Malam ini, di Buncit 10


Sekumpulan anak-anak muda tanggung bermain gitar di pinggir jalan yang sepi. Bau anggur dan suara gitar yang bising, disertai nyanyian yang sebenarnya hanyalah teriakan-teriakan anak tidak jelas memecah malam yang memang tidak pernah senyap.

Di antara mereka, dua orang perempuan muda ikut larut dalam nyanyian. Sambil menghisap rokok dan menggak minuman, mereka menari, menggoyang-goyangkan pantat, seolah sengaja memancing “kekisruhan” di otak kepala lelaki-lelaki muda yang mabuk. Apa yang kelak terjadi? Jangan tanya saya, pikiran saya kacau melihat keadaan malam ini.

Saya pernah muda, pernah dalam keadaan seperti mereka. Menghabiskan malam di pinggir jalan. Memainkan gitar dan berteriak-teriak tak keruan. Sedikit banyak, saya paham apa yang mereka inginkan. Manakala mengingat itu semua, tidak ada hal lain kecuali kegusaran. Gusar memandang masa depan. Gusar membayangkan apa yang kelak akan saya hadapi. Gusar membayangkan apa yang bisa mengancam putri kami yang tercinta. Gusar untuk mengambil kesimpulan, mestikah kami mengambil asosial, untuk keluar dari kenyataan sumpek seperti sekarang?

“Penguasa, penguasa, berilah hambamu uang! Penguasa, penguasa, berilah hambamu uang! Berilah hambamu uang!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s