Pram: Sejarah, Penjara, dan Pemuda


Dalam sejarah hidupnya, Pram cukup ‘akrab’ dengan sejarah maupun penjara. Keakraban ini dituangkannya di hampir seluruh karyanya. Bagi Pram, meski tetap pada garis bahwa “the hitherto of all mankind is a history of class struggle”, namun analogi yang diberikan Pram terhadap sejarah cukup sejuk dan teduh. Pram menyebut sejarah sebagai rumah bagi siapapun yang hendak melanglangi dunia.

Diakui atau tidak, kontribusi Pram pada peletakkan fondasi sejarah modern tidaklah kecil. Kepioniran Pram dalam studi sejarah modern dapat dikategorikan selevel dengan Sartono Kartodirdjo. Keduanya berada pada generasi pemikiran yang hampir setara dan memiliki concern yang hampir sama; sama-sama berupaya membebaskan sejarah dari penjara kultural berupa kekuasaan mitologi yang selama berabad-abad memencilkan peranan orang kecil kebanyakan dalam narasi-narasinya.

Nasib keduanya pun hampir sama, dedikasi keduanya sama-sama menyebabkan mereka berhadapan dengan tembok tebal kekuasaan yang memaksa mereka mendekam dalam penjara. Bedanya, Sartono Kartodirdjo bernasib lebih baik dia tidak sempat dipenjara, meskipun pikiran-pikirannya tidak bisa leluasa beredar dan dipenjara. Sementara Pram, harus berkali-kali mendekam dalam penjara sejak masa pendudukan Jepang hingga Orde Baru. Tidak hanya itu, pikiran-pikirannya pun pernah dicap subversif oleh kekuasaan.

Penjara Sejarah

Penjara dalam arti harfiah adalah kurungan bagi mereka yang bersalah. Biasanya dibangun dengan tembok beton yang tebal dan pagar tertutup yang tinggi. Di dalamnya terdapat sekat-sekat besi yang secara sistematis mengucilkan narapidana secara individual. Mereka diisolasi dari realitas sosial sebagai konsekuensi dari penentangan mereka atas rejim yang berkuasa atas realitas tersebut.

Menurut Frederick Engels dalam the Origin of Family, State, and Private Property (1981), penjara adalah salah satu ciri pokok berdirinya Negara. Penjara dibentuk sebagai konsekuensi dari adanya order atau hukum yang terbentuk sebagai konsekuensi dari adanya institusi berupa kepemilikan. Institusi ini memiliki tiga lampisan pokok, yakni lapisan ekonomi, politik, kultural. Masing-masing lapisan memiliki penjaranya yang masing-masing.

Penjara kategori pertama, biasanya diisi oleh mereka yang secara personal dianggap ‘bersalah’ karena melakukan ‘kejahatan’ karena mengganggu kepemilikan individual (seperti mencuri, merampok, mencopet, membunuh, atau merusak kepemilikan orang lain) dikategorikan sebagai residivis biasa. Biasanya mereka dikurung secara fisik dalam beberapa waktu sesuai kadar kejahatan yang dilakukannya.

Penjara kategori kedua adalah penjara politik. Dalam penjara ini, mereka yang dianggap ‘bersalah’ karena telah melakukan tindakan sosial yang bermaksud mengganggu kekuasaan formal suatu rejim politik (seperti melakukan tindakan-tindakan subversif, pemberontakan, pembangkangan sipil atau kekuasaan yang sah, dan lain-lain) tergolong dalam kategori tahanan politik. Dulu, “residivis” politik menghuni penjara-penjara khusus, dengan cara diasingkan secara politik. Saat ini, mereka kerap diperlakukan sama dengan “penjahat-penjahat” kategori pertama, meski bobot “kejahatannya” jelas berbeda.

Penjara kategori ketiga adalah penjara sejarah. Bentuk kejahatan yang sering dipersangkakan biasanya sangat abstrak. Seseorang atau sekelompok orang bisa menghuni penjara ini hanya karena memiliki pikiran yang bertentangan dengan pikiran yang berkuasa. Seperti diketahui, the idea of the ruling class is the ruling idea. Mereka yang bermaksud menentang the ruling idea, harus bersiap-siap memasuki penjara ini atau mati mengenaskan seperti dialami almarhum Munir.

Eka Kurniawan (2006) dalam “Realisme Sosial dan Pramoedya Ananta Toer” menjelaskan bahwa salah satu ciri khas karangan-karangan Pram adalah keterikatannya dengan kenyataan sejarah dan sejarah hidup Pram itu sendiri. Kenyataan itu adalah penjara kebudayaan yang selama berabad-abad hanya menuliskan sejarah dari mereka yang berkasta tinggi.

Bagi Pram, penjara adalah inspirasi. Di dalam penjara-penjara itulah lahir tulisan-tulisan yang kemudian menjadi inspirasi bagi berbagai kalangan yang membacanya. Tulisan-tulisan itu menjadi suluh yang memerangi pikiran pembaca guna memahami sebuah penjara yang mengungkungnya. Suluh yang bersumbu pada ilmu pengetahuan yang—mengutip Pram dalam Bumi Manusia—menyebabkan “dongengan leluhur sampai malu tersipu”.

Maksud yang tidak bisa disembunyikan dari karya-karyanya inilah yang menyebabkan Pram kerap mendekam dalam penjara. Alhasil, tidak hanya Pram secara fisik harus mendekam dalam penjara yang menderanya sejak kekuasaan kolonial, Orde Lama, sampai Orde Baru. Pada masa Orde Baru, karya-karyanya pun tidak luput dari upaya pemenjaraan. Orang yang membaca apalagi mengedarkannya pun harus mau mendekam dalam penjara. Namun pemenjaraan fisik dan politik ternyata malah membuatnya semakin mengenali penjara dalam arti yang paling material.

Penjara sejarah itulah yang menyebabkan bangsa Indonesia tidak pernah mampu keluar dari cara pikir terbelakang yang diciptakan kolonial. Meski telah memproklamasikan kemerdekaan sejak 1945, namun proses dekolonisasi tidak pernah tumbuh secara sempurna hingga pada wilayah kebudayaan.

Pemuda

Satu hal lagi yang akrab dengan Pram adalah pemuda. Pram mulai mengenali ’penjara sejarah’ dan mulai berusaha membebaskan bangsanya saat dia masih muda. Dia pun kerap menjadikan pemuda—laki-laki maupun perempuan—sebagai tokoh-tokoh dalam romannya. Orang-orang yang berjibaku untuk membela karya-karyanya hingga masuk penjara pun umumnya pemuda. Tidak hanya itu, dia pernah bergabung dalam Partai Rakyat Demokratik (PRD) suatu partai yang lekat dengan simbol pemberontakan pemuda. Terakhir, kini karya-karyanya digemari kaum muda yang membuat getir ’orang-orang tua’.

Pram sadar dengan maksudnya. Dia tengah berperang dengan melawan pragmatisme dan mitos-mitos baru ciptaan imperialisme. Dengan lugas, Pram juga berusaha membendung arus peminggiran sejarah yang secara sistematis menjauhkan manusia dari kemanusiaan. Pram sepertinya telah memberikan banyak jawaban atas kegundahan pemuda hari ini; yakni keterangan tentang tanggungjawab pemuda mengenai sejarahnya dan masa depan bangsanya.

Salah satu pesannya tertuang dalam novel Sekali Peristiwa di Banten Selatan (1958/2003). Melalui novel itu, Pram yang dengan lugas ‘menunggangi’ kisah-kisah yang ditemuinya di Banten Selatan tahun 1957 untuk berbicara pada kita semua selaku warga bangsa. Bahwa, di negeri kaya dan subur ini, kemiskinan dan penindasan, serta korupsi, kesewenangan, dan bencana-bencana alam maupun sosial akibat salah-kaprah kebijakan yang tak berkesudahan.

Untuk itu, dibutuhkan figur pemimpin yang mengerti aspirasi politik Rakyat Indonesia. Pemimpin yang berani berjuang melawan kehendak-kehendak subyektif dari kepentingan-kepentingan pragmatis yang individualistik. Dan, dengan gagasan-gagasan mampu membentengi rakyatnya dari tendensi perpecahan guna mencapai persatuan sejati.

Bisa jadi, pemimpin itu bukan berasal dari kalangan yang menikmati berbagai kemewahan material yang karena kemewahannya bisa mengenyam pendidikan tinggi. Bisa jadi, pemimpin itu justru berasal dari kalangan seorang pemuda miskin yang karena kemiskinannya dia mengetahui apa yang harus dilakukan untuk mengangkat derajat hidup dirinya dan masyarakatnya.

Pemimpin itu mungkin seperti Lurah Ranta. Seorang pemuda berasal dari kalangan buruh tani yang sudah lelah untuk putus asa. Belajar penindasan bertubi-tubi yang dialaminya, Ranta berani memimpin kehendak klasnya untuk bangkit melawan rejim yang menindasnya. Dengan bermodalkan kerja keras dan persatuan, mampu mengajak serta masyarakatnya untuk meninggalkan keterbelakangan. Adakah pemimpin seperti itu?***

Syamsul Ardiansyah
Bandung, 6 Oktober 2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s