Tinah dan Pemberontakannya


“Selain dengan pemberontakan, tidak ada lagi harapan yang bisa dituai”
Tinah. Lengkapnya Ngatinah. Umur baru delapan belas. Kerja di pabrik sepatu. Pergi ke kota selepas SMP. Dukuh yang senyap dia tinggalkan, dan Mundo, kerbau satu-satunya warisan bapak digadaikan sudah. Cita-cita melanjutkan sekolah telah dia tumpas seiring dengan melangitnya harga pendidikan. Kebuntuan hidup dalam kesuraman dan saat-saat tidak pasti untuk menunggu jodoh yang entah kapan datang telah dia hilangkan. Di bawah dengus kereta ekonomi yang panas. Jakarta dengan lantang dia tantang.
Tinah tidak sendiri. Paling tidak, Surtiyem, Tarsih, Iyam, dan Mimin sudah lebih dulu pergi. Perjumpaan setiap habis lebaran menyemaikan keinginan. Kota berikut gemerlapnya memang menggairahkan, meski kabar buruk dari mereka yang dipecundangi tidak kalah getirnya. Penasaran yang semakin menguat. Jakarta menjadi magnet yang teramat kuat. Pikiran untuk pergi pun tidak tertahan. “Mumpung masih muda,” pikirnya. “Syukur-syukur Jakarta mau berbaik hati untuknya. Memberikan pekerjaan atau menunaikan harapan.”
Pada lebaran ketiga selepas SMP, Mimin, karib kecilnya sejak SD, datang membawa kabar. Perusahaan sepatu tempatnya bekerja sedang membuka lowongan. Tinah disodori selembar pengumuman yang lengkap dengan cap dan nama perusahaan. Timbang-timbang sambil melihat-lihat raport sekolah dan nilai ijazah, Tinah yakin bisa diterima.
“Pakai sogokan, nggak?” tanya Tinah pada Mimin.
“Tenang, aku kenal personalianya. Aku juga kenal satpamnya. Semua pasti beres,” jamin Mimin.
Kabarnya, sekarang perusahaan-perusahaan tidak lagi mencari orang yang punya pengalaman. Asal mau bekerja dengan bayaran yang mereka tentukan, siapa pun bisa diterima. Tinah masih berusaha meyakinkan diri. Dilihatnya lagi raport SMP dan ijazahnya yang dua tahun ini menganggur.
“Bener ya Min, nggak pakai sogokan. Karena kalau pakai sogokan segala, aku nyogok pakai apa?” Tinah masih terkesan ragu.
“Ya, paling kamu dimintai uang rokok sama satpam,” jelas Mimin meyakinkan.
Selesai mengurus kartu kuning di kabupaten, surat pindah domisili untuk membuat KTP di Jakarta, dan surat-surat lain yang dibutuhkan, Ngatinah naik kereta ekonomi dan berangkat ke kota. Tekadnya semakin kuat. Apalagi Emak, meski dengan berat hati, telah mengijinkannya pergi.
“Pabrik itu kayak apa, Nak? Kok ya suka makan sawah? Emak heran, setiap tahun ada saja orang yang berangkat ke kota. Katanya mau cari kerja di pabrik. Kerbau dan sawah mereka jual untuk bisa pergi ke kota. Makin banyak orang pergi kerja di pabrik, makin banyak sawah dan kerbau yang harus dijual. Kalau sawahnya habis, orang desa makan apa? Masak makan pabrik?” Emak menggerutu pelan.
Emak memang pantas khawatir. Di desa saja sebatangkara, apalagi di kota. Di kota, tidak ada sanak atau saudara. Tidak ada yang bisa jadi pelindung apalagi penerang. Sebentar lagi Tinah akan pergi ke kota, masuk ke surga yang paling jahanam sekaligus neraka yang paling tenteram. Tempat di mana uang adalah telah menjadi dewa yang mengisi mimpi semua orang. Di mana, amal baik saja tidak akan berarti kalau tidak diikuti dengan korupsi. Karena sana, hanya dengan uang hasil korupsi, maka amal baik bisa dibeli. Di sana, pintar saja tidak cukup kalau tidak punya badan yang seksi. Karena hanya dengan punya badan seksi, maka otak bisa terisi.
“Emak tenang saja, aku pasti baik-baik saja,” demikian ujar Tinah dalam hati. Tinah hanya tersenyum. Dia paham keinginan emak yang sungkan melepasnya pergi. Hari ini, Dialah satu-satunya orang yang kini menemani emaknya yang sebatang-kara. Tapi desa sudah begitu kerontang. Selain dengan pemberontakan, tidak ada lagi harapan yang bisa dituai. Tidak lagi bisa menjanjikan. Dia tetap harus pergi sembari berharap emaknya sehat. Dia berjanji untuk pulang tiap lebaran.
Emak yang tak sanggup melawan kehendak zaman. Tinah harus dilepas meski harus tertegun. Sekali lagi, khawatirnya emak bukan tanpa alasan. Kota bukanlah tempat yang mudah ditebak. Ada yang pulang dengan kepala tegak dan penuh wibawa. Ada juga yang pulang dengan kepala tertunduk. Emak yang suka was-was, senantiasa berdoa, berharap pada Yang Kuasa agar anaknya tidak menjadi bagian dari mereka yang pulang dengan kepala tunduk.
Sebagai orang yang sudah tua, Emak sadar. Sepetak sawah yang hasilnya tak seberapa dan beberapa rupiah upah potong rumput dari haji Kadir tidak akan bisa membendung derasnya arus kebutuhan hidup yang semakin menggunung. Tinah memang harus pergi. Paling tidak, itulah cara yang tersedia bagi Tinah, untuk sedari dini menyelamatkan diri, sebelum masalah datang mengganyang masa depan.
Kini sudah pasti, Tinah telah pergi. Pergi menuju kota, untuk mengadu nasib di suatu pabrik. Pergi dari dunia lama untuk menjadi bagian dari dunia baru. Dunia yang kini dihuni oleh jutaan perempuan-perempuan tanggung dari desa-desa yang mungkin memiliki harapan yang sama dengan dia.
Aroma kumuh perkampungan buruh dan udara yang sudah tercemar bahan-bahan busuk tidak lagi menjadi penghalang. Bekerja di kota sudah bukan menjadi sesuatu yang haram, bekerja hingga malam sudah bukan lagi hal yang terlarang. Pabrik sudah membongkar nilai-nilai, membalikkan ketidakmungkinan, melemparkan kekusaman pada pasar yang garang.
Lihat saja setiap kali pergantian shift. Bis-bis karyawan atau angkutan-angkutan umum penuh dengan jejalan buruh-buruh perempuan. Mereka pulang ketika sebagian datang, mereka datang ketika sebagian pulang. Setiap pergantian shift, rombongan buruh yang berjejal keluar gerbang, memancing sopir-sopir angkot tersenyum senang, seperti harimau melihat kijang. Bagi mereka, meski setoran juga tidak kepalang, namun harapan masih tetap harus dipegang. Dapur harus terus berasap, sebab hidup masih panjang.
Malam itu, lepas lembur shift siang. Hampir pukul 00:00. Tinah yang letih bergegas keluar gerbang. Tarmin, laki-laki tersayang, sekaligus tukang ojek yang gagah sudah menunggu untuk mengantarnya pulang. Senyumnya melumatkan keletihan. Tinah bergerak mendekat. Diraihnya helm dari tangan Tarmin, setelah itu motor bebek roda dua mengantarkan mereka pulang.
Ojek-ojek lain yang hanya tersenyum cengengesan. Mungkin iri dengan dua pasang yang tengah mabuk kepayang. Jalan berboncengan sambil tak lupa berpelukan. Lain lagi dengan Darja, pengamen biskota yang penuh tato dan berulangkali masuk Poskota. Mungkin karena pengaruh anggur orang tua yang ditenggaknya petang tadi, Darja berteriak-teriak menggerutu. Persis seperti pecundang yang pulang karena kalah perang. Orang bilang, Darja menjadi setengah gila setelah di-PHK. Tinah dan Tarmin melenggang tanpa aling, melewati batang-hidung Darja yang dengusnya seperti naga.
Dua tahun sudah Tinah bekerja. Memang belum lama, namun cukup untuk membuatnya paham tentang bagaimana sebenarnya kota. Gemerlap yang berderang nyatanya hanya kiasan yang menyelimuti kusamnya kehidupan. Gedung-gedung mewah yang menjulang, tidak lebih seperti wayang, yang hanya mampu menunjukkan sebagian kebenaran. Kekumuhan disela wajah-wajah orang-orang kalah menuturkan apa yang sebenarnya sedang terjadi. Suara-suara bising dari para pedagang kakilima yang bersaing, sirna tanpa suara, lenyap ditelan tongkat-tongkat aparat yang mengabdi pada penguasa.
Di mata Tinah, ulama-ulama di kota sudah banyak yang lupa dengan ajaran kitab suci. Jangan sebut-sebut ilmuwan atau akademisi. Mungkin emak yang hanya lulusan SR pun tahu ilmu-ilmunya sudah basi karena sebagian besar diperoleh dengan cara plagiasi. Apalagi birokrat dan politisi. Setiap hari di televisi mereka saling-sikut berebut kursi, tak peduli tubuh telah membengkak dan bau terasi. Mungkin karena kebanyakan makan uang hasil korupsi. Korupsi! Ya, lagi-lagi korupsi! Dilakukan di semua posisi dan disaksikan rakyat yang setiap hari kekurangan nasi.
Tinah resmi bekerja setelah melampaui tiga bulan percobaan. Upahnya tak seberapa. Paling-paling hanya seper-sepuluh, hmm..mungkin seper-duapuluh dari harga pasang-pasang sepatu yang diproduksinya tiap hari. Jangan Tanya layak atau tidakkah upah yang dia terima, sebab jawabannya sudah pasti tidak. Tinah melihat, untuk makan dia sendiri yang masih lajang saja masih kekurangan, apalagi teman-temannya yang sudah berkeluarga dan punya anak. Biaya sekolah sekarang sudah sangat mahal. Biaya berobat juga begitu. Ditambah lagi dengan biaya beli minyak, beras, gula, yang semakin lama malah makin mahal. Jadi, sudah pasti jauh lebih kurang.
Kekurangan memaksa Tinah untuk berhemat. Tidur berempat, kadang berlima, dalam ruangan 3×5 meter yang disewanya berpatungan. Listrik dan air harus dipakai sehemat mungkin. Jangan harap bisa jalan-jalan atau rekreasi ketika kerja lembur menjadi tawaran yang tidak bisa ditolak. Statusnya pun masih kontrak. Kata teman-temannya, undang-undang sekarang memang tidak pandai bicara tentang hak.
Tinah merasa lebih beruntung dibanding Mimin. Dia memiliki Tarmin yang gagah. Meskipun hanya seorang tukang ojek, namun Tarmin adalah satu-satunya anak juragan “kontrakan” yang tanahnya luas tidak terhingga. Tarmin adalah jaminan hidupnya, manakala dia bermasalah. Sementara Mimin, terpaksa hidup menjadi gundik Pak Tarjo, kepala keamanan pabrik yang pensiunan kapten. Meski hidup Mimin terlihat hidup lebih baik, dengan rumah kontrakan sendiri dan imbalan-imbalan lain dari Pak Tarjo, namun Tinah merasa lebih terhormat. Paling tidak, dia tidak perlu melayani nafsu Pak Tarjo yang gendut dan berbadan bau.
***
Lebaran masihlah jauh ketika bencana itu muncul tiba-tiba. Manajemen secara sepihak memutuskan untuk menghentikan operasional perusahaan dan merumahkan seluruh karyawan. Berita itu muncul semenjak perundingan antara buruh dengan pengusaha berbuah kebuntuan. Keduanya bersikukuh pada sikap masing-masing dan menyatakan tetap berlawan.
Tinah sadar. Umur kerjanya sudah mulai mendekati ajal. Namun diam dan apalagi panik bukanlah jawaban. Keputusan sepihak dari sang pemilik modal itupun harus dilawan. Meski susah dan pasti akan menuai cibiran, berjuang untuk melawan adalah satu-satunya pilihan. Sempat muncul keraguan, manakala dia menilik statusnya di perusahaan yang belumlah diangkat menjadi pegawai tetap. Selama ini, meski sudah dua kali diperpanjang, Tinah dan ratusan buruh lainnya masihlah berstatus kontrak sementara. Undang-undang yang ada tidak memang sudah tidak pandai bicara tentang hak. Tidak ada memberikan perhitungan yang pasti bagi buruh-buruh sepertinya.
“Jangan ragu, kita harus bersatu!” demikian suara getir mbak Dwi, pimpinan serikat buruh tingkat perusahaan. Tinah mengangguk setuju. Sudah sejak dulu, Tinah ditempa perjuangan untuk hidup dan mempertahankan diri. Perjuangan adalah keharusan, meski kemenangan belum tentu sudi bertandang, demikian tekad Tinah.
Dengan sadar, Tinah berada di barisan depan buruh-buruh yang melakukan aksi pendudukan. Hampir setiap hari, gerbang utama pabrik dihadangnya dengan badan. Lagi-lagi, Tinah tidak sendirian. Setiap hari, puluhan hingga seratusan orang buruh menyatakan diri untuk tetap bertahan. Memang tidak sampai semua buruh ikut bertahan. Namun paling tidak, masih ada yang sukarela bertahan. Itulah kenyataan.
Dalam waktu singkat, Tinah yang ndeso dan lugu berubah menjadi pemimpin yang tegas dan tidak pernah meragu. Hampir semua hal dia kerjakan. Mulai dari menyiapkan dapur umum sampai menjadi petugas P3K. Mulai dari petugas jaga sampai menjadi utusan buruh untuk perundingan. Semuanya dilakukannya dengan sadar, meski banyak yang ragu pada kesadarannya.
Sebulan, dua bulan, tiga bulan, empat bulan, enam bulan sudah berlalu. Tinah dan buruh-buruh lain masih tetap bertahan, meski sudah banyak mengalami penyusutan. Beberapa kali intimidasi berhasil digagalkan. Desakan aparat dan preman pun berhasil dikalahkan. Seluruh instansi sudah didatangi, mulai dari bupati sampai menteri. Namun hak tidak kunjung datang. Tuntutan untuk dipekerjakan kembali dan mendapat upah ganti rugi pun tidak pula terpenuhi. Banyak sudah yang pesimis. Prosesnya sudah mulai matang, sebentar lagi masuk pada penghabisan. Dari rangkaian peristiwa inilah, Tinah semakin tahu banyak sekali yang tidak beres di negeri ini.
***
Malam itu, selepas pulang aksi dari DPR.
“Nah! Tinah! Tinah!” Tarmin setengah berteriak sambil mengendap-endap dari tembok samping pabrik.
Tinah terkejut. “Mas Tarmin? Kenapa di situ…?” ujar Tinah sedikit berbisik.
“Sssttt…, cepat ke sini, aku mau bilang sesuatu?” balas Tarmin.
Tinah masih bimbang. Gara-gara dia melihat Darja bergerak mendekat, Tinah pun buru-buru berjalan ke arah Tarmin. Sewaktu Tinah menoleh, dia melihat Darja menghentikan langkah sambil memberi aba-aba dengan mengangkat bahu dan merentangkan kedua telapak tangannya.
“Ada apa, Mas?” tanya Tinah.
“Ee…, ini, tadi ee…pamanmu telepon ke rumah. Dia bilang, emakmu sakit keras. Iya, emakmu sakit keras. Kamu harus pulang,” jawab Tarmin sedikit gugup.
“Sakit keras? Kemarin…, Mimin bilang emak sehat. Kok tiba-tiba sakit keras?” Tinah penasaran.
“Entahlah, pokoknya pamanmu bilang begitu. Kamu diminta lekas pulang,” Tarmin berupaya meyakinkan.
“Apa karena emak mikirin aku ya?” Tinah masih penasaran.
“Hee..h! pokoknya begitu, kamu harus pulang, kalau bisa sekarang!” desak Tarmin.
Tinah bingung, kali ini dia dijepit oleh dua keputusan yang sama-sama berat. Dia merasa tidak bisa meninggalkan teman-temannya, sementara dia juga tidak mau membiarkan emak yang sudah sebatang-kara menderita sendirian.
“Ayo cepat, kita harus segera pergi!” Tarmin seperti sudah mendapat angin.
“Aku ta’ bilang sama teman-teman dulu ya…,” Tinah meminta.
“Ah, kau lama sekali. Ayo sekarang harus sudah pergi!” Tarmin semakin mendapat angin. “Nanti aku yang bilang sama teman-temanmu. Kamu harus pergi karena emak sakit keras. Mimin ada di situ khan? Aku yang akan bilang padanya.”
“Nggak, mas tunggu di sini. Aku mau bilang sama teman-teman,” Tinah memaksa.
Usai memberitahu teman-teman, Tinah segera beranjak kembali menghampiri Tarmin. Keduanya pun berlalu dengan mengendarai motor bebek ke arah rumahnya Tarmin. “Lho kok ke sini Mas?” Tinah heran. “Kamu tidur disini dulu, supaya besok bisa cepat-cepat pergi ke Stasiun. Biar aku yang ke kontrakanmu, bawain barang-barangmu,” jelas Tarmin.
Tinah menurut, dia langsung jalan ke arah kamar Tarmin. Rumah itu sepi, meski biasanya ramai itu dikunjungi orang-orang yang tak dikenalnya. Kata Tarmin, orang-orang itu adalah rekanan bisnis ayahnya.
Pagi-pagi Tinah sudah bangun, bergegas mandi dan ganti pakaian. Barang-barangnya sudah siap tinggal dibawa. Dia heran ketika hendak melangkah keluar. Rumah yang tadinya sepi, dengan cepat berubah ramai. Orang-orang berbaju hitam yang tidak dikenalnya tidur bertumpuk-tumpuk di hampir semua ruangan. Termasuk ruang tamu dan dapur. Beberapa kerat botol minuman berceceran di mana-mana. Menebarkan aroma yang sudah pasti tidak akrab di hidung Tinah.
“Ada apa ya?” Tinah keheranan.
“Sssttt, kamu jangan berisik. Jalan pelan-pelan jangan bikin bunyi,” bisik Tarmin.
Perjalanan dari Tangerang ke Senen tidaklah sebentar. Dia harus gonta-ganti angkutan sampai akhirnya naik buskota yang sesak langsung ke arah Senen. Teriakan kondektur dan penjaja asongan tidak dia hiraukan. Ingatannya masih pada teman-teman yang semalam ditinggalkannya. Bagaimana pun, dua tahun kerja dan berbulan-bulan aksi memberi kesan yang kuat di benak dan rasa Tinah. Sesekali muncul raut muka emak yang terlihat kuyu dan sedih. Kedua bayangan itu sama-sama kuat dan melahirkan pertentangan dalam pikiran Tinah.
Buskota berjalan lamban dihadang pawai anak-anak merayakan tujuhbelasan. “Oya, ini hari kemerdekaan. Tujuh belas Agustus. Tapi apanya yang merdeka?” gumam Tinah dalam hati sambil meneropong pada selembar bendera kecil yang merahnya mulai pudar, sementara putihnya semakin kusam. Bendera itu berkibar persis di samping cerobong asap pabrik yang terus-menerus mengepulkan kekelaman jaman. “Kasihan bendera itu, warnanya hilang, habis diludahi modal yang asalnya dari negeri orang,” Tinah senyum kecut.
Tak terasa, bus yang ditumpangi telah sampai di stasiun Senen. Setelah membeli tiket dan membayar peron, Tinah dan Tarmin duduk menanti kereta ekonomi. Seorang penjaja koran datang menghampiri, menawarkan berbagai berita yang mungkin sudah basi.
Sebuah gambar di halaman depan koran ibukota menarik perhatian Tinah. “Rasa-rasanya seperti gambar si Darja,” Tinah dalam hati. “Iya, itu si Darja. Lha, kok ada berita kasus teman-teman…,” Tinah yang penasaran berseru memanggil penjaja koran.
“Poskota berapa bang,” Tinah meminta.
“Seribu, mbak,” jawab penjaja koran sambil memberikan satu eksemplar Poskota.
Setelah meraih, mata Tinah langsung tertuju pada berita tentang Darja. Dia terdiam cukup lama. Matanya sembab, hatinya hancur.
Sesaat kemudian dia menoleh ke arah Tarmin. Tatapan dengan airmata mengusik Tarmin. “Ada apa?” tanyanya.
“Mas, kamu sudah berbohong. Kamu pembohong! Pergi jauh-jauh dariku,” ujar Tinah sambil menangis. Tarmin mulai gusar, sandiwaranya terbongkar sudah.
“Ada apa?” desak Tarmin. Matanya langsung tertuju pada koran yang ada di tangan Tinah. Segera diraih dan dibacanya.
“Nah, aku…, tunggu dulu, kau…, aku…, dengarkan penjelasanku,” bujuk Tarmin.
Tinah tidak bergeming. Airmata mengucur semakin deras. Perasaannya hancur. Sambil menggigit jari, Tinah berujar pelan. “Pergi…”
Tarmin berdiri dan mengumpat, lalu pergi.
“Ini soal keyakinan, bukan sekedar main-mainan,” bisik Tinah dalam hati.

Syamsul Ardiansyah
Tanah Air, 1 Agustus 2006

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s