Mengenang Daeng Basse


Akibat kelaparan, seorang ibu dan anaknya di Makassar terpaksa meninggal dunia. Ibu tersebut bernama Daeng Basse, 37 tahun, yang meninggal sesaat sebelum anak ketiganya, Basir, 5 tahun menghembuskan nafasnya yang terakhir. Kalau saja sang tetangga yang bernama Lina tidak segera bertindak, barangkali, Aco, 4 tahun, akan turut meninggal pada saat yang bersamaan.

Menurut dokter dari Rumah Sakit Haji Makassar yang merawat Aco, Daeng Basse dan Basir diduga wafat akibat diare akut. Dugaan dokter ini dipilih Walikota Makassar Ilham Arief Sirajuddin untuk disampaikan ke publik. Bagaimana pun, dari sisi birokrat, dugaan ini lebih “aman” daripada anggapan media tentang kelaparan akibat kelalaian aparatnya.

Dugaan itu bisa jadi benar, dokter memiliki kemampuan untuk memprediksi hal itu. Namun bagi kita dugaan itu tidaklah cukup. Penyebab wafatnya Daeng Basse dan Basir adalah kemiskinan yang teramat kronis. Kemiskinan yang masih ditimpali dengan kenaikan harga beras, minyak goreng, terigu, telur, kedelai, dan lain-lain itulah yang menjadi malaikat maut bagi Basse dan Basir pada hari itu.

Keluarga itu terhitung sebagai keluarga yang sial. Beruntung mereka bisa di sebuah rumah yang terletak di kawasan kumuh lorong Blok V Jalan Daeng Tata I, kelurahan Parang Tambung, Kecamatan Tamalate, Makassar. Itu pun karena ajakan Juding, enam bulan lalu, yang mengajak keluarga tersebut tinggal bersama di rumah mereka.

Sehari-hari, keluarga itu bergantung pada penghasilan Basri, 35 tahun, suami Basse yang berprofesi sebagai pengayuh becak. Ironisnya, kemiskinan yang diderita keluarga miskin itu ternyata luput dari perhatian pemerintah. Berdasarkan penelusuran Majalah Tempo, keluarga ini tidak tercatat dalam sebagai keluarga miskin di instansi pemerintahan setempat.

Hampir saja tidak ada yang tahu kalau keluarga itu tengah menderita kelaparan. Kalau saja Lina tidak memperhatikan Salma, 9 tahun, dan Baha, 7 tahun, yang loyo saat bermain, mungkin Daeng Basse, Basir, dan Aco akan wafat tanpa ada yang memperhatikan. Salma dan Baha adalah anak pertama dan kedua dari pasangan Basri-Daeng Basse.

Pengakuan Salma dan Baha-lah yang membuat Lina tahu bahwa keluarga itu tengah berada dalam ancaman. Karena sakit dan tidak makan selama tiga hari dan karena tidak ada bahan makanan, hari itu Basse tidak memasak. Beras lima liter yang diperoleh Lina sebagai upah mencuci pun diberikan semuanya ke Basse untuk dimasak.

Kesialan Daeng Basse dan empat anaknya bertambah manakala Basri, 35 tahun, dikenal sebagai suami dan bapak yang kurang bertanggungjawab. Penghasilannya per hari hanya Rp 5000- Rp 10.000. Jumlah ini dibawah penghaslan rata-rata kawan-kawannya sesama pengayuh becak yang bisa mengantongi rata-rata Rp. 20.000 lebih per-hari.

Tetangga, kawan-kawan sesama pengayuh becak, dan mungkin kita tidak bisa memahami, mengapa dengan penghasilan sekecil itu, Basri tidak mau menghentikan kebiasaannya berjudi dan mabuk-mabukkan. Seorang tetangganya sempat memergoki Basri pulang dengan membawa lima liter arak. Padahal untuk makan sehari-hari keluarganya, kerap tidak terpenuhi.

Tidak perlu disangkal bila Basri mempunyai kontribusi kesalahan. Dia bersalah karena lalai dalam memberikan tanggung jawabnya yang semestinya bagi keluarganya. Tapi apalah artinya seorang Basri? Sekeras apapun hukuman yang bisa ditimpakan kepadanya, tetap saja dia hanya “kroco” yang tidak layak untuk ditumbalkan karena kematian Basse dan Basir.

Hukuman yang semestinya harus dialamatkan kepada pemerintah. Pemerintah telah abai dalam memenuhi salah-satu hak dasar warga negara, yakni hak atas pangan, khususnya bagi rakyat miskin. Atas dasar hak ini, pemerintah memiliki kewajiban konstitusional untuk memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya tanpa kecuali. Karena hak atas pangan sama sejajar dengan hak untuk hidup.

Kematian Basse dan Basir, serta kematian ibu-ibu dan anak-anak lain karena masalah kelaparan, kurang gizi, atau gizi buruk adalah pelanggaran hak asasi manusia. Dengan begitu, yang seharusnya duduk dalam pesakitan untuk mempertanggungjawabkan masalah ini adalah para petinggi negara dan elit-elit lokal yang telah gagal menjalankan kewajiban konstitusionalnya.

Selamat jalan Daeng Basse, Selamat jalan Basir. Doa kami turut menyertai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s