Liburan


“Hari ini ujian terakhir, minggu depan bagi raport, habis itu liburan. Liburan? Liburan! Mmm…tapi….liburan kemana ya? Kemarin ke Ancol, Dufan sudah, taman mini sudah, mmm… kemana ya? Aha! Ke Puncak! Puncak yang belum,” Kevin kegirangan dalam hati. “Bilang sama mama aahhh…”
“Tapi, tunggu dulu, raportku bagus nggak ya?” tiba-tiba Kevin yang masih duduk di kelas enam itu mengernyitkan dahi. Kemudian kepalanya tengadah ke samping. Dia berusaha mengingat-ingat hasil ujiannya minggu itu. Jari tangan sebelah kiri menggaruk-garuk kepala.
Sementara itu jari tangannya sebelah kanan seperti menghitung. “PPKN mudah, Bahasa Indonesia apalagi, IPS nggak masalah, hmmm… m-a-t-e-m-a-t-i-k-a perasaan bisa tuh…, kira-kira nilainya bagus nggak ya?”.
Kevin yang bertubuh gemuk itupun kemudian mengingat-ingat yang lain. Dia hendak memastikan apakah dalam semester ini dia pernah bolos atau tidak; pernah lalai mengerjakan PR atau tidak; pernah berbuat masalah atau tidak. ”Rasanya aku nggak pernah bolos tuh,” kembali dia berbisik dalam hati. “Oke, kita lihat nanti…”
Siang itu, Kevin sedang duduk di beranda sekolah. Dia menunggu mamanya yang biasa menjemputnya. Dalam hati, Kevin sudah berniat untuk mengusulkan liburan ke puncak pada mamanya. Tentu saja, usulan itu bukan tanpa syarat. Mama dan papa Kevin selalu memintanya belajar dengan sungguh-sungguh sebelum meminta sesuatu.
Tidak lama, klakson mobil sedan warna biru berbunyi. Mamanya datang. Kevin tersadar dan langsung menghampiri. Pintu mobil sebelah kiri langsung terbuka, Kevin pun masuk dan tak lama sudah ada di dalamnya.
“Vin, bagaimana ujiannya tadi?” Tanya mama.
“Enteng Ma,” jawab Kevin bangga sambil menunjukkan aba-aba dengan jari kelingkingnya.
“Sungguh…,” goda mamanya.
“Sungguh…,” Kevin sejenak terdiam. “Kevin kan anak mama yang paling baik, pasti bisa Ma, siapa dulu mamanya…” Kevin tersenyum.
“Hm…, pasti kalau begini, kamu ada maunya? Hayo anak mama pengen apa sekarang…?” Mama menangkap siasat Kevin.
“Ehm…anu ma…,” Kevin masih malu-malu.
“Ayo, mumpung masih di jalan. Mau dibeliin es krim ya?” desak mama.
“Ehm…ehm…bukan, Ma,” jawab Kevin sambil berpura-pura batuk.
“Jadi penasaran, kamu mau apa?”
“Kalau mintanya liburan, boleh nggak, Ma?”
“Oo…, itu tokh, ke mana?”
“Kalau ke puncak boleh nggak, Ma?”
 “Hmm…, begini ya, kalau kamu dapat rangking satu lagi mama janji akan meminta papa untuk mengajak kamu liburan ke puncak,” jawab mama.
“Horee….” Kevin berteriak.
“Eit tunggu dulu, dapat rangking lagi nggak?”
“Tenang, Ma…, pasti dapat deh”
“Iya, tapi kalau nggak, kita tunggu liburan semester depan ya?”
Kevin mengangguk. “Ma, boleh nggak Kevin ajak teman-teman…?”
“Siapa saja tuh?”
“Jodi, Andi, sama Aryo…” jawab Kevin.
“Asal mama dan papanya setuju, mama sih boleh saja…” mama sambil tersenyum.
“Asyii…k!”
selama ini, liburan memang bukan masalah buat Kevin. Sebagai anak tunggal, mama dan papanya selalu memenuhi permintaan Kevin untuk berlibur. Hampir setiap tempat yang diminta Kevin selalu dipenuhi. Kevin pun membalas kebaikan orangtuanya dengan selalu rajin belajar dan menyabet rangking di kelasnya.
Seminggu waktu yang ditunggu datang sudah. Kini giliran hari pembagian raport. Kembali, kali ini pun Kevin mendapat rangking satu. Dengan girang dia langsung memberitahukan kepada Jodi dan Andi tentang rencana liburannya. Seperti diduga, mereka semua kegirangan dan tidak sabar menunggu waktu untuk berangkat liburan. Kini, giliran mereka memberitahu Aryo.
Aryo masih kelas lima, sementara Kevin, Jodi, dan Andi sudah kelas enam. Untuk itu, Kevin, Jodi, dan Andi harus menunggu sampai waktu pembagian raport kelas lima selesai untuk memberitahu Aryo.
Saat itu, Aryo sedang duduk di jajaran bangku paling depan. Dia sedang mendengarkan ceramah singkat dari walikelasnya. Beberapa lama kemudian, mulai pembagian raport. Aryo mendapat giliran dipanggil paling terakhir.
Saat Aryo berjalan ke luar ruangan kelas, Kevin, Jodi, dan Andi langsung menyambut dengan muka senang.
“Ada apa sih?” Tanya Aryo.
Kevin, Jodi, dan Andi berpandang-pandanganan dan langsung tertawa. Mereka langsung menggandeng pundak Aryo. Kevin buka mulut sambil tetap tersenyum. “Tunggu ya, mamaku mau bicara sama kamu…”
Mereka pun berjalan ke arah mamanya Kevin. Sementara yang lain senyum-senyum kegirangan, Aryo satu-satunya anak yang tampak masih kebingungan.
“Begini Yo, Bapak, Kevin mau mengajak Aryo untuk liburan ke puncak. Kalau bapak mengijinkan dan Aryo mau, besok kita sudah bisa berangkat ke Puncak naik mobil kami…,” jelas mamanya Aryo.
Aryo tidak langsung menjawab. Dia menoleh ke arah bapaknya. Kevin, Jodi, dan Andi berpandang-pandangan.
“Kalau Aryo mau, besok tante jemput, kita berangkat sama-sama,” lanjut mamanya Kevin.
“Aryo, ayo jawab,” desak bapaknya.
Aryo hanya diam dan menggeleng. Semua jadi kebingungan. “Maaf tante, sekarang Aryo tidak bisa ikut. Mungkin lain kali saja…” jawabnya pelan.
“Aryo, tidak baik menolak kebaikan orang,” desak bapaknya.
“Iya Yo, kamu belum pernah ke Puncak khan?” Kevin ikut mendesak.
“Maaf Vin, aku nggak bisa,” jawab Aryo pelan.
“Ya sudah, lain kali Aryo ikut ya…,” mama Kevin menyudahi.
Seminggu kemudian Kevin, Jodi, dan Andi sudah kembali dari liburan. Mereka saling bercerita riang dalam perjalanan, namun saat sudah hampir tiba di kotanya, mereka sudah terlelap ketiduran. Sementara papa dan mama yang duduk di bangku depan masih terjaga sambil sesekali berbicara. Setelah memasuki kota, Papa Kevin mengarahkan mobilnya ke sebuah pasar. Kata mama Kevin, ada yang harus dibeli untuk makan nanti malam. Saat itu, Kevin, Jodi, dan Andi sudah terbangun.
“Ma, Mama…itu khan Aryo…ngapain dia di situ?” Kevin tiba-tiba menyahut.
“Oya, mana?” Tanya Mama.
“Itu, dia berdiri depan toko itu,” jawab Kevin sambil mengarahkan jari telunjuknya.
“Iya, Pa berhentinya depan toko itu saja,” ujar Mama.
Mereka pun berhenti persis di samping toko yang dimaksud. Mama dan Kevin, disusul Jodi dan Andi langsung turun dan menghampiri Aryo yang sedang berteduh dari hujan di depan sebuah toko. Rupanya Aryo sedang melindungi tumpukan Koran yang dipeluknya agar tidak terkena tetesan air hujan.
“Yo…! Aryo!” Kevin berteriak memanggil.
Aryo sudah merasa dipanggil, tapi dia berpura-pura tidak mendengar. Dia hanya tertunduk seperti hanya melihat-lihat jari-jari kakinya.
“Hey! Sedang apa di sini?” Tanya Kevin sambil menyentuh pundak Aryo dari belakang.
Aryo terkejut, dia gelagapan. Gugup dan bingung mencari dalih.
“Eh, Kevin, Tante…, Jodi, Andi…, baru pulang liburan ya?” Tanya Aryo berupaya mengalihkan perhatian.
“Jawab dulu pertanyaan kami,” desak Jodi.
“Kamu jualan Koran?” Tanya mama Kevin.
Karena diberondong pertanyaan dan tidak mungkin mengelak lagi, Aryo pun mengangguk.
“Bapakmu tahu?” Tanya mama Kevin.
Aryo hanya menggeleng.
“Untuk apa?”
Aryo diam sejenak kemudian menjawab pelan. “Untuk melunasin buku pelajaran tante. Kata bu guru, raport saya masih belum bisa diambil kalau saya masih berhutang sama sekolah. Bapak baru bisa melunasi uang sekolah, bukunya belum. Katanya harus lunas sebelum masuk semester depan…”
Kevin, Jodi, Andi, dan Mama hanya diam.
Pandeglang-Bandung, Agustus 2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s