Catatan Kusam (Alm) Gembel


Senja itu, di atas kardus bekas bungkus botol minuman, seorang lelaki tua duduk persis di bawah lampu jalan. Sebuah buku catatan yang kumalnya sekumal dirinya, dia keluarkan dari sebuah tas yang selalu dibawanya. Catatan itu dibukanya pelan. Lembar demi lembar dia sapih dengan hati-hati. Sepertinya dia sadar, satu sobekan pada kertas itu akan menjadi satu tebasan bagi hidupnya yang tinggal sebatang.Kata demi kata, rekaman hidup yang barangkali tak seberapa, dia lamatkan dengan bacaan yang cermat. Senja yang mendekati penghabisan, membuat matanya yang rabun menjadi semakin tidak awas. Meskipun sesungguhnya, kerabunan itu tidaklah mampu mengusik kekhusyukannya: membaca setiap patah sejarah yang sesungguhnya sudah terpahat dalam kepalanya. Tapi tetap saja, setiap kata, kalimat, dan alinea dalam buku itu memiliki makna yang tiada terganti.
Kendaraan-kendaraan yang menderukan kebisingan, menyorotkan cahaya-cahaya lampu yang menyilaukan, justru memberikan kesyahduan dalam senja yang bising. Di tengah lalu-lalang orang-orang dan tatapan-tatapan aneh yang bisa memancing kebimbangan, sedikitpun lelaki tua itu tidak sungkan. Tetap dalam duduk setengah bersila. Berjejer bersebelah-sebelahan dengan sebuah tas berwarna hitam yang senantiasa bungkam.
Jemari tangannya berhenti pada suatu kisah. Sepasang mata yang mulai renta didekatkan. Hari itu….

Karawang, Djuli ‘64
Inilah kali pertama aku bertugas meliput kedjadian di luar kota. Redaktuurku meminta laporan mendalam tentang kegiatan ‘turba’ wanita-wanita gerwani disebuah dusun dipelosok Karawang. Aku tidak berangkat sendiri. Aku ikut rombongan kedua, bersama beberapa orang pewarta dari ibukota.
Awalnya aku ragu untuk ikut apalagi meliput. Aku tahu, gerwani jalah underbouw P-K-I, sebuah partai yang kabarnya mentjita-2kan revolusi. Tjita2 aneh jang tidak lain dari mimpi. Tjita2 jang sampai kini tak kumengerti.
Aku tahu, dalam trip ini ada beberapa wartawan yang djuga anggota PKI. Setidaknja dari gaja bitjara dan pilihan-pilihan kata. Sengadja aku meminta berhenti manakala datang waktu shalat. Aku memaksa untuk shalat, meski beberapa dari mereka paham kalau aku bukanlah muslim yang ta’at. Aku tjuma ingin menjampaikan perbedaan dengan mereka. Itu sadja!
Tiba di Tjikampek, perdjalanan dengan kendaraan harus berhenti. Kini giliran djalan kaki ke arah selatan. Susah pajah kami mentjapainja. Tiba di desa yang ditudju sekitar hampir maghrib. Desa itu miskin sekali, tidak ada sedikitpun ornamen kemewahan seperti yang ada di kota. Djangankan itu, tempat untuk mandi dan buang air pun tak ada. Orang2nja kurus dan djarang yang bisa bitjara bahasa Indonesia.
Aku dikenalkan dengan Ponirah, salahsatu kepala regu. Dialah yang memanduku selama didesa. Dia katakan padaku program2 jang dikerdjakan gerwani disitu. Menurutku tidakada jang istimewa. Semuanja bisa dibatja dari brosuur jang sudah diberikan tempohari.
Satu2nja yang istimewa adalah PONIRAH. Kuputuskan untuk menulis tentang dirinja. Dia tidak setudju. Tapi setelah kuminta izin pada kepala rombongan gerwani, diapun menurut sadja.

Lelaki itu berhenti membaca. Rupanya tidak mudah baginya, mengenang satu kisah pertemuan yang barangkali paling mengesankan dalam hidupnya. Sejenak kepalanya menengadah, menarik nafas sambil berusaha untuk menenangkan diri. Namun air di matanya masih mengucur, jantungnya berdebar kencang, dan mulutnya rapat mengunci tangis. Sedalam itukah lukanya?

Djakarta, 17 Agustus ‘64
Usai meliput pawai perajaan pesta republik, kembali aku bertemu dengan Ponirah. Ini kali jang kedua. Perempuan belia usia 23 jang berkebaja merah itu terlihat djauh lebih dewasa. Terus-terang, cahajanya memintjut hatiku.
Setengahgugup, kuhampiri dia. Perempuan muda berkebaja itu sedikitpun takluput dari perhatianku. Dengan sedikit ragu, kusapa dia. Berharap dia masih mengenalku, meski dulu aku ketus. Dia menjapa dengan sahadja. Begitu luarbiasa. Berdandan namun tetap terlihat sederhana, membuatku seperti melihat surga.
Dengan beberapa rupiah, uang bonus yang kudapat dari kantor, kuberanikan diri mengadjaknja pergi. Kami berdjalan ke setasion kota, kemudian berbintjang lajaknja dua sedjoli yang sedang djatuh tjinta.
Ja, aku djatuhtjinta. Aku djatuhtjinta pada pandangan kedua.

Lagi, dia menarik nafas panjang dan berusaha menenangkan diri. Dia sadar, waktunya tak lama lagi. Malam semakin larut dan hari semakin gelap. Lelaki tua itu semakin bergantung pada sorot lampu jalan meskipun beberapa kali dibuyarkan oleh cahaya mobil-mobil atau motor yang bergerak semakin rapat. Air mata masih mengalir ketika dia kembali menyapih lembar-lembar kertas yang sudah berwarna cokelat itu.

Djakarta, 8 Maret ‘65
Sengadja aku meminta agar aku yang meliput Peringatan Hari Perempuan se-Dunia yang jatuh pada hari ini. Pon bilang, hari ini adalah hari kemenangan bagi perempuan. (Kemenangan?). Dikatakannja padaku, hari ini ada peringatan bersama ibu-ibu istri buruh-buruh djawatan kereta api di Djatinegara. Ja, aku memang hanja tjari2 alasan. Aku tak hendak meliput perajaan itu. Aku hanja hendak menemui Ponirah. Lama sekali kami tak djumpa. Ingin kukatakan padanja apa-apa jang semestinja sudah aku katakan djauh2 sebelumnja.
Tapi dia terlalu sibuk. Mondar-mandir kesana kemari. Aku yang mulai djenuh mulai mengarang-ngarang puisi pendek. Sampai akhirnja dia datang menjapaku. Saat itu sudah hampir sendja dan aku harus segera kembali untuk menuliskan berita. Puisi pendek itu kuberikan padanja sebagai tandamata. “Selamat hari perempuan,” bisikku kepadanja.
Usai bekerdja dengan sedjuta gundah. Aku pulang pada hari mendjelang malam. Tak kusangka, Ponirah sudah duduk didepan. Dia utjapkan, terimakasih. Tandamata dariku adalah yang paling terkesan baginja.

Sesaat dia berhenti, tangan kiri masih memegang buku sementara jemari telunjuk tangan kanannya mengusap-usap foto seorang perempuan dari sebuah guntingan kliping koran. Namanya kecil dan hampir tidak terlihat, tertera di samping foto setengah badan tersebut. Di bawahnya terdapat caption; susunan kata-kata yang menerangkan identitas dari gambar yang dimaksud.

Djakarta, 30 April ‘65
Aku kerdja lembur lagi. Aku ingin segera menghabiskan semua tugasku bulan ini sembari berharap esok pagi, aku dapat tambahan uang. Aku ingin mendjadjani Pon. Aku sudah djandji, tanggal satu esok adalah hariku untuknja. Dia bilang padaku, satu Mei adalah hari kemenangan klas pekerdja. Hari kemenangan di mana pekerdja untuk pertamakali menjatakan kehendak politiknja untuk dipandang sebagai manusia. Perdjuangan untuk meraih delapan-djam kerdja perhari bukan se-mata2 kemenangan kaum pekerja, tapi kemenangan umat manusia untuk mengakhiri penghambaan dan penindasan atas manusia.
Yah…, terserah. Jang pasti, besok libur dan kita bisa berlibur, kataku padanja. Heran aku, sering sekali dia bitjara tentang kemenangan. Kemenangan apanja?

Dalam kesedihan yang sunyi, kembali dia berupaya melerai duka. Penggal-penggal pertemuan dalam jaman yang penuh dengan kegalauan itu dirangkai dengan gayanya sendiri. Dia adalah saksi hidup pergolakan, yang melihat pertarungan dari sebuah sudut yang mungkin hanya bisa dimengerti oleh segelintir orang yang melihat keseluruhannya dengan mata kemanusiaannya.

Djakarta, 1 Oktober ‘65
Aku menulis lagi mendjelang pagi. Meski letih dan sangat ingin ke peraduan dan berbaring disamping kekasih tersajang, namun kisah ini harus segera kuukir. Aku hendak bertjerita tentang tjinta. Tentang rasa jang saat ini melambungkan kami berdua. Tentang djembatan yang menghiraukan sekian djuta kilometer perbedaan. Tjinta memang lafadz yang sakti. Dia mampu membius siapa sadja jang dia temui. Demikian pula dengan kami. Kami hanjalah dua sedjoli jang kuasa menentang rasa. Kami sadar sudah kelewat batas. Tapi, bukankah cinta memang tidak mengenal batas?

***

“Ya, sepertinya, itu adalah perjumpaannya yang terakhir. Kira-kira, dia tahu atau tidak nasib Ponirah setelah peristiwa itu. Coba kau baca, catatannya pada tanggal 2 Oktober?” tanya Galih padaku.
“Nggak, ini masih ada catatan lain. Masih tanggal satu,” jawabku.
“Ya sudah, tinggal dibaca tokh,” kilah Galih.

1 Oktober ’65 (12;14)
Jam tudjuh pagi aku mendapat bell dari kantor. Pemredku bilang, “hari ini ada revolusi!” Revolusi? “Pokoknya tjepat ke kantor,” dia setengah berteriak. Aku buru2 berpakaian. Kukecup kening Pon, lantas pergi.

“Iya, dia tidak tahu apa yang terjadi hari itu,” simpulku.
“Ada catatan lain nggak?” tanya Galih.
“Ada, tapi selanjutnya pendek-pendek…,” jawabku.
“Sini, biar aku yang baca,” Galih meminta.
“Nggak ada tanggalnya, yang pasti bulan November enam lima. Bunyinya…, ‘tumpas kelor! Ponirah, kau dimana?’ Terus bulan agustus enam delapan, bunyinya, ‘aku sampai di LP Cirebon, tanya-tanya tentang Ponirah. Aku malah diinterogasi tentara…’ Nih, ada lagi, bulan oktober 1970 agak panjang. Dia cerita, dia sudah sampai di LP … di Yogyakarta. tulisannya berbunyi seperti ini, ‘kata orang, tawanan gerwani semuanya dikonsentrasikan disini. Tapi sekali lagi, aku tidak berhasil menemui Ponirah’.
Aku diam saja saat Galih membacakan tulisan-tulisan pendek dalam lembar-lembar berikutnya. Mungkinkah dia, lelaki itu adalah ayahku? Mengapa ceritanya tentang Ponirah, seperti mengisahkan ibuku?
“Hey! Tugas kalian adalah memandikan mayat itu agar bisa lekas dikubur, bukan malah berleha-leha! Cepat keburu malam!” bentakkan Pak Tarjo membuyarkan lamunanku. Kami pun bergegas memandikan mayat Pak Tua sambil mencari siasat untuk mencuri buku hariannya. 

Pandeglang, Agustus 2005

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s