Aryo Anak Tukang Becak


Namanya Aryo, anaknya kurus, kulitnya agak hitam tapi bersih, dan rambutnya hitam, lurus, dan dicukur poni model penyanyi The Beatles. Dia anak baru kelas lima, baru masuk seminggu yang lalu. Menurutku, dia orangnya pendiam, padahal anak-anak kelas lima terkenal tukang bikin gaduh sekolahan. Kalau diperhatikan, orangnya lucu juga. Selalu pakai baju seragam agak longgar dengan tas yang kegedean. Aku baru tahu dan mulai memperhatikan dia sejak diberitahu Andi. Katanya, gitu-gitu dia anak orang kaya. Sebab tiap pagi dan siang pasti antar jemput pake becak. Bener juga, tadi pagi aku lihat dia datang dianter pake becak. Kemarin dia pulang dijemput pake becak. Becaknya itu-itu terus, nggak ganti-ganti. Pasti becak langganan!
Hm… sebagai satu-satunya jagoan di sekolah ini, aku pasti tahu, dan harus tahu. Lagi pula, aku sudah kelas enam. Pasti siapapun takut samaku. Siapa tahu, dia bisa diperes, kayak si Willy anak kelas empat atau si culun Didik anak kelas lima. Syukur-syukur kalau dia mau setor terus-menerus, bisa-bisa ikut-ikutan jadi orang kaya neh, pikirku sambil senyum-senyum sendirian.
Eh, itu si Andi sama si Kevin. “Di! Andi! Kesini sini!”, aku sedikit berteriak sambil memainkan tanganku. “Kamu juga, Vin! Sini! Cepat, keburu masuk!”, aku kembali berteriak. Hehe…mereka pasti takut aku apa-apain, makanya bergegas lari kearahku.
“Ada apa Jod?” tanya Andi.
“Sini, aku bisikin?” Jawabku. Andi mendekat, namun Kevin sepertinya masih jaga jarak. “Kamu kesini juga Vin” ucapku sedikit memaksa.
“Sorry Jod, uangku sudah habis tadi beli bakso, jadi nggak bisa setor”, ujarnya sambil menunduk.
“Heh! Kubilang kesini, ya kesini! Jangan bawel! Udah, urusan setor besok lagi, sekarang ada urusan yang lebih penting!” desakku.
Meski terlihat sedikit ragu, Kevin mulai bergerak mendekat. Jadilah sudut ruangan kantin sekolahan jadi tempat pertemuan kami bertiga. Aku ingin mengajak Andi dan Kevin mendukung rencanaku.
“Dengerin, kalian tahu anak baru kelas lima, namanya Aryo?” tanyaku membuka pembicaraan. Andi dan Kevin mengangguk.
“Kayaknya dia anak orang kaya, tiap hari pasti antar jemput pakai becak. Terus becaknya itu-itu aja. Pasti orang tuanya mampu, makanya mampu menyewa becak langganan,” lanjutku. “Bener begitu khan, Di”, aku meminta Andi memperkuat ucapanku.
“Emm…, sebenarnya aku kurang berani mengatakan itu. Karena, masak sih anak orang kayak tampangnya kayak gitu?” kata Andi.
“Tolol, sekarang itu, orang-orang kaya di kota-kota besar, suka berlaga kayak orang miskin, supaya nggak diperesin sama orang-orang. Buktinya si Nasir, namanya saja sudah kampungan. Tapi lihat rumahnya, wuih kayak istana. Besar, luas, dan isinya barang-barang mewah. Jangan gampang ditipu sama tampang!” aku bantah keraguan Andi. “Menurutmu gimana, Vin?”
“Heh…, emang tadi ngomongin apa? Sorry aku nggak perhatiin omongan tadi,” jawab Kevin polos.
“Ya, ampun, Vin, Vin, makanya kepalamu tuh jangan cuma diisi sama dodol, jadi tolol tuh otak.” Aku kesal dan Kevin langsung tegang. “Sekarang dengar baik-baik, aku tanya, si Aryo anak orang kaya khan?!”
Dengan muka tegang Kevin menjawab, “Iya…ya dia anak orang kaya!”
“Dengarin, si Kevin yang tololnya minta ampun saja bilang kalau si Aryo tuh anak orang kaya, masak kamu yang otaknya agak beneran dikit, ragu kalau dia anak orang kaya? Udah ah, sekarang dengerin rencanaku.
Aku berbisik ke telinga mereka masing-masing. Aku sampaikan rencanaku. Kemudian aku tanya ke mereka, ada yang tidak dimengerti? Seperti biasa, Andi langsung mengangguk dan Kevin minta diulang. Setelah itu dia mengangguk. Mereka sudah paham, pikirku.
Tidak lama bel berbunyi. Aku, Andi, dan Kevin langsung lari masuk kelas. Sekarang pelajaran Bu Lina, guru matematika. Buru-buru supaya tidak sampai keduluan bu guru, bisa-bisa dihukum berdiri di depan kelas sampai siang.
Besok adalah hari yang ditentukan. Besok siang, pas teng jam istirahat, aku akan laksanakan rencanaku. Si Andi dan Kevin aku minta jaga-jaga, biar kalau ada apa-apa mereka langsung bertindak. Masalahnya, malam ini aku Menggigil kedinginan ya? Badanku rada sedikit panas. Kayaknya aku akan kena demam. Tapi itu jangan jadi halangan, tekadku. Malam ini aku minum obat penurun panas dan langsung tidur. Besok pasti sembuh.
Bel istirahat berbunyi. Aku bergegas ke kantin. Si Andi dan Kevin langsung masuk ke kelas lima. Mereka kusuruh memanggil si Aryo. Biasanya pas jam istirahat kayak begini, dia lebih banyak diam di kelas ketimbang main-main di lapangan atau makan di kantin. Dasar orang kaya, pasti gara-gara dilarang mamanya makan di kantin atau main sama anak-anak sekolahan ini tuh. Makanya dia lebih baik duduk di kelas sambil baca-baca. Sok lu!  Anak mami lu!
Setibanya di kantin aku langsung memesan bakmi spesial yang paling mahal. “Tenang saja, nanti anak mami itu yang bayar hehehe…”, bisikku dalam hati. Gawat! badanku kok mulai meriang lagi, pake ada keringat dingin pula. Aku merasa menggigil kalau angin sepoi menerpaku. Tapi semuanya kutahan. Aku harus menuntaskan rencanaku.
Tidak lama, Aryo datang dengan kawalan Andi dan Kevin. Aryo yang berbadan kecil itu seperti tidak berkutik dibawah pengawasan Andi dan Kevin yang tinggi-tinggi dan besar-besar. Segera mereka kusuruh membawa Aryo ke belakang kantin. Operasinya di belakang, bisikku ke Andi dan Kevin.
“Sana, kamu sungkem sama Jodi jagoan di sekolahan ini!” Andi mendorong Aryo ke arahku.
“Cukup, berhenti di situ! Kamu yang namanya Aryo?” tanyaku sedikit membentak.
“Iya, saya yang namanya Aryo,” jawabnya singkat.
“Kamu anak pindahan dari mana?” aku mulai menyelidik.
“Dari Jakarta,” kembali dia menjawab dengan singkat.
“Wah…anak kota nih, kamu pasti orang kaya,” aku mulai menuduh.
“Tidak, aku bukan an…,” belum sempat dia menjawab aku langsung menyela.
“Sudah, sekarang dengarkan aku. Aku minta kamu membayar bakmi yang barusan aku makan. Sekalian the botol dan lima buah gorengan. Udah gitu, beliin juga bakmi buat Si Andi dan Kevin. Buat gantiin jasa mereka yang sudah jagain kamu,” tandasku.
“Tapi bang, aku tidak punya uang…,”
“Ah bohong! Sana cepet bayar!” aku mulai kesal sekaligus cemas. Jangan-jangan benar, dia tidak punya uang. “Pakai dulu ongkos becak ntar siang, pasti diganti sama mamamu!”
“Benar bang, sumpah, aku tidak punya uang…” akunya.
“Ah…!” aku mulai melayangkan tinjuku ke arah mukanya. Tanpa kuduga dia mengelak, dan melakukan pukulan balik. Lambungku kena. Sialnya, si Andi dan Kevin tidak berbuat apa-apa. Mereka hanya menonton.
Baru setelah aku jatuh mereka berusaha memegangi tangan Aryo. Aku marah karena anak kecil kelas lima itu ternyata mampu menjatuhkanku dengan hanya satu pukulan. Aku berdiri dan mulai memukul muka dan perut dia. Baru dua kali pukulan, terdengar suara Pak Oman, guru olah raga. Dia membentak sambil menunjuk dan berjalan ke arahku. Keras sekali dia menjewer telingaku.
Dibawanya aku ke ruang kantor, ditanyai, dan dikenai hukuman. Aku harus meminta maaf sama Aryo, mentraktirnya bakmi di kantin, berdiri di depan kelas sampai jam pulang sekolah, dan harus menghadap Pak Oman setiap hari selama seminggu, dan selama seminggu pula tidak boleh menghabiskan jam istirahat di kantin, tapi di ruang kantor. Huh, semakin pening kepalaku jadinya!
Dengan terpaksa, aku menjalani hukuman hari pertamaku dengan berdiri di depan kelas sampai pelajaran selesai. Nanti, sebelum pulang sekolah, aku harus meminta maaf sama Aryo. Sehabis pelajaran, badanku semakin meriang. Kepalaku berat, pusingnya minta ampun. Aku penglihatanku mulai membayang, aku melihat anak-anak yang berjalan seperti menjadi dua. Demamku semakin meninggi.
Aku sempat melihat Aryo berdiri di dekat gerbang sekolah. Dia menunduk dan sepertinya mendengarkan omongan tukang becak yang biasa mengantarnya pulang pergi ke sekolah. Begitu sampai didekatnya, aku mulai sempoyongan dan akhirnya jatuh pingsan. Aku tidak ingat apa-apa lagi.
Sudah tiga hari aku di rumah sakit. Kata dokter, aku terkena demam berdarah. Aku bosan tidur terus di rumah sakit. Pemandangannya itu-itu saja, aku tidak boleh jalan-jalan dan harus terus tiduran di atas ranjang.
Sore itu, tiba-tiba. “tok, tok, tok…” Terdengar bunyi pintu kamar diketuk. Ibuku bangun dan membukakan pintu. Aku melihat Aryo dan tukang becak itu berdiri di depan pintu. Tampak Aryo menjinjing satu kantong plastik hitam yang berisi jambu batu yang sudah matang.
“Aku mau minta maaf sudah memukulmu tempo hari. Aku salah, seharusnya aku tidak memukulmu, kamu khan sedang sakit.” Ujar Aryo membuka pembicaraan. “Ini, kami membawakan ini untukmu, jambu batu yang sudah masak bisa mempercepat penyembuhanmu,” lanjutnya sambil tersenyum. “Aku ingin kamu cepat sembuh.”
“Aku baru tahu,” jawabku pelan. “Pantas, aku selalu dipaksa makan jambu batu.”
“Iya, aku dikasih tahu dokter yang pernah merawat ibu dan kakakku,” jawab Aryo sambil menunduk.
“Sekarang gimana, kakak dan ibumu sudah sembuh?” tanya ibuku.
Aryo tidak menjawab, dia hanya menggeleng sambil menunduk. Tangan tukang becak itu terlihat bergerak memegangi kepala Aryo yang terlihat sedih.
“Ibu dan kakaknya Aryo sudah wafat beberapa minggu yang lalu,” ujar tukang becak itu. “Kami tidak mampu membayar biaya rumah sakit. Ongkos beli obat di sana mahal, sementara saya hanya tukang becak”.
“O…,” aku hanya termangu. “Ternyata, Aryo hanya anak seorang tukang becak…,” bisikku dalam hati sambil menyesal.

Bandung, 28 Maret 2004

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s