Hari Senin, Minggu Lalu (3)


Senin malam itu, aku merasa sangat penat. Biasanya, sehabis mengantar Rena, aku naik angkot ke arah Cililitan, kemudian disambung dengan Kopaja 57 ke arah Blok M, kemudian turun di daerah Buncit 10.

Tapi, malam itu, kebiasaan itu ditinggalkan sementara. Aku pengen cepat ke rumah, supaya bisa langsung istirahat. Selain itu, di rumah sudah ada kawan dari Jatim yang sudah menunggu sejak siang. Jadilah, aku naik ojek dari UKI ke Buncit 10 lewat Kalibata dan Duren Tiga.

Setelah beli voucher isi ulang, aku langsung pilih ojek. Ada deretan tukang ojek dan salah satu di antaranya, orangnya paling tua yang antri di barisan belakang, yang aku pilih.

“Ke Buncit 10, mau ga pak?”
“Boleh”
“Lima belas ribu ya?”
“Oke,” jawab ojek itu sambil senyum.

Motor yang digunakannya motor bebek Honda Supra. Dia hanya membawa satu buah helm yang digunakannya, sementara untuk penumpangnya sepertiku, tidak ada helm. Awalnya aku khawatir, karena polisi-polisi banyak berkeliaran di sekitar UKI. Tapi ojek tua itu cuek dan terus melaju sampai ke Buncit.

“Kerja di mana, De”, tanya ramah dari ojekku malam itu.
“LSM, pak”, jawabku.
“LSM, di bidang apa?” tanyanya lagi.
“Buruh migrant,” jawabku lagi tanpa curiga.
“TKI-TKI itu ya?”
“Iya,”
“Kasian ya mereka, udah harus kerja keras, mereka juga kadang harus jadi korban…,” simpulnya.
“Bapak tau toh?” aku balik bertanya.
“Cuma liat di tivi…,”
“O…,”

Motor melaju tidak terlalu kencang. Jalanan dari sejak UKI sampai Buncit masih basah karena hujan. Seperti biasa, aku suka mengajak bicara tukang ojek atau sopir taksi yang tengah mengantarku. Biar tidak ngantuk atau sekedar taktik mengakrabkan diri dengan mereka.

“Tinggal dimana pak?” tanyaku membuka omongan.
“Di Kalimalang…” jawabnya.
“Sudah punya anak?”
“Sudah, empat orang, laki semua, sudah pada besar,”
“Wah sudah ringan dong ya? Ga lagi mikirin masalah biaya sekolah….,” pancingku.
“Alhamdulillah de…,”

Rumahnya di Kalimalang berada persis di samping kali. Dengan bangga dia bilang, meski begitu rumah sendiri, bukan ngontrak. Tapi pas banjir tahun lalu sempat terendam air sampai satu meter lebih, katanya. Pembicaraan kemudian mengarah pada anak-anaknya.

“Anak saya yang pertama lulusan Unkris…” jelasnya.
“Unkris yang di Jatiwaringin ya, Pak?”
“Iya, hebatnya dia kuliah dengan biaya sendiri lho, de….,”
“Wah?”
“Iya, anak-anak saya tidak ada yang kuliahnya saya biayai….,” jelasnya.
“Kok bisa?”
“Kalau saya, tukang ojek kayak gini, gimana bisa nguliahin anak….”
“Iya, lha kok bisa….”
“Anak saya yang pertama sudah bekerja di KFC, dia biayai kuliahnya dari gajinya….”
“O….,”
“Sekarang jabatannya sudah cukup tinggi….,” jelasnya bangga.
“Anak yang kedua dimana sekarang pak? Kuliah juga?”
“Iya, di Nagoya…”
“Nagoya…., di Jepang?” aku penasaran.
“Iya…, di Jepang,”
“Hebat…., gimana caranya, Pak?”
“Diminta sama Bosnya, tadinya dia kuliah di BSI. Di samping kuliah, dia juga kerja, ngotak-atik komputer. Mungkin karena dilihat bagus, bosnya mengirim dia ke Jepang….”
“Sekarang dia pintar bahasa Jepang dong?”
“Wah… dia sih sudah hebat de…”

Hebat juga bapak tua tukang ojek ini. Anaknya pada jadi ‘orang’, renungku. Mungkin karena dia bangga dengan anaknya, sepanjang jalan dia terus bercerita tentang anak-anaknya. Selain dua orang anaknya tadi, anaknya yang ketiga kini kuliah di Sastra Inggris UI, di Depok. Dia kuliah dibiayai oleh anaknya yang kedua. Anaknya yang paling bontot, yang masih kelas III SMP, memang agak bandel. Terakhir dia kepergok ikut tawuran, meski begitu prestasinya belajarnya cukup baik. Dia hanya ikut-ikutan, belanya.

“Gimana caranya mendidik anak sampai bisa jadi orang kayak anak-anak bapak?” tanyaku penasaran.
“Caranya, biasa saja, de… Saya tidak terlalu keras, tidak juga terlalu lembut. Seperti orang-orang lain kalau didik anak. Cuma memang saya suka memberi anak-anak saya kepercayaan dan tumbuhkan semangat untuk berbuat yang terbaik,” jawabnya.

“Saya bilang sama anak-anak, bapak ini cuma tukang ojek mau kalian harapkan sebesar apapun, ya kemampuannya hanya sebatas kemampuan seorang tukang ojek. Kecuali kalian mau belajar dan bekerja yang terbaik, kalian tidak akan pernah dapatkan apapun yang kalian harapkan,” jelasnya.

“Saya punya prinsip, rejekinya anak, ya milik anak. Jadi, saya ga pernah mau mengganggu mereka. Kecuali kalau urusannya dengan pendidikan seperti untuk anak saya yang ketiga. Saya hanya tukang ojek, sekeras apapun saya bekerja, tidak akan mampu menguliahkan anak sampai jadi sarjana. Untungnya mereka pengertian….”

Penjelasan itu membuat jarak antara UKI dengan Buncit 10 menjadi terasa sangat dekat. Omongan tukang ojek itu, mungkin sudah langka saat ini. Tapi berlian tetap saja berlian, meski keluar dari lumpur yang paling kotor.

“Nama saya Wagiman, tapi kalau ade mencari saya di UKI, tanya saja ‘mbah Man’, mereka lebih tahu nama itu”, ujarnya sambil menerima lima belas ribu rupiah haknya yang kubayarkan di depan jalan masuk mampang prapatan XIII.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s