Hari Senin, Minggu Lalu (2)


Diskusi dengan DPR berakhir jam 12:00 siang yang terus dilanjutkan dengan makan siang. Kira-kira jam 13:00, aku sama rombongan keluar dari kompleks DPR-RI menuju Mampang. Kawan-kawan kuminta lebih dulu ke rumah, karena aku harus ke bank untuk urusan tertentu.

Di bank tersebut, tentu saja setiap nasabah harus antri. Nomor antrianku saat itu 35, pengantri yang memegang nomor 33 sudah duduk di depan meja CS. “Tidak akan lama,” pikirku. Tapi perkiraanku meleset.

Aku terpaksa nunggu 90 menit setelah dua orang laki-laki paruh-baya berpakaian necis menerobos antrian, dengan alasan hanya akan cek tabungan, keduanya mengambil jatahku dan orang lain, laki-laki yang bersendal jepit, yang memegang kupon bernomor 34.

“Lha kok bisa mereka masuk duluan?” tanyaku ke Satpam.
“O, bapak-bapak itu tadi bilangnya hanya mau cek rekening, jadi paling hanya sebentar,” jelas Satpam.

Setelah 45 menit, saya melirik kembali ke Satpam. Dia mulai tidak enak. Giliran lelaki bersandal jepit yang memegang kupon antrian nomor 34 yang bertanya ke Satpam.

“Tadi bapak itu bilangnya hanya mau cek rekening, tapi ternyata dia juga urus yang lain, jadinya lama. Saya minta maaf….,” jelasnya dengan muka memelas.

Komplainku dan orang sebelahku ke petugas satpam yang bertugas mengatur antrian hanya dibalas dengan “permintaan maaf”.

“Tenang ya, teller memang tutupnya jam 4, tapi kalo CS tutupnya jam 5, jadi masih ada waktu,” jelas sang satpam. Saat itu waktu sudah menunjukkan jam 15:45 dan urusan CS dengan lelaki paruh baya berpakaian necis dengan rambut kelimis itu masih belum juga selesai.

Sayangnya aku belum punya pengalaman mendapatkan pelayanan dari CS bank secara memuaskan. Dari hasil introspeksiku, mungkin karena tampangku tidak “bankable”, jadi para CS yang cantik-cantik itu kurang tertarik melirikku.

Seperti CS dari bank-bank lain, CS dari bank ini pun lambatnya bukan main. Beberapa kali kulihat dia bolak-balik dan membiarkan kliennya menunggu. Mungkin karena dia berhati-hati, dari kesannya sangat lambat.

Dari hasil curi dengar, sepertinya dia hendak membuka rekening asuransi untuk perusahaannya. Jadilah aku tahu bahwa dia sebenarnya bukan mau cek buku tabungan, tapi hendak buka asuransi, tapi ga mau pake antrian.

Aku nyengir sendiri dan kesal, tapi kekesalan itu hanya kusimpan sendiri. Jawaban satpam memang tidak mengenakkan telingaku, tapi itu bukan kesalahan dia.

Aku tidak mau complain lagi karena khawatir, bisa-bisa si satpam ditegur manajernya dan bukan tidak mungkin kehilangan pekerjaannya, hanya karena tidak becus mengurus antrian.

Aku tahu, dua orang laki-laki paruh baya itulah yang tidak tahu diri. Seenaknya menerobos antrian dan begitu saja melemparkan beban pada orang lain yang tidak bersalah.

“Lain kali tegas sama aturan ya, Pak,” bisikku sambil keluar setelah urusanku kelar.
“Makasih atas pengertiannya, Pak,” jawabnya.

Jakarta, 24 Maret 2008

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s