Mangga Pak Karman


“Lariiii……!” Tiba-tiba Andi berteriak. Dia berlari tunggang langgang. Aku langsung meloncat turun dari pohon mangga yang dinaikinya dan ikut berlari. Sementara Aryo, yang sejak tadi menunggu di bawah pohon tampak kebingungan dan ikut berlari. Sayup-sayup terdengar teriakan Pak Karman. Aku sempat menoleh, dia berteriak sambil mengayuh-ayuhkan tangan.
Yang tertinggal hanyalah Kevin. Badannya yang gemuk membuatnya tidak selincah aku, Andi, dan Aryo. Dia masih tersangkut diantara batang-batang pohon, tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menangis.
Hari itu, Aku, Andi, Kevin, dan Aryo berencana mencuri buah mangga di kebun Pak Karman. Mereka ngiler melihat mangga-mangga besar dan lebat yang saat ini sudah masak menguning. Sebenarnya mereka tidak berani mencuri mangga. Apalagi mangga di kebun Pak Karman. Kata orang-orang kampung, dulunya Pak Karman adalah orang yang suka membunuh orang.
Dia pernah dipenjara selama beberapa tahun. Istri dan anaknya meninggalkan dia ketika dia masih di penjara. Sekarang dia hidup sendiri di sebuah rumah berdinding bilik di pinggiran desa dekat hutan. Tidak ada orang desa yang berani mendekatinya. Bahkan kalau dia sakit, tidak ada mantri yang mau mengobatinya. Bukan hanya itu, dia juga tidak diperbolehkan bersembahyang di mesjid desa. Kata orang-orang desa, orang seperti Pak Karman tidak layak hidup di antara orang-orang desa.
Aku pernah sekali berpapasan dengannya. Saat itu, dia habis mandi di sungai. Aku tidak tahu kalau dia Pak Karman sampai ayahku memberitahu. Pak Karman orangnya tinggi besar. Kulitnya hitam. Kumis dan janggutnya tebal seperti tidak terurus. Rambutnya gimbal sebahu. Sepertinya, beliau bukan orang yang suka banyak bicara. Dia tidak mengucapkan sepatahkata pun ketika berpapasan denganku. Padahal, di banding rumah orang-orang yang lain di desaku, rumahku adalah rumah yang paling dekat dengan rumah tempat tinggalnya.
“Di! Andi…! Tunggu!” teriakku yang berlari persis di belakang Andi. “Di! Tunggu!” Aku mengulanginya.
“Kenapa….?!” Tanya Andi sambil menoleh.
“Si Kevin masih tertinggal!”
“Hah! Gawat nih!” Andi langsung menghentikan larinya.
“Iya! Kita harus segera kembali,” kataku. “Kita harus menyelamatkan si Kevin.”
“Mana si Aryo?!” tanya Andi.
“Dia selamat, dia lari dibelakangku,” jawabku sambil menoleh ke belakang. “Itu dia.”
Sambil tersengal Aryo berusaha berkata, “Kenapa sih?! Kenapa harus lari?!” ujarnya sambil membungkuk memegangi perut.
“Ceritanya nanti, sekarang kita harus menyelamatkan Kevin,” kataku.
“Memangnya ada apa dengan Kevin?” tanya Aryo.
“Udah jangan banyak tanya, pokoknya kita harus menyelamatkan Kevin,” tegas Andi.
“Di, gimana kalau kamu lapor sama orang tuanya…,” usulku.
“Jangan, bisa bahaya kita. Nanti orang-orang desa datang ramai-ramai ke sana.” Sanggah Andi.
“Lantas?” tanyaku.
“Kita balik lagi ke kebun Pak Karman.” Tegasnya.
“Gila kamu, udah hampir maghrib nih…?” tanyaku.
“Iya, kita kan sudah sepakat, apapun yang terjadi, resiko kita tanggung bersama.” Kata Andi berusaha meyakinkan.
“Kamu yakin, Ndi?” Kini giliran Aryo yang bertanya.
“Gimana lagi, kita harus yakin….”
Kami harus berpikir cepat saat itu. Dengan setengah yakin dan setengah berlari, kami berjalan kembali ke kebun Pak Karman. Begitu dekat dengan pohon mangga di kebun Pak Karman, tidak ada tanda-tanda adanya Kevin.
“Yo…, Aryo kamu lihat ke dalam rumah, intip saja lewat jendela. Barangkali Kevin disekap di dalam.” Andi membagi tugas. “Kamu Jod, kamu lihat ke gudang di belakang dan intip ke dapur, mungkin Kevin disekap di dapur. Aku akan lihat ke dalam sumur, aku takut Pak Karman mengikat tubuh Kevin dan mencelupkannya ke dalam sumur.”
“Oke,” kata Aryo.
“Sip,” kataku.
“Kita langsung ke sini lagi setelah tahu apa yang ada di dalam,” kata Andi sambil menunjuk titik pertemuan. “Ingat, jangan ada yang teriak. Semua informasi harus diberikan di sini, tidak pakai teriak-teriak”
Segera kami berjalan sambil mengendap mendekati titik sasaran yang disepakati. Aku sempat melihat Aryo yang berbadan kecil berusaha keras melongok-longok melalui jendela. Aku konsentrasi di gudang belakang yang sepertinya berdekatan dengan dapur. Sementara Andi berjalan ke arah sumur. Dia masuk.
Aku tidak menemukan Kevin di gudang dan dapur. Aku langsung menduga, mungkin Kevin disekap di tempat lain. Langsung saja aku kembali ke titik pertemuan semula. Begitu sampai, Aryo sudah ada duluan. Tidak begitu lama Andi datang.
“Yo…kamu lihat Kevin?” tanya Andi.
“Tidak, ruangan itu kosong. Ruang kamar juga kosong,” lapor Aryo.
“Kamu Jod, kamu lihat Kevin?”
“Sama, kosong, tidak ada Kevin, juga tidak ada Pak Karman.” Kataku. “Kamu sendiri?”
“Di sumur tidak ada orang, tidak ada bekas-bekas orang masuk ke sana, lantainya kering, embernya masih menggantung di atas.”
“Jadi?” tanya Aryo tegang.
“Pencarian kita kali ini gagal. Sekarang sudah hampir Adzan Maghrib. Kita pulang dulu, sehabis mengaji kita kumpul di pos ronda pinggir kampung.”
“Kok pulang?” tanyaku.
“Kita harus pulang, karena kalau tidak orang-orang kampung akan curiga.” Kata Andi.
“Jadi, kita cari Kevin malam-malam….” Tanya Aryo.
“Terpaksa….,” tegas Andi. “Hei…jangan takut, kita pasti bisa.”
Aku berjalan pulang dengan lesu. Pikiranku kacau sekali. Aku terus membayangkan Kevin. Aku takut ada apa-apa dengan dia. Bagaimana pun, dia adalah sahabatku. Sahabat sejak kecil. Kevin, Kevin, maafkan aku teman…
“Darimana saja Jod, kok sore begini baru pulang?” sapa Ayahku saat aku masuk ke dalam rumah.
“Anu Pah…,” aku gugup. “Habis kerja kelompok di rumah Andi”
“Ooo…,” jawabnya pelan. “Kok lesu, PR-nya susah-susah ya?”
“Eh…iya Pah, PR matematika…,” jawabku sekenanya.
“Ya sudah, mandi sana, keburu magrib,” kata Ayah.
“Iya pah…,”
“Oh iya…, Jod nanti habis maghrib kamu ke rumah Pak Karman ya…,”
“ke rumah pak Karman?” bisikku dalam hati. Aku menjadi tegang begitu ayah menyebut nama Pak Karman.
“Bilang sama dia terima kasih atas mangganya, sekalian kamu pulangkan keranjang bambu mangga yang tadi dia gunakan untuk membawa mangga-mangga itu kemari.”
“Hah…?” aku tidak habis pikir.
“Iya, kalian sudah berteman akrab ya? Tadi beliau kemari bersama temanmu, itu lho si Kevin yang gemuk. Dia kelihatan senang sekali, mulutnya penuh dengan mangga.” mamaku turut menimpali. Dia berjalan dari dapur membawa rantang yang sudah dipenuhi makanan. Sambil duduk didekatku dia berkata, “Sekalian kamu bawakan rantang makanan yang sudah mama siapkan. Gitu-gitu, Pak Karman adalah guru mama dan papa waktu masih kecil.”
Aku lega sekaligus lemas….
Pandeglang, 11 April 2004

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s