Dibentak CS


Pernah suatu ketika aku dibentak oleh CS dari suatu bank pemerintah hanya karena aku minta segera dilayani. Aku merasa meminta itu dengan baik-baik meski sedikit menyela pembicaraan dia dengan nasabah tabungan ONH yang tengah dilayaninya.

Saat itu, dari dua orang CS yang semestinya bertugas, hanya satu orang yang masuk. Yang lainnya berhalangan karena sakit. Aku sendiri hanya ingin mengambil kartu ATM yang notabene adalah hakku. Aku memaksa untuk dilayani karena sudah menunggu cukup lama, sementara waktu kian mendekat waktu shalat Jumat.

Setelah dibentak dan aku ngotot karena mau shalat Jumat, ATM yang kuminta diberikan. “Aktivasinya 24 jam dari sekarang ya, Pak,” ujarnya. “Terima kasih,” jawabku. Sialnya, setelah lebih dari 24 jam, ATM-ku belum juga diaktivasi. Tiap kali kucoba untuk cek saldo atau mau ambil tunai, selalu ditolak.

Akibatnya, setiap kali mau ambil tunai, aku selalu pakai buku. Mungkin karena jumlah tarikannya yang kecil, petugas teller dari bank itu bertanya, mengapa tidak pakai ATM. Kujawab, saya punya ATM, tapi tidak pernah bisa dipakai sampai sekarang. ATM-nya ku perlihatkan. Dia menyarankan agar aku menghubungi CS.

Dari CS itu, aku mendapat informasi kalau ATM-ku belum diaktivasi. Selaku wakil dari Bank itu, dia meminta maaf karena kejadian itu murni kesalahan petugas Bank. Namun dia sendiri tidak bisa mengaktivasikannya kecuali aku menghubungi cabang bank di mana aku membuka rekening.

Karena di luar kota, aku terpaksa menelepon Bank. Tapi nomor telepon yang diberikan ke aku ternyata salah. Dari nada yang kudengar sebenarnya tersambung, namun tidak diangkat. Jadinya berkali-kali aku menghubungi 108 dari kota tempatku membuka rekening tersebut. Beberapa nomor yang diberikan petugas 108 kutolak karena sudah kuhubungi sebelumnya.

Nomor asli bank tersebut baru kudapat setelah kuhubungi saudara. Dia mendapatkannya dari petugas bank tersebut. Tidak sempat kutanyakan mengapa nomor yang tertera di 108 itu keliru.

Setelah berhasil menelepon bank, petugas CS dari bank itu langsung meminta konfirmasi kode-kode tertentu kemudian meminta maaf dan mengakui bahwa itu adalah kesalahannya.

Sebenarnya, aku ingin ada di depannya persis saat itu. Aku ingin tahu apakah dia masih ingat denganku, orang yang pernah dia bentak di depan banyak orang. Tapi, lama-lama kupikir tidak ada gunanya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s