Slank vs Mafia Senayan: Satu Kosong!


Slank saat di Kantor KPK.
Mau tau gak mafia di senayan
Kerjanya tukang buat peraturan
Bikin UUD ujung-ujungnya duit
(Slank, “Gosip Jalanan”)

Gara-gara lagu Gosip Jalanan yang dinyanyikan di depan gedung KPK, Slank sempat mau digugat oleh DPR. Selain telah dibahas dalam rapat konsultasi Pimpinan DPR, perkara lagu Gosip Jalanan milik Slank ini pun sebenarnya telah dibahas dalam Badan Kehormatan DPR. Lebih dari itu, BK dikabarkan sudah membentuk tim pengusutan untuk secara khusus meneliti lagu tersebut.

Berbeda dengan kasus-kasus lain yang kerap memancing silang-sengketa di sesama anggota DPR, khusus untuk kasus Slank, pandangan anggota DPR relatif seragam. Ketua DPR Agung Laksono, Ketua BK DPR Irsyad Sudiro, Ketua tim Pengusutan BK DPR Gayus Lumbuun cenderung memberikan pandangan yang seragam terhadap lagu Slank. Semuanya menilai lagu tersebut memenuhi syarat-syarat untuk diajukan ke pengadilan, karena dianggap menyebarkan kebohongan, menyesatkan, dan lain-lain.

Dalam sebuah wawancara dengan Kompas, anggota BK Gayus Lumbuun, “Kami terbuka dengan kritik tapi haruslah mengedepankan asas yang santun tentang perilaku-perilaku masyarakat. Itu tujuan kami yang baik agar masyarakat terbiasa dengan hal-hal yang etis,” ujarnya.

Hati-hati! Lontaran dengan kalimat ‘bersayap’ seperti ini seolah mengingatkan kita pada masa-masa Orde Baru dulu, ketika para pejabat yang dikritik selalu membalas kritik dengan kalimat serupa yang pada hakikatnya sama dengan sikap anti-kritik.

Namun, niat menggugat Slank urung dilakukan. Penangkapan KPK kepada Al Amin Amir Nasution, anggota DPR dari Fraksi PPP, Rabu (9/4) dinihari di hotel Ritz Carlton, Jakarta, karena dugaan kasus korupsi penyuapan, meruntuhkan semangat para anggota dewan yang terhormat itu.

Tidak mau kehilangan muka gara-gara kasus Al-Amin Nasution, Ketua DPR Agung Laksono yang juga geram dengan lagu Slank meminta agar masyarakat tidak buru-buru memvonis Al Amin Nasution. Masyarakat diminta berpegang pada prinsip praduga tak-bersalah, “sampai proses pengadilan membuktikan kesalahannya”, jelas Agung.

BK-DPR melalui Gayus Lumbuun menyatakan pihaknya tidak jadi melakukan penuntutan hukum karena memilih menyerahkan penilaian atas lagu tersebut kepada masyarakat. Pada saat melontarkan pernyataan itu, Gayus memandang bahwa Slank bukan hanya tidak beretika, namun sudah melampaui batas.

Menurut Gayus, sebagai sebuah grup band, Slank sebaiknya menulis lagu-lagu yang sesuai dengan dunianya. Misalnya menulis lagu tentang anti-narkoba yang bisa dikerjakan bersama BNN atau apa saja yang terkait dengan kehidupan para artis. “Jangan bikin lagu yang menyinggung-nyinggung politik, karena itu bukan ‘wilayah’ Slank,” tegas Gayus sembarangan.

Pernyataan Gayus Lumbuun yang terakhir benar-benar berbahaya! Pernyataan itu mengandung ancaman, tidak hanya untuk Slank, tetapi juga untuk seniman-seniman lain agar senantiasa menjaga jarak dari politik. Secara perlahan, Gayus Lumbuun sepertinya hendak mengembalikan lagi keadaan pada masa Orde Baru dulu, ketika seniman-seniman yang gerah dengan keadaan kerap dipaksa berhadapan dengan pencekalan.

Gayus Lumbuun semestinya harus kembali membaca Undang-Undang dasar 1945. Setiap warga negara memiliki hak untuk bersuara dan berpendapat. Personel-personel Slank sebagai individu atau warga negara maupun grup Slank sebagai organisasi memiliki hak untuk berbicara tentang politik. Tidak ada ketentuan yang melarang sebuah grup musik untuk menyuarakan aspirasi politiknya.

Bila kita mau melihat keadaan secara lebih jujur, masyarakat memang sudah tidak lagi memiliki saluran-saluran formal untuk menyuarakan kepentingan-kepentingannya secara terbuka. Partai-partai politik sibuk dengan urusan sendiri. Suara-suara rakyat seringkali ditafsirkan sebagai protes, dan setiap protes sering dibungkam dengan kekerasan. Menggugat dipersalahkan, penjilat dipahlawankan.

Korupsi dan sogok menyogok menjadi kebiasaan, menjilat malah menjadi kewajaran. Rakyat, khususnya kaum muda, kehilangan panutan ketika kaum tua yang disimbolkan oleh para pemimpin kerap kepergok bermuka dua. Propaganda tentang etika kerap menjadi sarana oleh kaum tua untuk mengaburkan persoalan, menepis gugatan, atau mengecilkan kepentingan.

Tidak sedikit birokrat yang hanya bersemangat ketika berbicara tentang proyek-proyek miliaran rupiah. Parahnya, mereka justru kerap mengantuk bahkan tidur ketika berbicara tentang nasib rakyat, biarpun yang tengah berbicara tentang masalah itu adalah orang nomor satu di republik ini.

Rakyat yang jemu kehilangan arah. Berbondong-bondong melarikan diri ke luar negeri, bekerja sebagai BMI, meski harus mendapatkan berbagai tindakan diskriminasi. Sebagian anak-anak usia sekolah berkerumun di perempatan-perempatan jalan, memainkan alat seadanya, mengamen dan mengemis, mengharap belas kasihan.

Keadaan ini dengan mudah dipahami oleh Slank. Pentolan-pentolan Slank, Bimbim, Kaka, Abdee, Rido, Ivanka, adalah simbol dari generasi yang lahir dari kesemrawutan Indonesia. Seperti halnya kaum muda lainnya di Indonesia, mereka pernah terjerembab dalam kubangan narkoba, sampai akhirnya sadar dan konsisten mengampanyekan anti narkoba.

Kemampuan grup ini dalam mengolah kenyataan dalam setiap lagu-lagunya menjadi magnet yang menarik ketertarikan jutaan kaum muda di Indonesia. Komposisi syair yang dijejali dengan bahasa-bahasa anak muda yang jujur, egaliter, dan slenge’an turut menambah kekuatan lagu-lagu yang dinyanyikan Slank.

Integritas Slank dalam berbicara tentang masalah-masalah sosial berdampak pada karakter Slankers, sebutan bagi kumpulan penggemar Slank. Pada awalnya, Slankers hanyalah kumpulan orang yang sewaktu-waktu bisa menjadi relawan-relawan yang menyukseskan konser-konser Slank di berbagai kota. Dialektika Slank dengan lingkungan sosial para penggemarnya menumbuhkan kreatifitas dan bentuk-bentuk aksi yang khas dari para Slankers.

Dalam momen-momen tertentu, seperti momen terjadinya bencana alam gempa bumi di Yogyakarta atau Tsunami di Pangandaran, Slankers turut memberikan bantuan-bantuan langsung, misalnya tenaga bantuan untuk emergency respond, pengobatan dan kesehatan, sampai pada aksi-aksi penggalangan dana yang tidak jarang sampai mendatangkan grup musik pujaannya.

Singkatnya, Slank telah tumbuh menjadi corong suara kaum muda yang gerah pada situasi, memiliki kepekaan sosial, yang tidak lagi takut berbicara tentang politik, cenderung melabrak barikade etika yang berlebihan, untuk berbicara jujur dan apa adanya tentang keadaan. Slank adalah simbol dari kegusaran kaum muda atas masa depan yang kian tidak jelas.

Secara esensi, Slank seolah telah tampil sebagai “wakil rakyat” yang sebenarnya. Bukan tidak mungkin, hal inilah yang sebenarnya menjadi pangkal kegusaran para anggota dewan. Jadi, saat ini kisah Slank versus Mafia Senayan sama dengan Satu Kosong untuk Slank!

Salah ga salah, sama atasan slalu dituruti, maunya seumur hidup minta minta dihormati! Na-na-nanana-na-na-nanana… feodalisme warisan kompeni.. (Feodalisme, Slank)

GOSIP JALANAN

Slank

Pernah kah lo denger mafia judi
Katanya banyak uang suap polisi
Tentara jadi pengawal pribadi

Apa lo tau mafia narkoba
Keluar masuk jadi bandar di penjara
Terhukum mati tapi bisa ditunda

Siapa yang tau mafia selangkangan
Tempatnya lendir-lendir berceceran
Uang jutaan bisa dapat perawan
Kacau balau 2X negaraku ini

Ada yang tau mafia peradilan
Tangan kanan hukum di kiri pidana
Dikasih uang habis perkara

Apa bener ada mafia pemilu
Entah gaptek apa manipulasi data
Ujungnya beli suara rakyat

Mau tau gak mafia di senayan
Kerjanya tukang buat peraturan
Bikin UUD ujung-ujungnya duit

Pernahkah gak denger teriakan Allahu Akbar
Pake peci tapi kelakuan barbar
Ngerusakin bar orang ditampar-tampar

Tags: , , , ,

Jakarta, 10 April 2008

2 thoughts on “Slank vs Mafia Senayan: Satu Kosong!”

  1. bimbim lo harus grak maju terus untuk menyuarakan suara rakyat yang dari dulu tidak pernah di dengar oleh wakil rakyat kita yang licik……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s