Mengubah Nasib Bahasa Ibu


Bulan Oktober adalah ‘bulan bahasa’. Tepatnya 28 Oktober 1928, tercetus suatu ikrar yang disebut dengan Sumpah Pemuda. Salah satu yang termuat dalam ikrar tersebut adalah dinyatakannya ‘Bahasa Indonesia’ sebagai bahasa persatuan. Meski banyak merujuk pada bahasa Melayu, namun bahasa Indonesia bukanlah bahasa Melayu.

Bahasa Indonesia adalah ‘anak zaman’ yang dilahirkan oleh perkembangan bahasa-bahasa di Nusantara, termasuk di dalamnya bahasa Sunda. Sebagai ‘bahasa ibu’ (yang turut membidani kelahiran Bahasa Indonesia), bahasa Sunda sepertinya tengah berada dalam situasi yang kritis. Eksistensinya terancam punah, dilindas oleh globalisasi yang secara agresif melindas bahasa-bahasa. Mengapa demikian? Lantas, apa yang harus dilakukan?

***

Bahasa—menurut Roland Barthes (1964)—adalah sebuah institusi sosial sekaligus sistem nilai. Pengertian sederhana di atas sebenarnya cukup untuk menekankan pentingnya bahasa bagi manusia. Pengertian tersebut, kembali menegaskan posisi bahasa sebagai produk kebudayaan yang paling dinamis sepanjang peradaban. Hidup dan matinya bahasa, bergantung pada hidup dan matinya peradaban.

Apa yang menyebabkan lahirnya suatu bahasa? Frederick Engels dalam Origin of Family, State, and Private Property memperkirakan bahasa lahir pada saat terbentuknya suatu institusi sosial yang disebut dengan ‘keluarga’ pada jaman purba. Pada awalnya, keluarga-keluarga purba tersebut hanya terdiri dari ibu dan anak. Karenanya tidak salah bila keluarga pada jaman purba bersifat matrilineal, akibat belum dikenalnya lembaga perkawinan.

Interaksi ibu dan anak itulah yang kemudian melahirkan ‘bahasa’ sebagai suatu upaya untuk mensistematisasikan pengetahuan guna kepentingan kelangsungan hidup. Penjelasan Engels di atas barangkali tidak hanya mengulas aspek-aspek histories yang menyebabkan lahirnya bahasa. Engels juga sepertinya menerangkan latar belakang penyebutan bahasa asal dengan menyebutnya sebagai ‘bahasa ibu’.

Pada perkembangannya, ‘bahasa’ mengalami perkembangan, membentuk kerabat dan rumpun, sebagaimana perkembangan masyarakat yang juga terdiri dari unit-unit social dari keluarga inti, kekerabatan, kesatuan etnografi, hingga bangsa. Selain itu, kosakata dan pengucapan pun turut mengalami perkembangan menyesuaikan diri dengan keadaan.

Gejala alam yang beraneka rupa, tetumbuhan dan hewan yang bermacam-macam, dan segala peristiwa yang terjadi direkam dalam kata-kata yang cukup banyak. Karenanya, setiap kata, di samping memiliki patokan konseptual, juga memiliki koherensi sosial dengan masyarakat yang menggunakannya. Karenanya bila terjadi kepunahan atas suatu bahasa, secara tidak langsung mengindikasikan kepunahan suatu kebudayaan.
Kepunahan itu sendiri bukan tidak mungkin. Simak saja penjelasan Benedict Anderson dalam Imagined Communities (2001) tentang menghilangnya bahasa Gaelik akibat serbuan Inggris ke Irlandia, hilangnya bahasa Breton akibat dominannya bahasa Perancis, dan terpinggirkannya bahasa Catalan oleh bahasa Castilian. (Anderson, 2001; 117). 

Dalam pertarungan antar kekuatan bahasa di dunia, Bahasa Latin kemudian disusul oleh Bahasa Inggris bisa dikatakan sebagai ‘bahasa pemenang’. Bahasa Latin dan Inggris tidak saja mampu menjadi the fittest dalam rimba pertarungan bahasa, melainkan juga menjadi kekuatan yang menyerap semua pengetahuan dari bahasa-bahasa yang telah ditaklukkan olehnya.

Simak saja, bagaimana bahasa Latin menjadi bahasa resmi untuk menyebut nama-nama hewan dan tetumbuhan? Bagaimana pula latar belakang yang menyebabkan bahasa Inggris menjadi bahasa resmi pergaulan politik dan pertukaran pengetahuan secara internasional? Dari kedua fenomena tersebut, tidak lain bahwa bahasa Inggris maupun Latin sama-sama mengembangkan eksistensinya melalui kolonialisme berikut berbagai aksi penjarahan kekayaan alam dan intelektual dari seluruh dunia.

***

Namun ‘kejayaan’ bahasa Inggris serta bahasa-bahasa Eropa lainnya bukanlah harga mati. Globalisasi memang telah secara agresif meluluh-lantakkan sendi-sendi sosial yang secara tradisi telah berakar cukup kuat dalam masyarakat dunia, khususnya dunia ketiga. Namun keagresifan globalisasi, nyatanya tidak mampu menyembunyikan permasalahan-permasalah besar yang ada didalamnya.

Di samping agresi politik, punahnya suatu bahasa juga bisa diakibatkan oleh lemahnya pertahanan sosio-kultural yang menjadi basis material eksistensi suatu bahasa. Fenomena ini adalah konsekuensi logis dari agresifitas liberalisasi yang membentuk satu bahasa yang mendunia.

Upaya pengintegrasian dunia sebagai agenda utama globalisasi, ternyata tidak membawa kesejahteraan secara global. Sebaliknya, yang tercipta justru globalisasi kemiskinan. Para punggawa pasar bebas yang sebelumnya berjaya di forum-forum ilmiah, kini lebih banyak menuai cacian ketimbang pujian.

Sebagian masyarakat dunia pun mulai beralih. Tidak lagi tunduk pada gagasan-gagasan global dengan cara ‘melokalkan yang global’. Melainkan, dengan giat melakukan eksplorasi-eksplorasi pengetahuan lokal untuk mengglobalkan pengetahuan-pengetahuan lokal.

Dalam posisi itu, pengetahuan-pengetahuan lokal memiliki ruang untuk kembali eksis guna menjawab tantangan zaman. Dengan begitu, bahasa-bahasa lokal dapat kembali memiliki legitimasi historis untuk kembali eksis sebagai sarana yang paling memadai untuk mengangkat dan mengusung pengetahuan-pengetahuan lokal.

Peluang yang sama pun dimiliki oleh Bahasa Sunda. Saat ini, barangkali, para intelektual Sunda yang gelisah melihat erosi kesundaan di kalangan masyarakat Sunda perlu menyisihkan waktu untuk mengeksplorasi segala aspek kesundaan, khususnya yang terkait erat dengan masalah-masalah kekinian. Aspek-aspek yang digali, tidak hanya pada tataran filosofis, melainkan sampai pada tataran praktis yang bisa dimengerti oleh khalayak luas.

Meski memfokuskan pada pengetahuan-pengetahuan asli, bukan berarti meniadakan pengetahuan-pengetahuan yang berasal dari budaya di luar Sunda. Artinya, eksplorasi itu dilakukan dengan prinsip keterbukaan sebagai ciri keilmiahan. Hasil eksplorasi itu hendaknya dituliskan dalam bahasa Sunda dengan pengucapan biasa (tanpa kaidah undak-usuk) agar lebih inklusif dan mudah dipahami oleh semua khalayak. 
Bila hal itu dilakukan secara konsisten dan sinergis, niscaya kita bisa mengubah kegalauan atas hilangnya bahasa Sunda, menjadi kebanggaan karena memiliki bahasa Sunda.

Syamsul Ardiansyah
Parongpong, 22 Oktober 2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s