How bad can we go?


Di Makassar, karena diare akut akibat tidak makan selama tiga hari, seorang ibu yang tengah hamil lima bulan dan anaknya yang baru berusia lima tahun, meninggal dunia. Di Tangerang, akibat telah mengobatkan penyakitnya ke rumah sakit gara-gara masalah biaya, seorang ibu harus meninggal dunia. Di Bekasi, diduga karena stress, seorang ibu membunuh dua orang balitanya. Di NTT, puluhan balita harus meninggal dunia akibat kekurangan gizi.

Sepintas, barangkali tidak ada yang baru dari peristiwa-peristiwa itu. Orang meninggal itu biasa, “wong ada dalilnya…’qulu nafsin da’ikatul maut’ yang artinya setiap mahluk yang bernafas pasti akan mati.”

Celakanya, meskipun kematian itu disebabkan karena “kemiskinan”, orang-orang kini cenderung menganggapnya biasa. Saking banyaknya orang miskin di Indonesia sekarang, jadi ;tidak ada yang istimewa dari kemiskinan’. Miskin sudah biasa, tapi jangan pernah bertanya mengapa seseorang menjadi miskin, sebab bisa-bisa kejadian sesuatu yang “luar biasa”.

Kemiskinan adalah kenyataan yang sebenarnya tidak terlalu sulit untuk digambarkan. Tidak perlu dengan rumus-rumus statistika atau fatwa-fatwa dari para cendikia. Kemiskinan tampak dengan jelas dari wajah para perempuan yang berbondong-bondong bekerja menjadi pembantu asing ke luar negeri. Mereka yang lugu telah berani menandatangani kontrak-mati, bekerja di luar negeri dengan resiko mungkin tidak akan pernah kembali, demi keluarga dan masa depan yang mungkin hasilnya tidak akan dinikmati sendiri.

Kemiskinan juga terlihat dari antrian ibu-ibu di pangkalan-pangkalan minyak tanah, di tempat-tempat penyaluran beras miskin, atau di grosir-grosir minyak goreng bersubsidi. Bisa jadi mereka tidak makan sehari atau berhari-hari, sebab selain tidak ada bahan yang bisa dimasak, juga tidak ada bahan-bakar yang bisa dinyalakan. Meski kerap menggerutu, umumnya mereka tidak tahu bila kesusahan yang menderanya dikarenakan kartel-kartel impor yang gemar mempermainkan harga.

Kemiskinan juga tampak dengan jelas dari wajah anak-anak yang setelah putus sekolah berbondong-bondong menghuni perempatan jalan. Dengan bermodal gitar atau sekadar mengasongkan tangan, berharap seratus atau lima ratus rupiah belas kasihan, untuk makan dan berbagai macam alasan.

Singkatnya, kemiskinan yang ada dimana-mana telah membuat orang-orang merasa terbiasa. Terbiasa dengan kesusahan, dengan harga-harga barang yang mahal, dengan antrian panjang di depan pangkalan minyak, dengan anak-anak di perempatan jalan, dengan bayi-bayi yang kelaparan, bahkan dengan kematian yang paling mengenaskan.

Karena kemiskinan yang tak berkesudahan, orang mulai sungkan bicara tentang harapan, tidak lagi bersemangat berbicara tentang perubahan, tidak lagi antusias berbicara tentang perbaikan. Harapan, perubahan, perbaikan, apalagi kesejahteraan hanyalah dongeng pengantar tidur yang mulai sulit ditemui sekalipun dalam mimpi.

Pertanyaannya, seberapa lama kebiasaan ini akan bertahan? Sampai kapan kita akan menganggapnya sebagai hal yang biasa?

1 thought on “How bad can we go?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s