Surat Pertama dari Nunik


Aryo tidak menyangka bila surat yang dikirimkannya ke Nunik minggu lalu ternyata dibalas. Siang itu, dia diberitahu Pak Karman kalau sudah datang surat dari Nunik untuknya.Padahal tadinya surat itu cuma sekedar iseng, karena bu Darmi guru bahasa Indonesia menyuruh semua murid di kelasnya untuk membuat surat sebagai tugas sekolah. Tentu saja dia senang, karena baru pertama kali dia memperoleh surat dari orang lain.

Sehabis pelajaran sekolah, Aryo terlihat tidak sabar untuk segera membuka dan membacanya. Dia ingin segera tahu kabar Nunik, teman sekolahnya sewaktu di Jakarta dulu. Sesampainya di rumah, secara perlahan Aryo membaca surat sepanjang dua lembar yang ditulis tangan oleh Nunik.

Jakarta, 1 Mei 2004

Untuk Aryo,

Temanku yang baik….

Aku senang membaca suratmu. Aku membayangkan, kamu pasti senang tinggal di kotamu sekarang. Kata orang, di kotamu itu udaranya nggak sepanas Jakarta, nggak sumpek, air sungainya bersih-bersih, jalanannya nggak macet…., pokoknya nggak kayak di Jakarta sini. Aku sempat berkhayal, coba Jakarta seperti kotamu, tentu kau tidak akan pindah dan tentunya kita pasti akan sering ketemu, main bareng, berangkat sekolah bareng, pokoknya kayak yang sering kita lakukan dulu.

Terus terang Yo, aku juga kepingin pindah dari Jakarta. Sama seperti kamu, aku juga merasa semakin tidak betah tinggal di sini. Menurutku, Jakarta semakin panas dan tahu nggak? Hidup di sini semakin susah. Sekarang aku sudah tidak punya teman lagi. Teman-teman kita, seperti Neni, Asep, Riki, sudah pada pindah. Rumah mereka digusur. Katanya, tempatnya mau dipakai buat dijadikan supermarket. Sekarang aku tidak tahu lagi mereka ada di mana. Ada yang bilang kalau mereka juga pindah ke rumah asal orangtuanya.

Aku juga sudah tidak punya teman-teman sekolah karena sekarang aku sudah tidak lagi sekolah. Orang tuaku sudah tidak lagi mampu membayar ongkos sekolahku. Ayahku sudah tidak bekerja. Katanya, dia kena PHK. Pabrik tempat ayahku bekerja mengalami kebangkrutan.

Sekarang, kerjanya cuma diam dan sudah jarang pulang ke rumah. Kadang kalau dia pulang ke rumah, mukanya pucat dan kelihatan lelah sekali. Di rumah pun dia jarang bicara dan hanya tidur seharian kemudian pergi lagi. Aku kasihan padanya. Aku nggak berani mendekatinya, meski hanya untuk bertanya. Yang membuat aku sedih, dua hari yang lalu, dia pulang dengan pakaian koyak dan muka biru lebam. Kata teman ayahku yang mengantarnya ke rumah, Ayahku habis digebukin polisi karena demo menuntut pesangon yang nggak dibayar perusahaan.

Aku juga sudah jarang ketemu ibuku. Tiap hari dia bekerja di pabrik. Kadang kalau dia berangkat pagi-pagi pulangnya malam, atau kalau dia berangkat siang, pulangnya tengah malam atau bahkan dini hari. Ibuku bilang, meskipun batuk-batukan dan kadang terkena demam, ibu harus kerja lembur supaya dapat uang banyak. Karena gajinya nggak cukup. Apalagi sekarang ayahku kan sudah nggak kerja lagi.

Meskipun aku perempuan, aku merasa bahwa aku tidak boleh manja. Aku sudah tidak lagi sekolah, jadi waktu luangku cukup banyak. Aku harus membaginya dengan adik-adikku yang masih kecil-kecil. Kamu tahu, adikku tuh masih kecil dan belum bisa mengurus dirinya sendiri. Sebagai anak tertua, aku harus mau mengasuhnya.

Aku juga merasa kalau aku tidak boleh tinggal diam. Aku harus memakai waktu luangku untuk membantu orang tuaku mencari penghasilan. Aku sempat bingung, karena anak seusiaku, seusia kita-kita ini, belum bisa mengerjakan apa-apa. Aku kemudian memilih untuk mengamen. Aku memakai “kecrekan” punya Bang Jaji. Tiap hari aku harus bayar lima ratus rupiah sebagai uang sewa. Aku jadi tahu susahnya mencari uang, meski cuma recehan.

Oya, tahu nggak? Uang yang kupakai untuk beli perangko surat ini didapat dari mengamen seharian lho. Aku sengaja menyimpannya uang membeli perangko supaya bisa membalas suratmu. Kata petugas di kantor pos, perangkonya hanya perangko biasa, jadi terkirimnya lama. Nggak apa-apa khan Yo…? Makanya keterlaluan kalau kamu nggak membalas surat ini, hehehe…

Aryo, mungkin bulan depan kamu tidak bisa mengirimi aku surat lewat alamat rumah ini. Kata ayahku, kita harus segera pindah karena sewa bulanan rumah ini cukup mahal. Bukan cuma itu, yang punya rumah sudah datang menagih-nagih tunggakan yang belum dibayar. Ayah dan ibuku berniat mencari kontrakan yang lebih murah. Nanti aku kabari kamu tentang alamatku yang baru. Itupun kalau dapat. Kalau nggak? Aku nggak tahu harus gimana?

Gitu dulu ya, Yo…, aku tunggu balasannya lho

Nunik

Setelah membaca surat Nunik, Aryo tertegun beberapa saat. Dia tidak percaya kalau masalah seberat itu hinggap di pundak Nunik, perempuan ceria yang menjadi teman mainnya sejak kecil.

“Yo…, Aryo…kamu makan dulu. Sebentar lagi kamu kan mau main lagi.” Tiba-tiba suara Ayahnya meluncur dari arah dapur. “Sini makannya bareng Ayah, tadi ayah masak tumis kesukaanmu….”

Aryo masih tertegun. Dalam hati dia berujar, “Aku masih lebih beruntung…,”

Bandung, 4 Mei 2004

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s