Ishmael Beah, ‘Bloody Diamond’, dan Sierra Leone


Saya sedang membaca buku yang ditulis Ishmael Beah, “Long Way Gone, Memoar Seorang Tentara Anak-Anak”. Buku ini bercerita pengalaman Ishmael Beah, yang pernah menjadi tentara anak di negara asalnya, Sierra Lione.

Jujur saja, saat tulisan ini disusun, saya belum merampungkan membaca seluruh buku tersebut. Namun saya tidak sabar untuk segera menulis.

Jadi, anggap saja, tulisan ini adalah bagian pertama dari tulisan lain yang semoga saja bisa saya susun setelah rampung membaca buku itu.

Sierra Leone. Negara tersebut terletak di Kawasan Afrika Barat. Berbatasan dengan Guinea di utara dan Liberia di Selatan. Sementara di sebelah barat, Sierra Leone langsung berhadapan dengan Samudera Atlantik. Ibukota Sierra Leone adalah Freetown. Dinamakan Freetown karena kota tersebut pada sejak akhir abad ke-18 menjadi tempat tinggal bagi budak-budak Jamaika yang dibebaskan.

Penduduk Sierra Leone terdiri dari beberapa kelompok etnis, yang mana etnis-etnis Afrika mencapai hampir 90 persen (Temne 30%, Mende 30%, dan lainnya 30%). Selain itu terdapat orang-orang Creole (Krio) sebesar 10 persen dari populasi. Orang-orang Creole inilah yang merupakan keturunan dari budak-budak Jamaika yang menetap di Freetown. Selain mereka terdapat pula komunitas-komunitas pengungsi dari Liberia dan sejumlah kecil orang-orang kaukasia (Eropa), Libanon, Pakistan, dan India.

Sierra Leone adalah satu bangsa sangat miskin dengan kesenjangan distribusi pendapatan yang sangat lebar. Negara tersebut memiliki berbagai kandungan mineral penting, lahan-lahan pertanian, dan potensi sumber daya laut yang besar. Namun, buruknya infrastruktur fisik dan sosial serta kekacauan-kekacauan sosial yang terus berlanjut menghambat perkembangan negeri tersebut.

Hampir setengah dari penduduk usia kerja bekerja di atas lahan pertanian subsisten. Manufaktur hanya terdapat pada industry pengolahan bahan baku dan industry ringan untuk kebutuhan domestik. Pertambangan berlian menjadi sumber pendapatan utama. Meski demikian, nasib kehidupan ekonominya justru sangat bergantung pada kelangsungan perdamaian dan bantuan-bantuan dari luar yang sebenarnya hanya untuk memenuhi beberapa kekurangan dalam anggaran negara.

Hampir senasib dengan negara-negara yang diberkahi kekayaan alam berlimpah, perang dan kemiskinan adalah pemandangan yang hampir identik dengan negeri berpenduduk sekitar enam juta itu. Peperangan antar etnik, pemberontakkan raja-raja perang, dan kekacauan-kekacauan akibat ulah gangster dari Pantai Gading (Cote d’Ivoire), Guinea, Liberia, dan Sierra Leone sendiri kerap terjadi.

Sejak 1991 sampai 2002, perang saudara melanda Sierra Leone. Perang tersebut melibatkan tentara pemerintah melawan kelompok-kelompok pemberontak. Sepuluh ribu orang tewas dan lebih dari dua juta penduduk atau sepertiga dari populasi terpaksa mengungsi. Berlian dan berbagai kandungan mineral berharga di dalam perut bumi Sierra Leone mengutuk bangsa itu dalam jurang kesengsaraan yang dalam akibat kemiskinan dan perang.

Gara-gara perang tersebut, Sierra Lione pernah berada dibawah kontrol Pasukan Penjaga Perdamaian PBB sampai akhir 2005. Sampai saat ini, PBB masih menjalankan misi sipilnya di Sierra Lione melalui UN Integrated office in Sierra Leone (UNIOSIL) yang ditugaskan untuk mengonsolidasikan perdamaian. Namun perang mungkin sudah berakhir, namun luka yang diakibatkannya masihlah bersisa. Perih dan menyakitkan. Hal ini terbaca jelas dari rangkaian kata dan kalimat-kalimat yang ditulis Ishmael Beah dalam Long Way Gone.

Perang dan Anak-Anak. Long Way Gone menceritakan bagaimana perang saudara telah menjadi penjara bagi jutaan rakyat Sierra Leone. Perang telah memutuskan rantai penghubung antar desa dan suku, mengotak-kotakkan rakyat dalam kubu-kubu pertahanan yang tidak jarang meletus dalam peperangan dengan hanya satu alasan tersisa, yakni bertahan hidup.

Karena berlian yang berlimpah, senjata-senjata otomatis berikut longsong-longsong peluru yang sebenarnya bernilai jutaan rupiah, terasa begitu murah. Nyawa manusia tidak lebih dari bola sepak yang bisa dipermainkan oleh siapapun. Hidup adalah perjudian dan kesengsaraan adalah kenyataan yang tidak bisa ditolak. Orang-orang yang dicintai dengan mudah mati karena alasan-alasan yang tidak dimengerti.

Anak 12 tahun bernama Ishmael Beah menjadi tentara anak dan masuk ke dalam arena pertempuran dalam keadaan yang sangat terluka. Penyerangan yang dilakukan oleh sekelompok pemberontak telah memaksa keluarganya tercerai-berai. Ishmael menjadi benar-benar terpisah dari keluarganya ketika Junior, kakaknya, juga terpaksa terpisah darinya dalam upaya mereka mencari keluarga.

Kematian dan artifak-artifak peperangan tercecer di sepanjang perjalanan itu mempertebal kebenciannya pada perang. Perang telah mempersempit peluangnya untuk tumbuh menikmati peradaban manusia. Sesungguhnya dia lebih memilih untuk duduk di tengah lingkaran orang-orang, membaca karya-karya Shakesfare, daripada harus menenteng AK-47, menghisap ganja dan bubuk heroin yang dicampur dengan mesiu (brown-brown), bermain judi kartu, atau menonton film-film perang.

Namun Ishmael Beah hanyalah seorang anak yang tidak mampu menolak ajakan-ajakan perang. Seperti halnya anak-anak lain di Sierra Leone, membaca buku shakesfare, bermain sepakbola dengan riang, atau tumbuh besar bersama keluarga, adalah barang mahal yang hampir mustahil untuk didapatkan. Mereka dipaksa mengakrabi peluru, darah, dan orang-orang tak berdaya yang meregang nyawa.

Dia dan anak-anak yang bersamanya dalam pencarian direkrut oleh tentara pemerintah untuk melawan pemberontak. Tentu saja mereka tidak menerima pengetahuan-pengetahuan yang membekali masa depannya, melainkan doktrin untuk membunuh dan senantiasa bersiap untuk membunuh. Jangan bermimpi bila mereka akan mendapatkan pelatihan, sebab satu-satunya keterampilan  yang harus mereka punya adalah kelihaian untuk bertahan dan kelincahan untuk menghancurkan. Tidak ada rapor yang berisi prestasi atau rangking, karena satu-satunya ajang kompetisi yang tersedia adalah membunuh atau terbunuh.

Selain Ishmael dan kawan-kawannya, anak-anak lain direkrut oleh pemberontak, diberi cap “RUF” yang digoreskan bayonet ke tubuh-tubuhnya, dan juga disiapkan untuk menjadi mesin-mesin pembunuh yang berbaris di garda depan pertempuran. Tidak sedikit dari mereka yang dipaksa memperkosa ibunya atau saudara-saudara perempuannya, membunuh ayahnya sendiri. Semua itu ditujukan agar mereka tidak lagi punya keinginan untuk kembali dan berani memagarkan nyawa untuk menghadang laju peluru-peluru yang mematikan.

Terkutuk karena Berlian. Membaca bagian-bagian awal dari buku Ishmael Beah mengingatkan saya pada film “Blood Diamond” yang dibintangi Leonardo diCaprio. Di dalam film itu, Leonardo diCaprio berperan sebagai seorang bekas tentara yang menjadi broker berlian Afrika dan bekerja untuk sebuah butik berlian ternama di London. Berlian tersebut diambil dari perut bumi Sierra Leone.

Inti cerita dari film tersebut adalah persahabatan antara Leonardo diCaprio dengan seorang lelaki warga Sierra Leone yang anaknya terjebak menjadi tentara anak untuk pemberontak. Persahabatan ini diikat oleh kesepatakan hidup-mati antara keduanya untuk saling membantu, menerobos barikade tentara pemerintah maupun tentara pemberontak untuk mendapatkan sebuah berlian yang sangat langka sekaligus mengembalikan sang anak dari kekangan tentara pemberontak.

Film itu mengungkap fakta dibalik kemilau berlian. Menurut film itu, berlian adalah mesin uang, yang bisa menjadi peluru, senjata, narkotika, dan berbagai hal lainnya, namun bukan kesejahteraan apalagi perdamaian. Film itu juga menyinggung tentang pasukan perdamaian PBB yang ternyata juga digunakan untuk melayani kepentingan pengusaha-pengusaha berlian. Misi Perdamaian hanyalah bungkus untuk memperkuat cengerakam mereka atas tanah Afrika yang sengsara.

Kesejahteraan dan Perdamaian hanyalah ‘omong kosong’ karena kemilau berlian sungguh jauh lebih memikat. “This is Africa,” demikian lontar Leonardo diCaprio, “tempat dimana Tuhan pun enggan untuk membawa kedamaian bagi hambanya”. Perang dan darah adalah harga yang “wajar” untuk meraih barang bernilai jutaan poundsterling itu.

“Long Way Gone” dan “Blood Diamond” memiliki beberapa aspek yang saling menghubungkan satu dengan lainnya. Pertama, aspek lokasi karena keduanya di Sierra Leone. Kedua, aspek waktu karena sama-sama mengulas masa-masa perang saudara. Ketiga, masalah berlian yang sebenarnya tidak banyak diulas dalam “Long Way Gone” namun disampaikan komprehensif oleh Blood Diamond. Keempat, masalah tentara anak dan perang.

“Long Way Gone” dan “Blood Diamond” memberikan pesan penting bagi kita tentang kisah anak-anak seusia Ishmael yang dipaksa meneguk darah dan nanah dari Sierra Leone yang terluka parah.

2 thoughts on “Ishmael Beah, ‘Bloody Diamond’, dan Sierra Leone”

  1. it a must book to read for u guys…
    we learn a lot from there, not only his journey, his life, his rebel but we reflected our nature richness as well as our poverty..

    any story about child soldier in Aceh?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s