Pak Kades, Mang Ahmad, dan Ayah


Simpati untuk H. Usep Romli

Cerita Haji Usep Romli tentang “Pak Kades”, “Mang Ahmad”, dan “Ayah” dalam esai “Partai dan Bahan Bacaan” (rubrik Khazanah, 14/4/2007) menggelitik saya untuk turut berkomentar. Membaca tulisan itu membuat saya merasa sebagai generasi yang “kurang beruntung”. Buku banyak diterbitkan, tapi mahal.

Selain tidak bisa leluasa membaca dan mendiskusikan karya-karya yang tergolong “black-list”, saya—dan mungkin kawan-kawan “se-generasi”—berada dalam situasi ketika tidak ada figur “ayah” yang melindungi keinginan-keinginan kami untuk mendapatkan berbagai bacaan yang disertai dengan arahan-arahan yang mendewasakan. Tidak heran, bila dalam generasi “saya” adalah zaman ketika budaya membaca mengalami dekadensi.

Meski begitu, kemajuan teknologi komunikasi telah membuka kemungkinan untuk mendapatkan berbagai bahan bacaan, termasuk karya-karya yang di-“black-list”. Dengan sedikit pengetahuan mengenai internet, saya bisa surfing di berbagai situs ensiklopedia yang menyediakan bahan-bahan tersebut. Salah satu situs yang cukup membantu saya adalah wikipedia free encyclopedia. Selain kaya dengan berbagai informasi, situs ini juga telah tampil dalam bahasa Indonesia.

Sejauh ini, bahan-bahan yang saya kumpulkan dari berbagai situs-situs internet cukup membantu untuk mendapatkan bahan-bahan pengaya pengetahuan di tengah minimnya kemampuan membeli buku. Informasi yang diperoleh pun cukup beragam, mulai dari soal-soal politik, ekonomi, sejarah, budaya, sastra, filsafat, dan lain-lain.

Kebetulan, minat saya saat ini adalah mendalami ilmu sejarah. Banyak bahan-bahan terkait dengan disiplin ilmu sejarah yang berhasil saya kumpulkan. Sebagian bahan tersebut memuat hal-hal yang “haram” diketahui oleh kita sebagai warga negara Indonesia. Sebagian lagi memuat perdebatan-perdebatan metodologi penelitian sejarah yang paling baru dari berbagai belahan dunia. Semuanya saya dapatkan melalui teknologi informasi tersebut.

Bahwa banyak bahan berada ditulis dalam bahasa Inggris dan menyulitkan kita yang umumnya tidak menguasai atau pasif berbahasa Inggris, saya akui. Kadang-kadang, karena keterbatasan berbahasa, saya memilah bahan-bahan bacaan tidak hanya berdasarkan minat dan kebutuhan, melainkan juga berdasarkan materi yang mampu saya pelajari. Karenanya, sangat mungkin dari sekian banyak bahan yang dipilah, ada banyak bahan yang sebenarnya sangat bermanfaat namun tidak bisa dimanfaatkan.

Namun hal itu justru menjadi tantangan untuk sekaligus melatih kemampuan berbahasa. Jadi, di samping mendapatkan informasi-informasi yang sulit diperoleh akibat mahalnya harga buku-buku, saya pun memiliki kesempatan untuk secara otodidak melatih kemampuan berbahasa.

Masifnya penggunaan internet, khususnya di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta, dan lain-lain menjadikan internet sebagai salah satu bagian terpenting dalam kehidupan kaum muda di Indonesia saat ini. Bila pemerintah konsisten dengan program internet masuk desa, barangkali pelajar-pelajar di pelosok pedesaan akan juga menggemari budaya ber-internet ria ini.

Memang ada beberapa efek negatif dari berkembangnya budaya internet ini. Namun, “haruskah kita membakar lumbung untuk hanya menghilangkan seekor tikus?” Saya kira, tidak perlu. Asal kita teliti dan selalu mawas diri, tikus-tikus itu bisa kita usir tanpa harus membakar lumbung.

Singkatnya, bila Haji Usep Romli memiliki pengalaman dengan Pak Kades, Mang Ahmad, dan Ayah sebagai sumber informasi yang menopang pendewasaan dirinya, saya—dan mungkin sebagian orang yang “segenerasi dengan saya” menemukan internet dalam peranan yang sama seperti “Pak Kades, Mang Ahmad, dan Ayah” untuk Haji Usep Romli.

Cabai itu Pedas

Saya berprinsip, kita belum bisa membuktikan cabai itu pedas, gula itu manis, garam itu asin, sebelum mencicipinya. Dengan prinsip ini, saya merasa terbantu untuk obyektif dalam menilai segala sesuatu dan tentu saja berguna untuk melatih daya kritis. Saya kira, prinsip tersebut tidak hanya berguna dalam memilah bacaan-bacaan yang diraih dari dunia maya namun juga bisa digunakan untuk seluruh bacaan-bacaan dalam media-media lain, seperti buku, koran, dan lain-lain.

Masalahnya, pemerintah terkadang suka bertindak ceroboh, mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang melarang peredaran buku. Kebijakan pelarangan yang terakhir dikeluarkan Kejaksaan Agung RI terhadap beberapa judul buku bahan ajar sejarah untuk tingkat SMP dan SMU yang berdasarkan Kurikulum 2004. Memang, buku-buku yang dilarang hanya sebagian kecil dari buku-buku yang beredar di masyarakat. Namun bagi saya, melarang peredaran satu buku adalah tindakan yang percuma.

Faktanya, meskipun ada larangan untuk melarang peredaran bacaan-bacaan (tayangan-tayangan yang) “terlarang”, seperti pornografi, tahayul, kekerasan, dan lain-lain, toh publik masih bisa dengan mudah mendapatkan bacaan-bacaan tersebut tanpa harus takut terkena sanksi. Contoh lain, saat lembaga DPR menggodok RUU untuk melarang pornografi, adegan syur antara seorang anggota DPR dari partai pemenang pemilu dengan seorang artis dangdut yang tidak terlalu terkenal justru membongkar selubung moral dibalik usaha tersebut. Tanya kenapa?

Perlu saya tekankan bahwa tindakan melarang buku justru membuka kelemahan yang fundamental dari pemerintah. Silakan diperiksa, dari total penduduk Indonesia, kira-kira berapa persen yang terbiasa membaca buku dan berbagai jenis bacaan lainnya? Dari angka itu, periksa lagi berapa persen penduduk yang kemungkinan membaca buku-buku yang saat ini dilarang edar? Dari angka itu pun, kira-kira berapa persen yang akan terpengaruh oleh bacaan-bacaan itu? Berapa pun hasilnya, saya kira jumlahnya sangat kecil, dampaknya pun belum tentu signifikan.

Sikap yang melarang, bukan mendialogkan, adalah bukti ketidakmampuan pemerintah sebagai pemegang otoritas politik untuk mengorganisasikan masyarakat secara efektif dan mendorong perubahan ke arah kemajuan. Pelarangan itu sendiri adalah “pisau bermata dua”. Artinya, bisa memancing rasa penasaran masyarakat untuk membaca; bisa pula menghanguskan minat baca masyarakat yang saat ini tinggal remahnya saja. Pemerintah seharusnya mampu mengajak masyarakat untuk menggemari bacaan-bacaan yang bisa secara konstruktif menopang kemajuan bangsa. Sebagaimana figur “ayah” yang digambarkan H Usep Romli; pemerintah seharusnya berperan sebagai mitra dialog bahkan bila perlu lawan berdebat bagi masyarakat.

Karenanya, bila Haji Usep Romli merindukan “jaman semasa hidup Pak Kades dan Mang Ahmad yang kader PKI”, saya justru merindukan “ayah yang mau mengerti dan berani berdiskusi”. Karena itulah, di awal paparan ini saya menyatakan bahwa saya lahir sebagai generasi yang kurang beruntung.***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s