Damar


Rahmat dan Yanti menamai anaknya Damar. Kemudian, atas permintaan Kakeknya, namanya ditambahi dengan kata “Mohammad”. Lahir pada bulan Februari 2007 di sebuah tempat antara rumah kakek-neneknya dengan rumah sakit bersalin Selatan Sukabumi.

Maret 2008 lalu kami bertemu untuk yang kedua kali. Dia masih belum bisa berjalan meski usianya sudah setahun lebih. “Si Damar mah males,” ujar bapaknya. Tapi sekarang, ketika dia sedang berada di rumah kakeknya, Damar dikabarkan tidak hanya sudah bisa berjalan, tapi sudah bisa berlari.

“Hehehe…kayaknya kalau buat Damar, segalanya harus dimulai di Sukabumi,” komentar Rena.

Sebenarnya saya tidak tahu mengapa Yanti dan Rahmat menamai anaknya Damar Dimasara. Mereka hanya mengatakan bahwa kakeknya ingin agar cucunya punya nama “Muhammad”. “Gitu deh….,” kata Yanti ringkas dan menganggap kami sudah mengerti.

Sepengetahuan saya, istilah “damar” biasa digunakan oleh orang Sunda untuk menyebut “lampu”. Bedanya, kata damar hanya digunakan untuk menyebut lampu-lampu tradisional, seperti lampu cempor atau penerang sederhana yang dibuat dari kaleng atau botol bekas. Bentuknya seperti obor dengan ukuran yang lebih kecil. Lampu atau damar-damar itu diletakkan di tengah-tengah rumah atau di pinggir jalan. Maksudnya tidak lain, supaya penghuni rumah dan orang-orang disekitarnya akan bisa diterangi.

Dulu, damar atau lampu berbahan bakar minyak tapi bukan minyak tanah atau kerosin yang lumrah digunakan saat ini. Minyak itu diambil dari getah yang berasal dari kulit pinus yang oleh orang Sunda disebut “geutah damar”. Kalau melihat cara pengambilan getah tersebut di Gunung Manglayang atau di Kareumbi, sepertinya mirip dengan cara pengambilan getah karet. Kulit pohon pinus diiris agar getahnya keluar dan ditampung dengan tempurung kelapa.

Rasanya, kayu dari pohon pinus pun disebut “kayu damar”. Kayu ini digunakan sebagai bahan untuk menjadi batang korek-api. Batang tersebut dipercaya mudah dibakar dan kalau anda perhatikan setiap kali menyalakan korek-api, kayu itu mengeluarkan cairan yang memudahkan pembakaran.

Dengan sengaja, Yanti dan Rahmat tidak memilih nama merk-merk lampu pijar seperti phillips, osram, atau nama-nama merk lampu lain yang biasa kita temukan di kota. Barangkali, meskipun nyalanya lebih terang namun lampu-lampu phillips, osram, dan lain-lain jauh lebih rakus memakan sumber energy.

Damar bisa dibuat dengan cara yang sederhana mudah menggunakan bahan-bahan yang murah, sedangkan lampu-lampu pijar hanya bisa dibuat dengan bantuan teknologi tinggi dengan bahan-bahan yang sulit diolah oleh rakyat kecil. Damar mengabdi pada rakyat kecil yang sederhana yang hanya membutuhkan cahaya seadanya, sementara lampu-lampu listrik umumnya mengabdi pada orang-orang kaya yang hidup serba-mewah yang menuntut malam agar bisa menjadi siang.

Dari itu semua, kemungkinan Yanti dan Rahmat berharap agar anaknya bisa menjadi penerang atau suluh bagi keluarganya bahkan mungkin untuk masyarakat disekitarnya. Sebuah cita-cita yang sederhana namun penuh dengan makna.

Well…

2 thoughts on “Damar”

  1. duh damar.. gigimu itu nak… luv u salam dari tante rena dan kakak syahrani ya

    tapi say, semoga kita gak perlu lagi mengiris damar hanya untuk memenuhi penerangan rumah kita. Distribusi listrik yang adil dan kontrol pemakaian mungkin hal yang harus kita lakukan untuk menjaga damar-damar yang lain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s