi.

Aku nggak sadar bila ternyata lawan bicara aku saat itu adalah Lisin dan Efendi. Bukan karena aku merendahkan mereka, namun karena pertanyaan berikutnya dari mereka… “Kenapa ya bung, tiap kawan yang menikah, ko malah meninggalkan gerakan?”

Aku jadi berpikir, mungkinkah mereka berpikir seperti itu karena aku terkesan meninggalkan gerakan karena lebih fokus untuk mempersiapkan pernikahan? Sebab bukan tidak mungkin, karena berbagai alasan aku tidak akan bareng lagi sama anak-anak muda penuh semangat itu…

Aku sempat diam, sampai akhirnya aku mengatakan bahwa kawan yang meninggalkan gerakan sebenarnya bukan karena dia sudah menikah atau punya anak… kawan meninggalkan gerakan karena memang dia sendiri menghendaki untuk meninggalkan gerakan.

Bisa jadi, alasan yang dikemukakannya adalah alasan ekonomi, namun alasan yang sesungguhnya bukanlah itu. Kawan meninggalkan gerakan karena dia menganggap gerakan itu adalah beban yang memperberat kehidupannya. Tapi anggapan itu justru lebih sering keliru. Tidak sedikit kawan yang seperti itu, justru tertimpa kesulitan yang jauh lebih besar dibandingkan dengan saat dia masih dalam lingkungan gerakan, sebab masalahnya bukan pada gerakan, tapi pada dirinya sendiri.

Masalahnya tidak sekadar bagaimana kawan tersebut mempersepsikan dan mendefinisikan sesuatu yang dianggapnya sebagai beban. Lebih dari itu, masalah sesungguhnya adalah karena dia tidak mampu memahami bahwa hidup adalah perkembangan di mana satu-satunya cara yang paling obyektif untuk mengatasinya adalah dengan secara jujur menghadapinya.

Jadi, jangan tumbalkan “pernikahan” atas ketidakmampuan memahami apa yang disebut dengan hidup dan perkembangan. Bila terus menerus menumbalkan “pernikahan”, kita akan tergelincir pada  suatu proses mirip pengadilan yang sudah jelas tidak adil.

Pada dua kawan itu aku sampaikan, bila kelak aku meninggalkan mereka, karena “bergeser” atau “menyeberang”, kuminta kawan-kawan tidak khawatir atau cemas. Sesungguhnya tidak ada satu pun yang bisa saya bawa ketika meninggalkan mereka dan memang tidak mungkin bisa saya bawa. Selama kita masih teguh pada pendirian dan mau bersikap tegas pada keadaan, tidak akan ada masalah yang tidak bisa dihadapi.

Hingga sekarang, saya masih belum berpikir untuk “bergeser” apalagi “menyeberang”, tapi bukan berarti saya tidak akan “bergeser” atau bahkan “menyeberang”. Sekuat tenaga meski kerap kecewa, sungguh-sungguh meski kadang “teu puguh”, kerja keras meski kerap dianggap tidak waras, saya bertahan pada apa yang selama ini saya yakini.

Kawan-kawan terkesima dan bersimpati, sementara aku diam dan berusaha mengerti. Sebab apa yang saya butuhkan, sebenarnya tidak sekadar simpati. Tapi tidak apa, hari ini, yang saya dapat hanyalah simpati, kelak mungkin lebih dari simpati. Semoga

Syamsul

1 thought on “Bincang-Bincang di Mampang”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s